"Nenek, kenapa kita harus pindah? Kita sudah tinggal lama denganmu, Nek." Lagi-lagi Jennie merengek. Gadis berusia 16 tahun itu menunjukkan raut ketidaknyamanan atas keputusan Nenek yang meminta dia dan saudaranya pindah begitu saja
Nenek tidak begitu banyak merespon. Tangannya dengan apik menata pakaian-pakaian cucunya dalam koper yang sudah tersedia dibantu dengan Rosè merapikan pakaian yang berantakan untuk diserahkan pada Nenek. Sang Nenek hanya tersenyum dan menggeleng mendengar Jennie terus saja bertanya.
"Uuuhh ... menyebalkan!" Ucapnya, ia merebahkan diri diatas ranjang tak jauh dari Nenek dan Rosè mengepak pakaian.
Matanya menerawang langit berbatas atap, membayangkan bagaimana kehidupan sebelumnya terjadi begitu saja di sini, seolah kenangan itu berputar dalam ruangan. Bagaimana kisahnya selalu menendang perawakan Jisoo dan berharap kecantikannya akan memudar sedikit saja--meskipun pada kenyataannya tidak ada perubahan--, tentang dia dan Lisa yang selalu jahil pada Nenek, Rosè, dan teman-teman di sekolah, tentang dia yang setiap ucapannya tidak pernah direspon oleh Rosè, karena Rosè selalu menganggapnya kekanakan, dan juga tentang kamar berwarna dominan peach berisi empat tempat tidur dan empat lemari yang menyimpan semua memori dengan rapih.
Jennie melenguh pelan melepaskan bagian-bagian yang terasa berat di dadanya sebelum sebuah benda mendarat di wajahnya, dia menjerit, "yakkk!!"
Jennie bangkit, meraih benda yang ternyata baju itu dan memandang dengan seksama. Sebuah baju olahraga sekolahnya. "Kau apakan baju olahragaku, Jennie-ssi?" Jisoo berkacak pinggang, ia terlihat marah.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" Jennie membalikan pertanyaannya.
"Kau menghancurkan seragamku, lihat...," Jisoo menarik seragam tersebut, membalikkannya hingga terlihat pada bagian punggung seragam itu tampak sebuah robekan memanjang hampir mencapai bawah. "... sudah paham?"
Jennie memahami maksud kakak beda beberapa menit itu jika dia sedang dalam tuduhan, meskipun dahinya mengernyit tidak bersalah, jauh dalam pikirannya mengakui jika dia melakukan kesalahan. Tapi, tentu saja, mengelak adalah jalan yang dia pilih.
"Aku tidak melakukan apapun, ini mungkin...." Jennie menggantungkan kalimatnya, sedangkan Jisoo masih enggan untuk melepas mata dari adik yang lahir 15 menit setelahnya.
Mamandangi dua bola mata yang membulat sempurna, sepertinya Jennie melakukan percuma jika membohongi.
"... baiklah aku mengaku, aku pelakunya." Begitu mendapat pernyataan tersebut, Jisoo tidak enggan untuk memukul Jennie, menjambak rambutnya dan hendak mencakar wajah Jennie.
"Kau adik kurang ajar!!" Ucapnya kemudian. "Bagaimana dengan besok? Besok aku ada olahraga!! Kau menyebalkan!!"
Keadaan semakin ribut ketika Jennie juga mulai membalas. Suara saling gebuk dan jeritan tertahan terdengar mengerikan. Nenek melihat itu menginterupsi dua gadis kesayangan.
"Sudah hentikan. Lebih baik kalian mulai memilih barang yang akan di bawa," ucap Nenek, ia mencoba melerai keduanya. Jisoo yang sebal masih sempat mencubit Jennie dan menjulurkan lidah pada akhirnya.
Pagi berganti siang. Awan mendung diganti sinar cerah. Burung-burung berterbangan riang, bercicit, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Jessica sudah duduk di sebuah kursi taman di halaman belakang rumah, memandang berbagai macam bunga yang bermekaran. Pemandangan yang tidak pernah berubah dari sejak dia masih kecil, meskipun bertahun-tahun dia tinggalkan. Khas pedesaan yang dirindukan sebagai rumah.
"Aku sudah mempersiapkan mereka, jadi baik-baiklah dengan anakmu." Wanita paruh baya itu datang dengan membawa nampan cangkir teh hangat.
Setelah mengucapkan sederet kalimat terima kasih, lantas meneguknya sedikit demi sedikit, Jessica akhirnya membuka suara, "jadi, Mom. Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?" Matanya menilik setiap inci wajah yang masih tenang dengan cangkir tehnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Good MOM ✔
FanfictionKisah tentang Jessica Jung dan keempat anaknya. Season 1 : End Season 2 : On Going ©2016 filofrosine present Amazing cover by @nothofogus
