02. Pindah Kelas

114 16 0
                                    


"Kereta berikutnya sekitar satu jam lagi" Arata membalikkan badannya dan mengambil langkah setelah memberitahu Alina.

"Aku tidak tanya!" jawab Alina sewot.

Arata hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Alina.

Alina melirik Arata lalu berjalan mendekatinya.
"Tunggu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Alina.

Alina heran, pasalnya Arata tidak naik ke kereta yang sudah berangkat tadi. Dan sekarang ia mau meninggalkan stasiun. Lalu untuk apa dia ke stasiun?
Memang itu bukan urusannya. Tapi, entah kenapa Arata itu selalu membuatnya penasaran. Walau sebenarnya ia juga sangat kesal dengan sikap Arata yang kelewat cuek.

Alina tak mendapatkan jawaban apapun. Memang Arata menghentikan langkahnya, tapi selang beberapa detik ia kembali melanjutkan langkahnya.

"Kamu tu ya... Saat aku tidak bertanya kamu bicara. Giliran aku bertanya kamu tidak bicara sepatah katapun. Mau kamu apa sih?" Alina yang kesal meremas kaleng minumannya yang sudah kosong lalu melemparkannya kearah Arata.

Dan... Bukk...
Kaleng minuman itu mengenai kepala belakang Arata.
Mulut Alina terbuka. Ia memang saja melakukannya, tapi tetap saja ia merasa terkejut saat kaleng minuman itu mengenai Arata.

"Ah" Arata terkejut dan tangannya refleks memegang kepala belakangnya yang sakit karna terbentur kaleng minuman.

"Maaf. Maafkan aku" Alina menatap Arata dengan tatapan bersalah.

Arata mengayunkan kakinya, melangkah dengan cepat meninggalkan stasiun kereta dan juga Alina tanpa mengatakan apapun.

"Apa dia marah?" gumam Alina menatap punggung Arata.

<==>

Alina membuka pintu rumah. Ia melangkah masuk dengan wajah yang muram.

"Ada apa?" tanya sang ayah melihat wajah anaknya yang terlihat muram.

Alina duduk di dekat sang ibu. Ia menyandarkan tubuhnya sembari menghela nafas panjang. Hari ini sangat melelahkan. Hari pertamanya disekolah. Seragam baru, sekolah baru, lingkuran baru, teman baru dan semua serba baru.

"Papa tau? Aku ketinggalan bus. Aku ke stasiun dan aku ketinggalan Kereta. Dan lagi aku harus menunggu kereta berikutnya selama satu jam. Mana tidak ada teman. Jenuh tau pa." eluh Alina dengan muka ditekuk.

Sang ayah tertawa mendengar keluhan sang anak.

"Mendingan aku ke sekolah naik motor aja pa. Jadi aku tidak perlu nunggu bus ataupun kereta." pinta Alina.

"Ya tidak bisa dong. Disini dibawah 20 tahun tidak boleh bawa motor ataupun mobil. Nanti papa belikan sepeda?" Ucap Ayah dengan lembut.

Apa? Sepeda? Bahkan ia sudah lupa bagaimana mengendarai sepeda. Terakhir kali ia mengendarai sepedah sewaktu duduk dibangku kelas 3 SD. Kehidupan di negara ini memang sangat berbeda. Lagipula ia juga belum terbiasa dengan kehidupan disekitar. Dan entah butuh waktu berapa lama baginya untuk menyesuaikan dengan kehidupan negara matahari terbit ini.

Ibu alina yang sedari tadi mendengar keluh kesah anaknya hanya tersenyum. Ia mengerti apa yang dirasakan anaknya. Apalagi baru satu minggu di negara ini. Jadi anaknya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

"Buruan mandi terus kita makan malam" ucap Ibu membelai rambut anaknya.

"Jangan Sushi, aku tidak suka daging mentah" ucap Alina lalu melangkah menuju kamarnya.

<==>

Arata duduk diatap rumah dengan pandangan yang tertuju ke langit.

"Arata, turun. Apa kamu mau tidur di atap hah?" ucap seorang pria yang lebih tua lima tahun dari Arata.

Di Bawah Langit Berwarna SakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang