Part 6 - The Truth be Told

785 113 58
                                        

Pagi itu, Nayla terbangun dengan kepala yang agak pusing karena semalaman dia mengerjakan tugas dan sempat latihan biola sebentar. Akhirnya Nayla memutuskan untuk minta jemput Sisqa untuk berangkat bersama ke kampus.

"Loe sakit ya, Nay?" tanya Sisqa ketika melihat wajah Nayla yang sedikit pucat.

"Gue ga apa-apa kok," kata Nayla. "Tidur kemaleman doang. Ntar siangan biasanya juga udah sembuh."

"Lo yakin, Nay?" tanya Sisqa. "Muka lo itu pucetnya ga biasa loh."

"Yah, kalo pucet emang bukan biasa. Kan lagi ga enak badan. Kalo muka gue pucet terus, bisa disangka mayat hidup dong," kata Nayla. Sisqa tersenyum sambil mengiyakan kata-kata Nayla.

"Ya udah deh! Yuk berangkat!" kata Sisqa.

Siang itu, Sisqa mengajak Nayla makan siang bersama. Ketika mereka sedang menunggu pesanan datang, Felix datang.

"Sorry, udah lama ya nunggunya?" kata Felix yang mengambil tempat di samping Sisqa.

"Enggak kok. Kita juga baru pesen makanan," kata Sisqa. "Kamu pesen makanan dulu deh." Felix mengangguk dan beranjak lagi dari tempatnya.

"Nay, lo lagi sakit ya?" tanya Felix ketika dia sudah kembali ke tempat duduknya lagi. Sambil menunggu makanannya datang, Felix sempat mengamati wajah pias Nayla.

"Tadi pagi sih," jawab Nay di sela-sela kunyahan makanannya. "Sekarang udah lumayan."

"Tapi muka lo tuh pucet banget loh," kata Felix. "Yakin, ga apa-apa?"

"Tuh kan, Nay, bener kata gue. Lo itu ga cuma kurang tidur. Masa badan udah mendingan, mukanya masih pucet?" sahut Sisqa yang merasa mendapat dukungan dari pacarnya.

"Udah biasa kok," jawab Nayla ringan, mencoba mengabaikan rasa sakit yang kini menusuk-nusuk kepalanya.

"Aneh ah, sakit dibilang biasa," kata Felix. "Ntar lo pulang nyetir sendiri lagi?"

"Enggak kok. Tadi pagi gue ikut Sisqa," kata Nayla. "Sorry ya, gw booking cewek lo hari ini ya." Nayla tersenyum tipis. Felix tertawa renyah.

"Kalo di-booking sama cewek sih, gue ga khawatir," kata Felix. Mereka tertawa. "Oh, ya, Nay, dapet salam dari Andre. Dia lagi ngerjain tugas, jadinya ga bisa ikut kita makan."

Tawa Nay terhenti. Memikirkan Andre membuat reaksi perutnya tidak baik. Tiba-tiba menjadi mual. Lalu sepertinya semuanya berkumpul menjadi satu.

Andre, lalu biolanya, lalu luka hatinya, lalu ambisinya. Sambil terlintas bahwa kemungkinan dia akan latihan biola bersama Andre besok.

Sisqa menyenggol lengan Felix, mencoba menyadarkan pacarnya itu bahwa dia telah merusak suasana.

"Gue bercanda kok, Nay! Andre mana berani kirim-kirim salam. Dia sih tipe 'ga pake nitip', langsung ngomong kalo mau," kata Felix. Nayla masih terdiam.

"Sejak gue kenal si Andre itu, dia kayak kunci," kata Nay. "Yang membuka masa lalu gue yang ga enak." Mata Nay menatap lekat mata Felix, yang membuat Felix berpikir tentang sesuatu. Suasana hening.

"Nay, makanannya dimakan, ntar dingin udah ga enak lagi," kata Sisqa, mencoba mencairkan suasana.

"Iya," kata Nay.

Sementara Felix hanya diam sambil mengedarkan pandangannya, menunggu pesanannya datang. Hatinya merasa tidak enak.

Maksudnya Nay itu pasti tentang Mika kan? Segitunya ya dia masih menyimpan rasa ga suka sama Mika? Kasihan Andre, gara-gara mereka sama-sama pemain music, Nay jadi ga suka.

Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang