Part 27 - What Should I Do?

474 62 38
                                        

Keesokan harinya, Nayla memaksa Sisqa untuk makan siang bersama terlebih dahulu sebelum ujian mata kuliah terakhir mereka mulai. Tentu saja dia harus menceritakan semuanya kepada Sisqa belum Sisqa mengetahui hal ini dari orang lain. Walau sempat menolak dengan alasan mau pacaran dulu sama Felix, Sisqa akhirnya setuju.

Di sinilah mereka sekarang. Di sebuah café kecil dekat kampus.

"Nih, baca!"

Nayla mengulurkan handphone-nya kepada Sisqa. Dengan wajah kebingungan, Sisqa menerima benda itu dari tangan Nayla. Matanya membulat ketika membaca tulisan yang tertampang di dalam layar benda tersebut.

"Mika-nya Nayla?" tanya Sisqa. Sisqa lalu menoleh ke sahabatnya yang sudah menatapnya dengan tatapan putus asa. "Mika, yang itu?" Nayla mengangguk.

"Kapan?" tanya Sisqa.

"Kemarin," jawab Nayla. Dia tahu dia berhutang cerita pada Sisqa. Itu pula sebabnya dia terpaksa merengek pada Sisqa pagi tadi untuk menemaninya makan siang di luar terlebih dahulu sebelum ujian.

"Lo gila, Nay! Lo kapan putusnya sama Andre dan tiba-tiba pacaran sama Mika?" tanya Sisqa penuh emosi. Mana ada sahabat yang menyembunyikan info penting sejenis ini dari sabahatnya sendiri. Nayla tertegun mendengar kata-kata dari Sisqa.

What the?

"Gue sama Andre baik-baik aja. Kok putus?" Nayla balik bertanya. "Dan siapa juga yang pacaran sama Mika?"

"Tapi itu –"

Nayla menoyor pelan kepala Sisqa. Dia akhirnya paham bahwa sahabatnya ini salah menangkap situasi. Nayla bermaksud untuk menunjukkan pesan yang dikirim oleh Mika, bukan tentang display name yang Mika ketik sendiri. Nayla mengingatkan dirinya sendiri untuk segera mengganti display name itu dengan nama yang lebih normal, bahkan nama kontak Andre yang notabene adalah orang spesial di hatinya hanya berupa nama lengkapnya.

"Sis," panggil Nayla lembut, menenangkan Sisqa yang nyaris kalut dengan situasi ciptaannya sendiri. Sisqa menoleh, menuntut penjelasan. "Kemarin gue ketemu Mika. Jangan tanya kenapa dia bisa ada di sini, karena gue ga sempet nanya. Actually, gue ga sempet dapat info apa-apa selain nomor teleponnya ini."

"Lalu?"

"Dia ngajakin gue ketemuan," kata Nayla. "Gimana menurut lo? Gue belom respon apa-apa." Nayla mengulurkan kembali handphone-nya. Kini, Sisqa membaca baris-baris pesan yang tak berbalas dari Mika.

Mika-nya Nayla: Nayla, ketemuan yuk. Di tempat biasa dulu. Waktunya lo yg tentuin aja. Gue bebas. We need to catch up a lot of things, termasuk ttg siapa pacar lo itu.

Sisqa mengembalikan handphone itu ke Nayla.

"Sebaiknya lo ganti dulu display name-nya, Nay. Jangan sampe Andre lihat," kata Sisqa. Nayla mengangguk. Dia langsung meng-edit nama kontak Mika.

"By the way, Andre udah tahu kejadian ini?" tanya Sisqa.

"Belum," jawab Nayla.

Sisqa terdiam mendengar jawaban Nayla. Dia kembali memperhatikan Nayla yang masih asyik dengan handphone-nya.

"Lo masih punya feeling buat Mika ya?"

Puk...

Nayla sengaja menaruh handphone-nya dengan kasar, untuk mencuri perhatian Sisqa, sahabatnya itu langsung fokus menatap matanya. Dia menatap Sisqa dengan rasa tidak senang. Seenaknya saja, Sisqa main tuduh seperti itu.

"Jelas, enggak. Gue sama Andre, inget?" sanggah Nayla.

"But, you are being dishonest sama Andre, Nay," kata Sisqa.

"Gue ga bohong, gue cuma belum cerita ini ke Andre. Belum, Sis. Bukannya nggak akan. Itu beda ya," kata Nayla menekankan setiap kata yang dia ucapkan. Sisqa diam saja, masih menatap Nayla dengan pandangan penuh selidik. Dia yakin sepernuhnya, Nayla masih menyimpan perasaan ke Mika walaupun hanya sekecil biji sesawi. Tetap saja, kalau biji sesawi ini ditanam dan dirawat dengan baik dia akan tumbuh menjadi pohon besar yang kokoh.

"Well, gue bohong sih kalo bilang sama sekali udah ga punya feeling."

Nah kan! Sisqa menyesap teh hijaunya, dia butuh ketenangan setelah mendengar kalimat dari Nayla.

"Apalagi kemarin dia cium pipi gue waktu kita pisah." Nayla berusaha terdengar biasa saja. Namun, hal itu sepertinya tidak berhasil karena kata-katanya itu membuat Sisqa menyemburkan teh dari dalam mulutnya.

"Apa tadi? Lo ciuman sama Mika?" tanya Sisqa.

"Bukan ciuman! Astaga, Sis!" seru Nayla. "Dia cium pipi. Pipi!"

Sisqa mengerjap-ngerjapkan matanya pada Nayla. Sahabatnya terlihat salah tingkah. Belum lagi pipinya yang kini memerah karena membahas itu.

Tuh biji sesawinya udah di tanah dan udah disirem sama Mika sialan itu!

"Lo yang kasih tahu Andre masalah ini, atau gue yang akan bilang sama dia," ancam Sisqa. "Gila, Nay, si Andre nggak pernah berniat main-main sama lo. Lo jangan begini dong ke dia. Gara-gara Mika balik semua jadi buyar."

"Buyar gimana?" tanya Nayla.

"Lo masih naksir sama Mika," kata Sisqa. Memang benar, tetapi terlalu banyak nada menuduh dalam nada bicara Sisqa.

"Terus?"

"Terus-terus! Itu si Andre mau diapain?" omel Sisqa.

"Iya, Sis. Gue nanti ngomong sama Andre masalah ini," kata Nayla. "Lo tenang aja. Mika cuma bagian dari masa lalu kok."

"Lengkap dengan ciuman di pipi lo itu," sambung Sisqa. Nah, Sisqa tahu saja bagian yang ingin dia sensor dari Andre. Dia ingin menyimpan kecupan itu untuk dirinya sendiri. Memangnya tidak boleh?

"Tapi –"

"Nggak ada tapi, Nay! Lo cerita sama dia harus lengkap dan detail. Kalo perlu, jelasin ke dia seberapa tinggi ciuman itu bikin lo melayang!" Sisqa menjelaskan kalimatnya berapi-api. Nayla cuma bisa melongo saja dinasehati seperti itu.

"Bakalan bikin Andre sakit hati," gumam Nayla.

"What? No, Nay! Kalo lo diem dan simpan ini sendiri, itu yang bikin Andre sakit hati," kata Sisqa. "Kecuali lo emang mau bikin Andre patah hati sekalian."

"Ya enggaklah," kata Nayla. Bayangan Andre patah hati di kepala saja sudah ingin membuatnya sedih sekarang. Apalagi benar-benar terjadi? Nayla tidak sampai hati melakukannya. Menyakiti Andre sama saja menyakiti dirinya sendiri 'kan?

"Bagus deh," kata Sisqa.

"Jadi, sebaiknya gue jawab apa ke Mika?" tanya Nayla. Dari tadi pembicaraan mereka berputar di topik yang tidak menjawab tujuan pertemuan Nayla dengan Sisqa. Sisqa menghela napas.

"Mika itu temen lo dan sahabat lo, ketika gue sekolah di luar," kata Sisqa. Nayla mengangguk-angguk. "Cuma lo yang bisa jawab pertanyaan itu, Nay. Kalo memang ketemu dengan Mika hanya sebatas for the old time's sake sih, ga masalah. Anggaplah, lo setia sama Andre. –"

"Gue setia kok," potong Nayla emosi.

"Denger dulu, Nay," ujar Sisqa. "Walaupun lo setia sama Andre, lo bisa jamin Mika hanya mau ketemu demi membahas hal-hal yang terjadi selama tiga tahun kalian pisah?" Nayla diam saja.

Feeling-nya mengatakan tidak. Mika jelas-jelas punya maksud lain mengajaknya bertemu. Lihat saja, display name yang dipilihnya. Dan lagi, kecupan di pipi itu! Mika tidak pernah melakukannya kepada siapapun, kecuali Nayla. Atau sebegitukah London telah mengubah norma dalam hidup Mika?

"Saran gue, mantapkan hati lo sebelum lo ketemu sama Mika, kalo ga bisa, ya jangan ketemu lagi sama dia," kata Sisqa.

"Hm." Nayla mengangguk paham.

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang