04. Anak Teman Ayah

76 16 0
                                    

Tap.. Tap.. Tap..

Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menggema di kamar Arata.
Arata melirik kesamping. Sudah ia duga, pasti Hiroto. Mengingat penghuni rumah itu hanya dirinya dan Hiroto. Tidak ada yang lain.

"Kamu berkelahi?" tanya Hiroto.

Arata mengernyitkan dahinya. Ia bangkit dan duduk bersila ditengah futon. Ia heran kenapa Hiroto tiba-tiba menanyakan hal itu. Darimana Hiroto tau? Luka diwajahnya sudah tidak begitu terlihat. Hanya plaster di pipinya yang belum ia lepas.

Hiroto menunjukkan seragam Arata yang tadinya tergantung dibalik pintu kamar. Hiroto menunjuk bercak darah pada kerah seragam Arata.

"Maaf aniki." Arata.

Hiroto menghela nafasnya lalu duduk ditepi futon.
"Jadi ini alasan kenapa kamu kemarin tidak pulang? Takut aku memarahimu?" tanya Hiroto.

Arata hanya diam dengan kepala tertunduk. Ia tau pasti Hiroto kecewa dengan sikapnya. Sedari tadi juga Hiroto tidak tersenyum, tidak seperti biasanya.

"Hal yang umum terjadi semasa SMA. Aku mengerti!" Hiroto tersenyum.

Arata mendongakkan kepalanya. "Aniki tidak marah?" tanyanya.

"Aku pikir aku tidak perlu marah. Itu terjadi begitu saja, kamu pasti juga tidak ingin itu terjadi kan?" Ucap Hiroto menatap Arata.

Arata menganggukkan kepalanya. Mengiyakan perkataan Hiroto.

"Sudah jangan terlalu dipikirkan." Hiroto beranjak dari duduknya dan kembali menggantungkan baju Arata dibalik pintu.

"Aniki. Aku di pindah ke kelas E." ucap Arata.

Hiroto mengerti kenapa Arata di pindah ke kelas E. Pasti karna perkelahian itu. Ia sudah cukup paham dengan peraturan di sekolah Arata.

"Itu mengajarimu untuk disiplin. Apapun alasannya, perkelahian bukan tindakan yang baik. Tidak masalah di kelas mana kamu berada. Yang penting adalah semangat belajar dan usaha kerasmu." Hiroto mengacak rambut Arata lalu berjalan keluar kamar. Menutup pintunya rapat-rapat. Membiarkan Arata beristirahat dan menenangkan diri.

"Aniki!" panggil Arata.

Hiroto berhenti melangkah dan membalikkan badannya.

"Apa... Aniki akan bilang ke ayah soal ini?" tanya Arata sedikit takut.

"Aku sudah bilang kan? Selama kamu disini kamu adalah tanggung jawabku. Apapun yang terjadi padamu, aku yang mengurusnya. Jadi, aku tidak akan bilang ke ayahmu." Hiroto.

Arata menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. Ia beruntung bisa menemukan orang sebaik Hiroto di negara yang sangat keras ini.

<==>

Alina duduk didekat jendela kamarnya dengan laptop dipangkuannya.
Ia membiarkan pintu jendela terbuka, dan angin malam masuk kekamarnya.
Alina kini tengah asik chatting dengan temannya yang berada di Indonesia. Dengan teman dekatnya di SMA selama satu tahun, hingga akhirnya ia harus berpisah dengan temannya karna harus pindah ke Jepang.

'Aku tidak tau mantanmu itu sekolah dimana. Lagian foto-foto dia di hpmu kenapa harus hilang? Jadi susah mencarinya.' ketik Alina lalu mengklik balas.

Alina mengarahkan pandangannya ketempat tidurnya. Tempat yang sempat di gunakan Arata untuk tidur.
Tanpa sengaja matanya melihat pesawat kertas tergeletak di dekat tempat tidurnya.

Ia meletakkan laptopnya dimeja dan menghampiri pesawat kertas itu. Alina mengambilnya, melihat-lihatnya sejenak, itu bukan buatannya. Walau mungkin bentuknya sama, ia tetap bisa membedakan mana yang buatannya dan mana yang bukan.

Di Bawah Langit Berwarna SakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang