Nayla sudah lima menit membaca-baca pengumuman di lorong dekat tempat lesnya; menunggu guru pengganti Mella datang.
"Nayla Santana?" Terdengar suara cowok menyebut nama lengkapnya. Nayla menghela napasnya.
Akhirnya mau ga mau gue berurusan juga sama cowok ini, pikir Nayla enggan.
Dia pun membalikkan badan, berusaha untuk tetap tenang.
"Ya?" kata Nay. Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata yang bisa membuatnya marah mendadak. Sepasang mata itu tidak sanggup menyembunyikan kekagetan sang pemiliknya. "A-andre? Kok elo?"
Andre tersenyum tipis ketika dia sudah memulihkan dirinya sendiri dari keterkejutannya. Dia sendiri tidak pernah berangan-angan bahwa dia akhirnya punya kesempatan untuk berhubungan langsung dengan Nayla. Tentu saja dia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan sangat baik.
"Jadi, lo murid barunya Mella?" Andre bertanya tanpa sanggup menghapus senyum di bibirnya. Nayla mengangguk pelan. Sejauh mungkin dia melemparkan pandangannya dari Andre.
Yah, apa boleh buat? Gue ga mungkin mundur sekarang kan? Kenapa harus dia sih yang gantiin Mella? pikir Nayla dengan suram.
"Yuk! Ruangannya sebelah sana."
Nayla mengekor Andre dalam diam.
Kalo sama dia sih, gue ga bakalan konsen. Ngelihat mukanya aja rasanya kepengen gue timpukin biola. Refleks Nayla mengeratkan pegangannya pada tas biolanya, seakan khawatir dia akan benar-benar kehilangan kendalinya dan mengayunkan benda itu ke kepala Andre.
Andre membukakan pintu untuk Nayla dan mempersilahkan gadis itu masuk terlebih dahulu. Nayla mengedarkan pandangannya ke ruangan itu. Ukuran ruangan itu lebih kecil dari yang biasa Mella pakai. Ditambah lagi dengan adanya piano berukuran sedang memenuhi ruangan tersebut. Nayla melirik sebentar piano itu lalu mengalihkan pandangannya ke Andre yang baru saja menutup pintu ruangan itu.
Tiba-tiba saja, Nayla merasa asupan oksigen berkurang drastis ke otaknya. Berdua dengan Andre, cowok yang selalu membuatnya jengkel, membuat tubuh Nayla tidak bisa bereaksi normal. Terpaksa dia mengalihkan pandangannya lagi dari Andre dan menaruh tasnya di atas lemari kecil yang ada di ruangan tersebut.
Andre menarik kursi piano dan duduk di sana setelah dia menaruh barang-barangnya di lantai, termasuk tas biolanya. Nayla melirik sekilas tas biola milik Andre. Entah kenapa dia punya keinginan kuat untuk menendang kuat-kuat tas tersebut. Memikirkan itu, seutas senyum tipis terbit di wajah Nayla. Kalau dia melakukan hal itu, sudah pasti itu adalah cara ampuh untuk membuat cowok itu jauh-jauh darinya.
"Agenda mana?" Suara Andre menyadarkan lamunan konyol Nayla. Dia lalu menarik senyumnya kembali dan mengeluarkan agenda yang diminta Andre. Andre menerima buku itu dari Nayla dan membukanya dengan cepat, mencari informasi terakhir yang ditinggalkan Mella di buku itu. Sementara itu, Nayla membuka buku latihannya dan membentangkannya di atas music stand di depannya. Lalu dia mengeluarkan biola dari tasnya.
Andre membaca sekilas tulisan Mella. Lalu dia mengangkat kepalanya dan melihat Nayla sudah siap berlatih di depannya. Andre berdeham.
"Oke. Target kita hari ini satu lagu baru, trus nanti gue kasih sedikit teori, plus mempertajam teknik permainan lo," kata Andre. Nayla mau tidak mau harus mengakui bahwa aura Andre terasa berbeda dari biasanya. Walaupun Nayla masih merasakan getaran aneh yang membuatnya tidak nyaman berada di dekat dirinya, dia harus mengakui bahwa Andre bersikap sangat profesional sekarang. Nayla mengangguk-angguk mendengar penjelasan Andre.
Cara Andre membimbingnya sedikit berbeda dengan Mella. Mella tidak pernah memberi tahunya tentang apa yang mereka akan lakukan, melainkan menuliskannya langsung di agenda Nayla dan menjadikan benda itu checklist-nya hari itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Novela JuvenilHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
