Part 34 - I'm All Yours

836 61 45
                                        

Mobil Andre terlihat tepat setelah mobil Mika menghilang di belokan yang sama. Nayla tidak jadi masuk ke dalam rumahnya dan memutuskan untuk menyambut Andre.

Jantungnya berdegup dengan kencang seolah itu adalah kencan pertamanya bersama Andre. Ah, bahkan kencan pertama dengan Andre tidak ada getaran sehebat ini.

Andre menyapa Nayla dengan senyumnya. Nayla membalas dengan lambaian tangannya. Rasa lega dan bahagia menyatu ketika dia melihat senyum Andre. Senyum yang sudah dia amat rindukan.

"Kamu sengaja nunggu aku di depan rumah?" tanya Andre sambil menekan kunci alarm mobilnya.

"Enggak. Kebetulan aku lagi di sini. Tadi Mika dateng, kasih ini," ujar Nayla sambil menunjukkan amplop dari Mika. Air muka Andre meredup mendengar nama Mika disebut.

"Dia sering ke sini waktu aku nggak dateng?" tanya Andre dengan kesan cemburu yang sangat kental. Kerongkongannya terasa kering.

"Ehem, maksudku, kita kan lagi libur dan dia libur--"

Nayla menyentuh lengan Andre dan tersenyum lembut padanya. Andre kehilangan kata-katanya.

"Baru hari ini dia ke sini. Selama ini, dia mencoba menghubungi aku, aku menghindar. Lebih baik begitu, 'kan?" kata Nayla. Andre menghela napas. Nayla masih bisa merasakan bahwa Andre belum percaya sepenuhnya pada jawaban itu. Tepatnya, Andre masih dikuasai oleh rasa cemburunya, sebuah rasa dari Andre yang Nayla tunggu-tunggu.

"Kamu mau tanya apa lagi tentang Mika? Aku jawab semuanya," kata Nayla.

Andre terlihat ragu. Tujuan dia datang adalah untuk berbaikan dengan Nayla setelah sekian lama menjaga jarak dengannya. Di luar kendalinya, rasa cemburu yang amat sangat menyerangnya ketika Nayla mengetahui bahwa Mika telah lebih dahulu menemuinya. Namun, dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.

"Ada yang aku perlu tau emangnya?" Andre bertanya balik.

"Kamu nggak mau tau ini isinya apa?" tanya Nayla memancing Andre. Andre jauh menggemaskan ketika dia seperti ini. Sesaat terlihat Andre ingin mengangguk. Namun, cowok itu hanya menggeleng lalu berjalan melewati Nayla menuju pintu rumah Nayla.

"Mika kasih aku tiket PP ke London dan acceptance letter untuk winter course musik di sana," seru Nayla cukup keras sehingga Andre menghentikan langkahnya.

Andre merasa mual mendengar kata-kata Nayla. Dia berbalik dan mendekati Nayla.

"Kalau kamu mau pergi, pergi aja," ujar Andre lembut tetapi suaranya bergetar. "S-soal seperti ini nggak usah minta ijin sama aku." Sama sekali tidak terdengar meyakinkan. Nayla menatap mata Andre. Jelas-jelas sorot mata cowok itu tidak senang dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Sebelum aku putuskan apa yang aku mau, boleh 'kan aku denger maunya kamu?" tanya Nayla.

Andre menghindari tatapan Nayla.

Ish, ini cowok gensinya selangit!

"Kamu pasti udah tau aku maunya seperti apa," elak Andre.

"Enggak, aku nggak tau," kata Nayla. "Kalaupun aku tau, aku tetap mau denger langsung dari kamu."

Andre menghela napas panjang. Matanya menatap mata Nayla sebelum dia mengungkapkan isi hatinya.

"It might sound harsh. Tapi, aku mau kamu buang tiket itu. Jangan mikirin Mika lagi. Lupain perasaan kamu ke dia. Kamu hanya boleh fokus ke aku aja." Andre mengungkapkannya dengan penuh emosi. Senyum Nayla semakin lebar mendengar satu per satu permintaan Andre. Dia mengangguk puas.

"Oke," sahut Nayla ringan. Dia merobek amplop pemberian Mika menjadi empat bagian dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Mata Andre membulat melihat apa yang dilakukan Nayla. Dia sama sekali tidak menyangka Nayla mengambil keputusannya secepat itu. Gadis di depannya itu menatapnya lagi.

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang