Part 29 - Holding to the Past

471 55 40
                                        

Halo!

Setelah sekian lama ditinggal, akhirnya saya berhasil juga merampungkan part ter-no feel ini.

Please, jangan berhenti ngikutin ceritanya ya. Hehe.

Happy reading.

-Astrid-

***

Nayla tahu dia seharusnya merasa bersalah sekarang. Bersalah karena jantungnya berdebar begitu cepat ketika dia sepakat untuk bertemu dengan Mika besok. Bukan di cafe tempat mereka dulu bertemu, melainkan di SMA mereka. Namun, debaran itu di luar kendalinya. Bagaimanapun dia menyangkal, dia masih memiliki getaran itu pada Mika.

***

Mika tahu dia terlambat. Terlambat menyadari perasaannya pada Nayla. Dia merasakan jantungnya berdebar dengan keras ketika akhirnya Nayla menjawab pesannya setelah lebih dari 24 jam diabaikan begitu saja. Debaran itu pasti punya arti khusus, karena dia seumur hidup tidak pernah merasakan hal itu pada orang lain, selain Nayla.

***

Mika sudah menunggu Nayla di depan gerbang sekolah ketika Nayla akhirnya turun dari taksi yang mengantarnya. Begitu melihat sosok Mika di sana, Nayla langsung menyesali keputusannya mengiyakan keputusannya untuk mampir ke sekolah mereka. Di sana adalah tempat segudang kenangannya dengan Mika yang selama ini dia ingin lupakan.

Mereka masuk ke pelataran sekolah, masih tampak beberapa siswa di sana. Nayla melirik jam tangannya. Sudah jam 4 sore. Kegiatan belajar mengajar sudah pasti telah usai, maka dari itu tidak banyak murid yang ada di sana.

Mika menarik tangan Nayla dan membawanya ke student lounge, di mana mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama untuk ngobrol bahkan istirahat sebentar sebelum mereka melanjutkan kegiatan ekstrakurikuler mereka.

Tanpa sadar, Nayla menggenggam balik tangan Mika dan mengikutinya dengan patuh. Hatinya berdesir halus ketika menyadari hangat telapak tangan Mika menyelimuti tangan kecilnya.

Mika berhenti di sebuah piano yang ada di student lounge tersebut dan duduk di kursinya. Beberapa pasang mata siswa yang ada di sana memandang dengan rasa ingin tahu kedatangan sepasang sahabat itu yang tiba masuk tanpa seragam sekolah dan langsung duduk di depan piano.

Mika mengulaskan seutas senyum kepada Nayla sebelum dia menekan tuts-tuts piano itu.

Mika tidak memainkan potongan lagu klasik seperti yang dia kuasai. Dia malah memainkan salah satu lagi pop yang belakangan ini dipopulerkan oleh Shawn Mendes, Treat You Better.

I won't lie to you
I know he's just not right for you
And you can tell me if I'm off
But I see it on you face
When you say that he's the one that you want
And you're spending all your time
In this wrong situation
And anytime you want it to stop

Nayla hanya mendengus pelan mendengar lirik yang dinyanyikan pelan oleh Mika. Dia tahu Mika menyindir dirinya dan hubungannya bersama Andre. Mika tidak akan susah-susah belajar memainkan lagu pop yang jelas-jelas bukan seleranya.

Memasuki reff, Nayla menahan tangan Mika, mengisyaratkannya untuk berhenti.

"Dilihatin anak-anak tuh." Nayla beralasan. Memang benar, sekarang beberapa pasang mata sudah fokus ke arah Mika. Yang perempuan malah memandang Mika dengan penuh minat, salah satu dari mereka, terlihat sedikit kecewa karena Mika berhenti bermain.

Mika hanya mengangguk-angguk pelan.

"Kok berhenti?" Sebuah suara bariton rendah menyapa mereka.

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang