Loha halo!
Saya kembali lagi dengan part baru. Udah mulai ngerasa nggak nge-feel nih dengan kisah mereka. Maaf ya. Lagi buru-buru mau diselesaikan sebelum publish cerita baru lagi sebagai salah satu challenge project dari theWWG yang akan mulai tanggal 7 Desember 2016 nanti.
Mohon doanya aja deh saya mah. Plus jangan lupa klik vote-nya ya. Hihihi
Mudah-mudahan next part akan final. Kalaupun tidak, 2 part lagi deh setelah ini. Hahaha.
Please enjoy and wait for my new upcoming story.
Cheers,
Astrid
***
Nayla membuka matanya dengan pelan. Kepalanya mendenyutkan rasa sakit yang teramat sangat. Dia meraih jam yang ada di meja nakas dan melihat waktu saat ini. Masih jam tiga dini hari. Nayla menutup lagi matanya dan berguling ke arah lain sambil merapatkan selimutnya.
Nayla membujuk dirinya sendiri untuk kembali tidur dan mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk kepalanya. Namun, alih-alih terlelap, Nayla malah berpikiran untuk menelepon Andre dan berbicara padanya. Berbicara tentang apa saja yang melintas di pikirannya, sampai dia tertidur lagi. Dia sangat rindu mendengarkan Andre dengan suara mengantuknya yang rela menunggunya terlelap terlebih dahulu.
Andre. Nama itu terus menggema di kepala Nayla. Setelah kejadian beberapa jam yang lalu, Andre memang tidak marah-marah pada Nayla. Namun, Nayla bisa merasakan kekecewaan Andre padanya.
Harusnya gue nggak usah ketemu sama Mika. Harusnya gue ngikutin feeling gue bahwa Mika pasti punya niat yang nggak baik terhadap hubungan gue dan Andre.
Nayla membuka matanya lagi, meraih handphone-nya, mencari nama Andre dan meneleponnya. Tidak ada nada sambung, Nayla langsung disambungkan dengan mailbox, tanda Andre mematikan handphone-nya. Setengah membanting handphone-nya, Nayla mengerang frustrasi. Air matanya kini jatuh lagi membasahi pipinya.
Entah berapa lama berselang sambil terus menangis, Nayla akhirnya tertidur.
***
Andre membuka matanya. Sinar matahari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya membuat matanya silau dan menghilangkan rasa kantuknya. Dia menghela napas dan berguling ke kanan sambil menutup kepalanya dengan selimut. Dia tidak ingin bangun, hanya ingin menghabiskan waktu di atas tempat tidur saja sampai perasaannya membaik.
Ini pertama kalinya Andre dan Nayla sama-sama tidak bisa menyelamatkan keadaan. Biasanya salah satu dari mereka selalu mengalah dan memulai membujuk yang lain. Namun, saat ini Andre terlalu terluka untuk angkat bicara dan Nayla terlalu terkejut untuk bicara sesuatu.
Andre menghembuskan napasnya dengan berat. Liburan akhir semester sudah dimulai. Semua rencana pacarannya dengan Nayla sepanjang liburan kini buyar sudah dengan adanya kejadian seperti ini.
Andre menyadari kesalahannya. Harusnya dia tidak mengijinkan Nayla untuk bertemu dengan Mika, sudah pasti pacarnya itu dengan senang hati menolaknya. Namun, kini semuanya sudah terlanjur. Kata-kata Mika pada Nayla telah mempengaruhi pacarnya itu dan membuatnya bingung. Kenyataan bahwa Nayla menerima kata-kata Mika itu yang membuat Andre merasa terluka. Tidak cukupkah kebersamaan mereka sehingga Nayla melupakan perasaannya pada Mika?
Ting...tong...
Andre mengerang frustrasi mendengar bel apartemennya berbunyi. Dia menarik bantal dan menutup telinganya. Bunyi bel itu berhenti sebentar lalu berbunyi lagi semakih riuh. Andre membuka selimutnya dan melempar bantalnya ke seberang ruangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Genç KurguHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
