Alina melamun dijendela kamarnya. Ia mengabaikan ponselnya yang berulang berdering. Tak peduli siapapun yang meneleponnya. Ia sedang tidak ingin di ganggu. Ia ingin sendiri sekarang. Mata Alina menangkap kelopak bunga sakura yang terbang di udara. Terhempas angin dan menuju kearahnya. Tangan Alina terulur keluar jendela, dan kelopak bunga sakura itu jatuh tepat ditelapak tangannya.
Melihat kelopak bunga sakura itu membuat Alina teringat saat Arata mengambil kelopak bunga sakura di rambutnya sewaktu di bukit. Mungkinkah.....
Alina masih tak menyangka kalau Arata adalah mantan Arista. Pasalnya sifat Arata sangat bertolak belakang dengan yang di ceritakan Arista. Mana mungkin bisa berubah sedrastis itu, walau itu memang mungkin saja terjadi.
"Apa kamu nggak menyadarinya? Bahkan aku sudah mengatakan kalau aku sudah jatuh jauh dalam kehidupanmu. Atau kamu memang tidak peduli?" gumam Alina.
Sifat dingin Arata kembali dan itu terasa menyakitkan untuknya. Disaat seperti ini pun Arata lebih memilih untuk diam dan tak menjelaskan. Sepertinya Arata memang sengaja melakukannya. Dan sifat hangatnya waktu itu... Ah sudahlah.
Setelah beberapa menit tidak berdering, kini ponsel Alina kembali berdering. Ia beranjak dari jendela, berjalan menuju meja belajarnya untuk mengambil ponselnya. Jika dipikir, kasihan yang meneleponnya. Mungkin saja itu adalah hal yang penting.
Ren menghubunginya lewat app chat, dan saat ini Ren membuat panggilan video.
"Ada apa Ren-san?" tanya Alina."Aku merasa, kamu sedang gelisah dan ternyata itu benar." ucap Ren yakin saat melihat wajah Alina yang memang menunjukkan kegelisahan.
"Kamu masih memikirkan hal itu?" tanya Ren.
Alima hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah. Hanya perlu menunggu waktunya." ucap Ren. "Sumairu sumairu (smile smile)" lanjut Ren.
Alina yang tadinya cemberut kini tersenyum bahkan tertawa kecil mendengart Ren mengucapkan kata Smile yang terdengar lucu.
"Naisu! (nice!)" ucap Ren saat melihat Alina tersenyum.
"Kamu bisa merasakannya?" tanya Alina.
"Apa?" tanya Ren.
"Perasaanku, kamu tau aku sedang gelisah." jawab Alina
"Entahlah. Lagipula itu nggak penting." ucap Ren tersenyum lebar.
Ren melihat jam yang tergantung di dinding kamar Alina.
"Sudah malam. Cepatlah tidur. Jangan mentang-mentang sedang libur terus kamu bisa begadang. Kasihan tubuhmu." omel Ren.Lama-lama Ren seperti ibunya yang selalu menyuruh tidur saat sudah sangat malam.
"Nemurinai! (Aku nggak bisa tidur!)" eluh Alina."Ah, tunggu sebentar!"
Alina menganggukkan kepalanya. Ia melihat Ren berjalan mendekat ke jendela lalu membuka jendela kamarnya lebar-lebar.
Ren mengarahkan ponselnya kelangit hingga yang muncul di layar Alina adalah langit malam yang berbintang.'Kira kira hikaru
Osora no hoshi yo
Mabataki shite wa
Minna wo miteru
Kira kira hikaru
Osora no hoshi yo'Ren menyanyikan lagu Twinkle twinkle little star dengan lirik yang di ubah ke bahasa Jepang.
Alina suka mendengarnya, selain karna suara Ren yang memang merdu juga karna liriknya yang terdengar lucu. Selama ini yang Alina dengar yang berbahasa inggris."Mau ikut bernyanyi?"
"Tapi aku belum hapal liriknya."
Ren mengambil kertas lalu mengarahkannya didepan ponsel. Kertas yang berisi lirik lagu tadi yang ditulis dengan huruf hiragana. Karna Ren tau Alina belum bisa huruf kanji.

KAMU SEDANG MEMBACA
Di Bawah Langit Berwarna Sakura
Ficção AdolescenteKehidupan di Jepang itu keras, benarkah? Ada istilah 'Kalau kamu tidak punya sesuatu yang menguntungkan. Maka kamu tidak akan memiliki teman.' Alina Putri. Anak seorang pengusaha yang selalu berpindah tugas dari satu negara ke negara lain. Dan pada...