Saya lagi ngebut? Pastinya.
Mudah-mudahan nggak terlalu maksa.
Klik vote dulu ya sebelum baca.
Happy reading!
***
Mika mengulurkan sebuah amplop pada Nayla. Nayla hanya bersedekap menatap amplop tersebut.
"Itu apa?" tanya Nayla tanpa mau menyentuh amplop itu.
"Ikut gue ke London, Nayla. Liburan semester lo lumayan lama. Di sana, gue akan kenalin lo sama beberapa musisi hebat. Lo bisa belajar banyak dari mereka," terang Mika. Nayla menatap Mika, tidak mengerti jawaban Mika.
Mika membuka amplop yang masih berada di tangannya dan mengeluarkan isinya.
"Ini tiket pulang pergi lo ke London," kata Mika sambil mengeluarkan lembaran pertama. "Dan ini, ini adalah surat pengantar supaya lo bisa ikut winter class di sana. Gue udah daftarin lo."
Nayla menatap kedua lembar itu dengan pandangan kosong.
"Buat apa itu semua?" tanya Nayla. "Lo sendiri tau kalau passion gue bukan musik, nggak seperti lo. Kenapa lo berpikir gue akan bersedia ikut?"
Mika menyimpan kembali kedua lembar itu ke dalam amplop. Dia menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Nayla.
"Gue tau gue terlambat, Nayla. Terlambat menyadari bahwa ada seseorang yang sangat menyayangi gue dengan tulus. Tapi lo ada bersama orang yang salah," kata Mika.
"Andre, maksud lo?" tanya Nayla. Mika mengangguk.
"Gue udah bilang kan, kalau dia nggak serius sama lo, dia hanya menjadikan lo taruhan egoisnya ketika dia menang kompetisi melawan gue," kata Mika. Nayla menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar penjelasan Mika.
"Mika, please.... Gue mau punya kenangan yang baik tentang lo," kata Nayla.
Gimana pun juga Mika akan tetap jadi cinta pertama gue. Itu kenyataan yang gue nggak bisa ubah. Tapi masalah dengan siapa gue ingin bersama, itu adalah hal yang berbeda. Gue memilih Andre. Nayla memantapkan pilihannya. Selamat tinggal, cinta pertama.
"Andre bersikap sangat baik sama gue. Gue senang bisa menjadi orang yang dia pilih dalam hidupnya, terlepas dari gimana gue dan dia bisa bersama. Jadi, tolong, tetaplah jadi sahabat gue, itu pun kalau lo mau. Cuma itu yang bisa ditawarkan buat lo," lanjut Nayla. Tidak ada pemaksaan dalam kata-katanya, dia hanya menegaskan pilihannya pada Mika. Tidak ada hal lain yang Mika bisa lakukan sekalipun Mika memaksa.
"Gue cuma minta satu kesempatan, Nayla. Satu kesempatan untuk membuktikan kalau gue lebih baik dari Andre," kata Mika. Mendengar itu, Nayla tersenyum pada Mika.
"Sikap lo sekarang semakin menguatkan pilihan gue, Ka. Sekarang gue sayang sama Andre, dan gue serius menjalin hubungan sama dia. Lagipula, gue nggak bisa menerima orang yang hanya ingin membuktikan dirinya lebih hebat dari orang lain. Andre sayang sama gue dengan caranya sendiri. Gue yakin siapa saja bisa menyayangi gue kalau mereka mau, termasuk lo. Tapi, bukankah perasaan gue yang paling penting sekarang?"
"Gue yakin lo masih punya perasaan buat gue, Nayla. Tatapan lo ke gue masih sama. Lo senang berada bersama gue," kata Mika.
"But I left you, didn't I?" tembak Nayla.
"Tapi—"
"Mika, kita harus tau kapan kita perlu berubah. Gue nggak bisa bilang perasaan gue buat lo berhenti. Tapi perasaan itu berubah. It's just something that stays behind me," kata Nayla. "Sorry, gue—"
"Don't be sorry, Nayla," potong Mika. Dia berusaha menekan perasaan kecewanya. "Gue ngerti. It's OK, it's really OK." Meski berkata semuanya baik-baik saja, Mika tidak bisa menatap Nayla saat mengatakannya.
"Uhm, oke," gumam Nayla.
"Kalo gitu, gue pulang sekarang," pamit Mika. Dia mengulurkan amplop yang dipegangnya pada Nayla. "Just keep it for me, please. In case, you change your mind." Nayla terpaksa menerima amplop tersebut.
"Lo tau ini nggak akan mengubah apa-apa, kan, Ka?" tanya Nayla, sambil mengacung-acungkan amplop dari Mika.
Mika hanya mengangguk kecil, mengiyakan pertanyaan Nayla.
"Gue anter lo keluar," ajak Nayla. Lagi-lagi, Mika hanya mengangguk.
"Gue pulang dulu. Lusa gue balik ke London. Keluarga gue ikut ke sana untuk liburan," kata Mika. "Ng...gue harap, kita nggak lost contact seperti tiga tahun belakangan ini."
"You have my number, Ka," kata Nayla sambil mengangguk.
Mika menatap dalam mata Nayla untuk terakhir kalinya sambil tersenyum pada Nayla. Nayla membalas senyum itu.
"See you when I see you, Nayla."
"Thank you, Mika!"
Mika masuk ke dalam mobilnya diiringi dengan tatapan Nayla.
So I guess this is the real goodbye to Mika. Perpisahan sesungguhnya dengan perasaan gue ke Mika. Gue harap Mika juga bisa menemukan kebahagiaan seperti gue menemukan kebahagiaan gue bersama Andre.
***
Be prepare for the last part.
Cheers,
Astrid
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Fiksi RemajaHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
