Part 22 - Partner

511 73 24
                                        

Hubungan Nayla dan Andre memasuki bulan ke lima. Nayla masih setia dengan les biolanya dan Andre beberapa kali memberinya sesi privat tambahan saat mereka sedang kencan. Andre juga tidak pernah meminta Nayla untuk berhenti bermain biola walaupun dia tau alasan di baliknya. Namun, Andre tau diri, membuat Nayla berhenti bermain biola bukanlah cara yang tepat untuk menekan rasa cemburunya yang kadang-kadang timbul ketika Nayla begitu bersemangat belajar lagu baru.

Nayla mampir ke apartemen Andre karena Nayla ingin membantu Andre untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi music recital yang akan diadakan satu minggu lagi, tepat di akhir semester mereka. Well,  tidak membantu banyak sebenarnya. Nayla hanya lebih banyak jadi penonton yang antusias melihat Andre bermain biola. Sungguh, Nayla akhirnya paham mengapa permainan biola Andre begitu memukau, karena bukan hanya skill bermain biola yang bagus tetapi juga Andre menambah warna pada permainannya dengan perasaan yang dalam.

Andre menyudahi lagu terakhirnya sambil memejamkan matanya berusaha untuk membuat suara gesekan biolanya terdengar halus, pelan, dan rapuh. Nayla tersenyum senang padanya ketika Andre membuka matanya dan menurunkan biola itu.

"Gue mau dong diajarin lagu tadi, Dre!" kata Nayla. "Bagus. Gue suka."

"Lo suka sama lagunya, atau sama yang perform?" usik Andre iseng. Nayla menatap Andre dengan pandangan menilai.

"Hm...terlalu serakah ga kalau gue bilang suka sama dua-duanya?" tanya Nayla. Andre mengangguk sambil tertawa senang.

"Ga boleh serakah, Nay!" kata Andre. "Pilih gue aja ya." Nayla tertawa.

"I did, I am, and I will. Puas?" kata Nayla sambil mengambil music piece dari music stand di depan Andre dan mempelajari lembaran itu.

"Mau mainin di keyboard?" tawar Andre pada Nayla.

"Gue pengen coba di biola, Dre," jawab Nayla. Andre menghela napas.

"Begini deh susahnya punya pacar yang bisa dua alat musik. Selalu bisa milih. Iri, kadang-kadang," kata Andre. Andre mengulurkan biolanya pada Nayla. Nayla menerimanya dengan senang.

Nayla mencoba lagu itu. Mata berkilat-kilat semangat di setiap nada yang dihasilkannya. Andre membantu Nayla supaya Nayla bisa tetap berada di tempo yang tepat.

"Not too bad, Nay. Lo belajar banyak dari Mella," puji Andre usai Nayla memainkan lagu itu. Nayla mengembalikan biola itu kepada Andre. Andre menyimpannya ke dalam tas biolanya. Nayla menjatuhkan diri di sofa.

"Tapi kadang gue kangen lo yang jadi guru gue," kata Nayla.

"Suruh aja Mella sakit lagi," ujar Andre asal, menjatuhkan dirinya juga di samping Nayla. Lengan kirinya merangkul Nayla. Kata-kata barusan membuat Nayla mencubit gemas pinggang Andre. "Duh...duh...sakit, Nay!" Meski demikian, Andre tertawa.

"Ga bakalan konsen juga kalo lo yang ngajar, sebenernya," aku Nayla. "Lo galak banget masalah penghayatan. Gue sampe takut ga bakalan lulus ujian gara-gara lo yang ngajarin gue untuk beberapa pertemuan."

"But then you fell in love with me." Tatapan mereka bertemu. Nayla tersenyum. Andre membalasnya. "Kapan tepatnya?" tanya Andre. Nayla tampak berpikir. Dia sendiri tidak tahu kapan perasaan itu muncul. Bisa jadi di saat pertama Andre mau berkenalan dengannya waktu pertama kali mereka bertemu. Atau ketika mereka liburan bareng di vila Ari? Atau waktu-waktu lain di antaranya?

"Ga tau. Yang pasti waktu lo minta gue fokus sama lo, gue udah suka aja," kata Nayla.

"Saat itu,  lo masih suka sama orang lain juga?" tanya Andre, sangat berhati-hati. Dia tidak mau mengganggu suasana hati Nayla yang baik, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Nayla melirik Andre dengan ekor matanya, sebal.

Tuh 'kan bener, mood-nya langsung berubah, pikir Andre.

"Yakin mau dibahas nih?" tanya Nayla.

"Gue penasaran, Nay," jawab Andre. "I'll be good, don't worry." Andre mengelus pelan kepala Nayla. Nayla beringsut manja dan menyandarkan kepalanya ke bahu Andre.

"Gue bohong kalo gue bilang saat itu gue udah ga kepikiran dia sama sekali. Tapi, suka? Hm... Entah ya, Dre. It's been years since I met him," kata Nayla.

"Sekarang gimana?" tanya Andre. "Apa gue cukup bisa membuat lo memaafkan masa lalu lo dan juga teman-teman pemusik?" Nayla menoleh untuk menatap Andre. Tangan kirinya terulur untuk membelai lembut pipi Andre.

"Lebih dari cukup, Dre!" jawab Nayla. "Gue sendiri main musik 'kan?"

"Lo masih kepengen kasih lihat ke cowok itu tentang kemampuan musik lo? Dan melihat dia menyesal?" tanya Andre.

"Seperti yang pernah lo bilang sama gue, gue harus fokus sama lo. Jadi, prioritas gue saat ini, ya hubungan kita," jawab Nayla. "Lo jealous ya,  karena gue masih belajar biola? Bisa tiba-tiba bahas ini. Mau gue berhenti les biola?"

"Enggak, Nay. Bukan begitu maksud gue," sanggah Andre. "Gue seneng lo belajar biola. Beneran. Malah, sebenarnya gue pengen lihat dia menyesal."

"Kalau ada kesempatan ya, Dre. Ga perlu jadi tujuan utama," kata Nayla. "Sebenernya, gue sendiri ga yakin gimana perasaan gue nanti kalo ketemu sama dia."

"You'll be okay. Ada gue," kata Andre, menenangkan Nayla.

"Lo ih, ga ada jealous-nya sedikitpun sama gue," ujar Nayla. Andre mengacak-acak rambut Nayla.

"Ga ada gunanya, Nay, jealous sama lo," kata Andre. "Lo cewek setia. Buang-buang energi aja jealous sama lo." Nayla memutar matanya.

"Males denger gombalan cap receh, Dre!" kata Nayla. Andre tertawa.

"Padahal lo duluan yang minta digombalin," balas Andre.

"Bodo ah," kilah Nayla. Nayla sudah beranjak berdiri, tetapi Andre menahannya.

"Minggu depan, perform bareng gue ya?" pinta Andre. Nayla menoleh, menatap Andre seolah-olah Andre sudah kehilangan akalnya. Buat apa Andre memintanya bermain bersama? Recital itu adalah salah satu bentuk penilaian anak musik yang disuguhkan langsung di depan siapa saja yang mau menonton mereka. Lalu Nayla punya hak apa untuk ikutan tampil? Fakultasnya saja sudah berbeda.

"Boleh kolaborasi, Nay. Gue ga mau kolaborasi sama anak musik juga. Nanti gue kalah nilai. Kalo sama lo 'kan, permainan lo bagus, tapi dosennya ga bisa kasih lo nilai karena lo bukan anak musik," jelas Andre. "Lo main piano kok, Nay."

Nayla semakin heran mendengar permintaan Andre. Nayla tau permainan pianonya bagus. Begitu juga dengan permainan biola Andre. Namun, mereka belum pernah tampil bersama dan menggabungkan kedua alat musik mereka. Akan lebih masuk akal buat Nayla apabila Andre memintanya duet biola karena pernah beberapa kali mereka main biola bersama. Kali ini, Andre meminta sesuatu yang baru.

"Mau ya?" tanya Andre. "Please?"

"Gue ga punya waktu yang cukup buat latihan, Dre. Lo tau sendiri kan semester ini tugasnya ganas-ganas. Yang mau ujian akhir semester 'kan ga cuma lo," kata Nayla. Andre cemberut.

"Kesempatan terakhir, Nay. Semester depan, kita udah kerja praktek. Semester depannya lagi tugas akhir. Lo udah pasti makin sibuk dengan kertas gambar dan komputer lo itu. Gue lagi mempersiapkan diri buat diselingkuhin sama dua benda itu," bujuk Andre dengan segala akal yang bisa dia ungkapkan pada Nayla. Nayla memutar bola matanya. Ada-ada saja pemikiran Andre.

"Ya udah deh. Gue ikut perform," putus Nayla akhirnya yang disambut dengan senyuman lebar Andre. "Tapi...jangan salahin gue kalo lo harus ngulang gara-gara gue."

"Lo ga akan mengecewakan gue, Nay!" ujar Andre. "Thanks." Andre mengecup singkat puncak kepala Nayla. Nayla hanya tersipu malu tanpa berani menatap Andre.

***
Sumpah,  ini garing banget. Kerupuk kulit aja kalah.

Thanks to spoudyoo buat inputan di penulisan ya. Mudah2an diriku ingat sampai akhir cerita dan cerita2 lainnya. Hehe😘😘😘

-astrid-

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang