Part 14 - Incident (2)

550 82 23
                                        

Nayla mencoba bangun dan ingin istirahat di dalam vila. Nayla melihat Andre ikut bangun.

Ish, pasti mau bantuin gue lagi nih cowok. Nyebelin! batin Nayla.

"Gue bisa sendiri," kata Nayla.

"Ih, siapa juga yang mau bantu lo?" kata Andre. Dia mendahului Nayla dan membukakan pintu buat Nayla. "Gue cuma mau bukain pintu buat lo." Andre tersenyum. Nay membalas senyuman itu dengan dengusan kesal.

"Nay!" seru Sisqa sambil menghampiri Nayla ketika dia melihat Nayla berjalan masuk villa.

"Gue ga apa-apa kok, bisa sendiri," kata Nayla. Tetapi Sisqa tetap bersih kukuh untuk menuntun Nayla sampai dia duduk di sofa.

"Felix mana?" tanya Andre pada Sisqa.

"Lagi mandi," kata Sisqa. "Lo mandi duluan aja. Gue sama Felix mau nyiapin alat-alat di depan. Jadi lo nanti bisa nemenin Nay."

"Ga usah," tolak Nayla. "Kalo cuma duduk-duduk begini ga usah ditemenin."

"Nay, lo ga bakalan betah duduk lama-lama. Lo pasti nekad jalan ke sana-sini. Nanti kalo lo malah jatuh gimana?" cerocos Sisqa. "Lo itu kan penuh modal nekad. Dre, tolong ya?"

"Sip!" kata Andre. "Gue ke kamar dulu terus mandi!"

"Iya," kata Sisqa. Lalu dia duduk di samping Nayla. "Gimana? Masih sakit?"

"Ya iyalah," kata Nayla.

"Untung ya ada Andre," kata Sisqa.

"Untung? Gue keseleo karena dia. Itu sih bukannya untung. Musibah, tau ga?" omel Nayla.

"Tapi kalo ga ada dia, lo ga bakalan bisa di sini sekarang, kan ga ada yang mau gendong lo," kata Sisqa.

"Itu juga kepepet," kata Nayla. "Abisnya kaki gue sakit banget tadi dipake buat jalan."

"Yah...bagaimana pun lo harusnya berterima kasih sama dia," kata Sisqa. "Sekalian minta maaf tuh yang tadi pagi. Lo belum minta maaf kan sama dia?"

"Gue ga perlu minta maaf sama dia. Dengan kejadian ini, anggep aja impas," kata Nayla. "Malah gue lebih rugi."

Felix muncul.

"Sis, kamu udah mandi?" tanya Felix.

"Belum. Lagi nungguin Andre mandi. Ntar biar dia yang nemenin Nay waktu aku mandi," kata Sisqa.

"Gue mau mandi juga," kata Nayla.

"Jangan. Ntar lo jatuh di kamar mandi, Andre ga bisa nolong loh. Besok pagi aja. Lagian ntar kan dia bisa mijitin lo supaya mendingan," kata Felix. Nayla tersenyum sebal.

"Dia tuh profesinya banyak banget ya?" kata Nayla dengan nada menyindir. "Main biola iya, guru les iya, tukang pikul iya, sekarang tukang pijit juga?"

"Ada lagi, dia juga tukang obat," kata Felix. "Maklumlah, Andre kan udah terbiasa sendiri. Jadinya dia selalu bawa apa aja yang ada kemungkinan dia butuh. Sekarang kalo lo tanya dia obat sakit perut, sakit kepala, maag, juga dia punya. Hm...kecuali obat datang bulan; karena dia ga butuh." Sisqa tertawa.

Garing, batin Nayla.

"Udah ah. Gue mau mandi dulu," kata Sisqa. "Lix, Nay jangan ditinggal sampe Andre selesai. Nay itu nekad loh."

"Iya, Sayang. Udah sana, kamu mandi dulu. Nanti Ari udah keburu balik, tapi alat-alat belum siap," kata Felix.

Felix duduk di samping Nayla sambil menonton TV bersama Nayla. Cukup beberapa lama mereka sama-sama ayik menonton TV. Lalu Felix memutuskan untuk membahas sesuatu yang dia penasaran sejak melihat Nayla bermain piano kemarin.

"Nay?" panggil Felix.

"Hm?" jawab Nayla, tanpa menoleh pada Felix.

"Gue boleh ya tanya sesuatu sama lo?"

"Apa sih, Lix?" Nayla merasa terganggu.

"Lo pacaran ya sama Mika?" Nayla langsung menoleh pada Felix.

Ngapain si Felix nyebut-nyebut Mika sih?

"Sorry?" Nayla menyerngitkan dahi.

"Hm...gimana ya gue ngomonginnya ya?" Felix kebingungan sendiri. "Lo itu kan galak banget sama Andre yang jelas-jelas ngedeketin lo. Hm...terus...itu...lo juga ternyata pianis. Lo sendiri juga tau kan kalo Mika fanatik musik. Maksud gue, apa karena lo pacaran sama Mika, makanya lo menjaga jarak sama cowok lain?"

Nayla menghela napas.

"Dia ga tau gue main piano kok," jawab Nayla. Felix mengangguk mengerti.

"Oke. Jadi, lo ga pacaran sama Mika." Felix menarik kesimpulan. Nayla mengepalkan tangannya ketika mendengar nama Mika lagi. "Terus, kenapa lo ga suka sama Andre?"

"Apa hubungannya sih, Lix?" Nayla bertanya balik.

"Kalo lo lagi ga terikat sama siapapun saat ini, kenapa lo ga menerima maksud baiknya Andre? Percaya sama gue deh, Nay. Andre ga seperti Mika, dia sayang sama lo," kata Felix.

"Jangan suka ikut campur sama urusan orang lain, Lix," kata Nayla pelan tetapi pasti.

"Kalo Mika lebih suka sama orang yang bisa main alat musik dan orang itu bukan lo, move on lah. Ga ada gunanya juga lo kayak gini sampe lo belajar biola segala. Mika ga tau dan dia ga perlu tau menurut gue," lanjut Felix pantang menyerah.

Sumpah, mulutnya Felix pengen gue iket, sebut nama Mika terus! Nayla marah-marah dalam hati.

"Dia tau gue belajar biola," kata Nayla. Felix memutar bola matanya.

"Dan itu ga mengubah keadaan kan?" Felix sukses mendapat satu lirikan maut dari mata Nayla yang sudah sedikit berkaca-kaca. "Lo tetap aja ga bisa memenangkan hati Mika." Felix telah mendaratkan satu pukulan telak tepat di pusat luka hatinya.

"Bisa ga, lo jangan sebut namanya lagi di depan gue?" bisik Nayla tertahan. Felix menggeleng-geleng melihat kondisi Nayla yang masih saja terluka karena Mika.

"Mika ga pantes, Nay."

"Felix!" seru Nayla tertahan. Felix tersenyum miring.

"Gini deh, gue akan berhenti sebut nama Mika, kalo lo janji sama gue untuk buka hati ke Andre. Gimana?" tawar Felix. Nayla memandang Felix tidak percaya.

"Gila ya! Lo disogok apa sama Andre, sampe lo bela dia seperti ini?" debat Nayla. "Urusan hati orang ga bisa dipaksa."

"Lo nunggu apa? Nunggu Mika pulang bawa istri pianis juga?" Felix tau dia sudah kelewatan.

"Brengsek!" maki Nayla. Dia bangun dan dengan terpincang-pincang segera menuju kamarnya. Hatinya lebih sakit daripada kakinya yang masih berdenyut nyeri di setiap langkahnya.

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang