Part 20 - Pamit

53 8 0
                                        

----

"Lo serius pengen menetap di sini?"

Aku menganggukkan kepala dengan tegas, bagaimanapun juga kontrak itu tanggung jawab ku.

"Gue pengen banggain kalian semua! Gue pengen jadi anak berguna nanti. Dan gue rasa ini awalnya."

"Tapikan lo juga bisa banggain kami semua di indonesia, lo juga bisa sukses di sana."

"Tapi Rey, gue ngak bisa mastiin kalo gue bakal dapat kesempatan kek gini di indonesia."

Sekarang di sinilah aku dan Rey, hanya berdua di balkon apartemen menatap bintang yang sangat jelas di sini.

"Lexaaaa!!!"

"Ck, paan sih Fa? Gue di balkon."

Dia cengengesan begitu melangkah mendekati ku dan Rey. Apa-apaan dia? Aneh!

"Lo dari tadi di sini yah?"

"Ya, tentu saja. Lo dari mana sih Fa? Kok baru muncul!"

"Ah, iya. Gue habis jalan-jalan di luar. Tadinya gue mau ngajak lo tapi lo ngak ada yah gue pergi aja sendiri."

Aku mencebik, biasanya dia selalu mengajakku tapi sekarang dia malah pergi sendiri.

"Bibirnya ngak usah kek gitu kali! Pen gue cium dah rasanya."

"Ehmmm!!!"

Eh iya, aku lupa kalo di sini juga ada Reyhan. Aku hanya nyengir tak berdosa melihatnya kesal.

"Sorry Rey! Gue ngak maksud."

"Jahat bett dah lo pada, gue di anggap kagak ada di sini."

Aku cekikikan sendiri melihat tingkahnya, tapi aku ngak yakin kalo nanti gue bisa ngeliat mereka. Tidak dalam waktu dekat ini! Aku akan selalu bersama mereka.

"Yaudah, gue masuk bentar. Kalian ngobrol aja. Gue bakal ngajak kalian keliling German."

Aku hendak masuk tapi sebelah tangan ku di cekal oleh Farhan. Ada apa yah?

"Gue pengen bicara dulu sama lo! Tunggu bentar napa."

"Apa sih Fa, lo kek..."

Ucapan ku menggantung, aku mengingat kejadian tiga tahun silam.

"Gue ngak mau denger! Jangan lakukan apapun Fa! Gue mohon."

"Dengerin gue dulu Lexa! Gue mau pamit sama lo."

Aku menutup kedua telinga ku, aku tidak ingin mendengarnya lagi. Cukup tiga tahun silam aku mendengarnya.

"Lexa! Lo jangan kek gini. Denger, dengerin gue dulu."

"Ngak mau! Gue tau lo bakal ngelakuin hal yang sama persis saat tiga tahun lalu. Dan gue mau kita balik sama-sama ke indonesia."

Aku mulai menjatuhkan air mata ku, aku tidak tahan melihatnya. Aku ingin dia di sini untuk beberapa waktu kedepan dan toh aku juga bakal balik ke indonesia sebelum bekerja.

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang