Ujian kenaikan tingkat biola Nayla sudah semakin dekat. Untungnya kegiatan kampus juga sudah mendekati akhir semester dan menjelang liburan panjang. Jadi Nayla punya waktu banyak untuk latihan biola. Walaupun dia harus semakin bersusah payah menetralisir perasaannya ketika dia harus berurusan dengan biola itu semakin sering.
"Duh, Mella mana ya? Kok tumben dia belum dateng," kata Nayla. Bolak-balik dia mengecek handphone-nya.
Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Nama Mella terpampang di layar. Dengan semangat, Nayla mengangkatnya.
"Nay, sorry, gue ga bisa ngajar hari ini," kata Mella. Suaranya terdengar lemah.
"Lho kenapa?" tanya Nayla.
"Gw kena thypus," kata Mella.
"Thypus? Lah, trus gue gimana donk? Gue khan mau ujian," kata Nayla yang tiba-tiba diserang kepanikan berlebih.
"Sorry, Nay! Gue tau ujian ini penting buat loe. Gue udah minta Andre gantiin gue kok sampe gue sembuh. Dia pasti bisa ngebimbing lo dengan baik," kata Mella. Kini Nayla terserang keganasan mendadak.
"Andre? Lagi?" kata Nay. "Ga ada yang lain ya yang bisa ngegantiin lo?"
"Ga ada. Biasanya emang Andre yang gantiin gue klo gue ga bisa ngajar," kata Mella. "Duh, gue bener-bener minta maaf sama lo. Gue juga ga kepengen sakit." Yah...gimana lagi? Pasrah aja deh gue, pikir Nay.
"Ya udah. Ga apa-apa juga kok, Mel. Lo istirahat aja. Ga usah mikirin gue. Gue bakalan bisa bekerja sama dengan Andre kok supaya gue bisa lulus dengan baik," kata Nay.
"Iya, gue tau. Lo dan Andre sama-sama bisa diandalin kok," kata Mella. Disamain sama Andre, ih...ogah! gumam Nayla dalam hati.
"Ya udah, gue ke tempat lo sekarang deh. Mau dibawain apa? Lo kan lagi ga boleh makan sembarangan," kata Nayla.
"Jangan, Nay!" kata Mella. "Andre baru aja dari rumah gue buat ngambil bahan les lo. Bentar lagi mungkin dia nyampe. Lo tunggu dia aja."
"Jadi...hari ini gue tetap ngeles dong?" kata Nayla.
"Ya iya dong, Nay!" kata Mella. "Kan lo mau ujian?"
"Sama Andre?" kata Nayla semakin lemas.
"Sorry, Nay!" kata Mella.
"Ya udah deh, ga apa-apa. Lo istirahat aja. Biar gue dengan manis nungguin Andre di sini," kata Nayla.
Nayla langsung duduk di lorong sambil menunggu Andre datang. Di tangannya ada lembaran lagu yang tadinya akan dievaluasi oleh Mella. Dia memandang resah lembaran itu.
Mati deh gue! Cowok rese itu yang bakalan kritik permainan gue. Uh...ngerusak suasana banget sih? Ujian ini penting banget buat gue. Tapi kenapa harus cowok rese itu terus ganggu gue sih? Gue harus gimana dong?
"Nayla Santana," panggil Andre yang baru saja sampai.
Nayla perlahan-lahan mengangkat kepalanya dan melihat Andre sudah berdiri di hadapannya.
"Sorry, gw telat. Di luar hujan," kata Andre, sambil mengusap-usap rambutnya yang terlihat kuyup. "Udah tau kan Mella sakit? Jadi gue yang gantiin dia sampai dia sembuh."
"Iya, Mella udah bilang," kata Nayla. Dia bersiap untuk bangun. Andre mengulurkan tangannya, berniat membantu Nayla berdiri. Tapi Nayla mengacuhkan uluran tangan itu.
"Ruangannya yang kemarin aja," kata Andre. Nayla mengikuti Andre sambil menenteng tas biolanya. "Lo di sini dulu sebentar, gue mau ke toilet, bersih-bersih dulu. Lo latihan sendiri dulu aja." Nayla hanya mengangguk pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Musikalisasi Rasa (SUDAH TERBIT)
Teen FictionHighest Rank #586 Teen Fiction (2 Okt 2016) #76 in General Fiction (13 Sep 2016) *Judul lama: Revenge: a Triangle Story* Nayla benci bermain musik karena Mika. Dia malah harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kepiawaiannya bermain piano klasik k...
