19. Orang yang Membuat Berpaling

70 11 0
                                    

Arata berjalan menuju kereta untuk kembali ke Chiyoda. Alina masih tetap setia berada di gendongannya. Alina menyandarkan dagunya dipundak Arata. Wajahnya sangat lesu. Hari ini cukup melelahkan baginya, ditambah kakinya yang terluka.

Arata menoleh kesamping dan tersenyum hangat. Melihat wajah Alina dengan jarak yang amat sangat dekat. Walau agak terhalang dengan rambut panjang Alina.

Alina melirik Arata yang diam-diam memandanginya. "Jangan menatapku seperti itu!" protes Alina.

Arata merubah ekspresinya dengan wajah serius dan tatapan mata yang tajam.

"Ih Arata." tangan Alina bergerak keatas menutup mata Arata.

"Katanya jangan menatap seperti itu, aku udah ganti ekspresi kan?" ucap Arata di iringi tawa kecil.

"Maksudku bukan itu!" Alina menggembungkan pipinya karna kesal dengan Arata.
Arata yang tadinya sempat menghentikan langkah kini kembali melangkahkan kakinya menuju stasiun yang tinggal beberapa meter lagi.

~

Kereta mulai berjalan menuju Chiyoda. Alina yang merasa sangat lelah menyandarkan kepalanya di pundak Arata. Sebelumnya ia juga sudah meminta izin. Tangan Arata menepuk-nepuk pelan kepala Alina dan sesekali tersenyum saat memandang Alina yang tertidur pulas. Walau sudah sangat kusam gadis itu tetap terlihat manis.

<==>

"Hooaamm." Hiroto mengarahkan pandangannya ke jam di dinding. Pukul 05.51.

Ia berjalan menuju kamar Arata dan masuk begitu saja.  "Arata, bangun!" Hiroto mendekat keranjang. Tapi Arata tak kunjung bangun.

"Arata ba-" Hiroto menghentikan kata-katanya. Ia sangat terkejut melihat yang ada di atas futon bukanlah Arata melainkan orang lain. Dan parahnya itu seorang perempuan.

Alina yang samar-samar mendengarkan suara orang,  terbangun dari tidurnya. Matanya langsung terbuka lebar melihat pria yang tak dikenal ada dihadapannya. Pria itu hanya mengenakan boxer. Apa-apaan ini?

"Aaaaaa" teriak Alina dan Hiroto bersamaan.

Arata yang baru saja pulang dari minimarket terdekat langsung berlari kekamarnya saat mendengar teriakan itu. Semalam saat ia pulang, Hiroto sudah tertidur dan tadi sebelum pergi ia lupa memberitahu Hiroto mengenai keberadaan Alina dirumah.

Arata meletakkan belanjaannya dimeja dengan asal dan segera berjalan mendekati dua orang yang tengah kebingungan itu.

"Aniki!" Arata menarik Hiroto keluar dari kamar.

"Astaga Arata, kamu..." Hiroto menggelengkan kepalanya tak percaya.

Arata menepuk jidatnya sendiri. Ia tau apa yang di pikirkan Hiroto sekarang. 
"Aku bisa jelaskan! Dia memang tidur dikamarku, tapi aku tidur diluar!" jelas Arata menunjuk bantal dan juga selimut yang masih ada di sofa.

Hiroto mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Arata. Memang benar, ada bantal juga selimut disana. Tapi Hiroto tampaknya masih tak percaya.

"Ayolah aniki, kamu tau aku, kan?" ucap Arata berusaha meyakinkan kakaknya itu.

"Sudahlah, aku mau buat sarapan!" Hiroto berlalu dari hadapan Arata.

Arata menghela nafas berat. Ia memang ceroboh. Ia segera kembali kekamarnya. Meraih barang belanjaannya dan menghampiri Alina.

"Maaf ya, itu tadi kakakku." ucap Arata tersenyum. Alina hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.

Arata menyibakkan selimut yang masih menutupi kaki Alina. Lalu tangannya bergerak dengan cepat membuka dasi dan juga kaosnya yang mengikat kaki Alina. Luka dikaki itu masih terlihat basah. Arata mengambil obat luka yang tadi ia beli di minimarket dan mengobati luka di kaki Alina, lalu kembali memerbannya dengan kain kasa. Ia juga memberikan salep khusus pada pergelangan kaki Alina dan sedikit memijatnya.

Di Bawah Langit Berwarna SakuraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang