Part 11 - Penyelesaian masalah

64 9 0
                                        

----

Apapun yang terjadi, tindakan yang paling bodoh adalah meninggalkan masalah dan lari dari kenyataan

----

Seorang gadis dengan rambut yang telah dia gerai tengah duduk di cafe. Dia melihat orang-orang yang berlalu lalang dengan pandangan kosongnya.

"Bagaimana caranya buat masalah ini selesai?" Tia tanpa sadar menggumamkan kalimat yang membingunggkan.

"Lo cuma harus berusaha buat menjelaskan semuanya."

Tia mendongak melihat seorang wanita cantik telah duduk di hadapannya dengan senyuman.

"Gue liat lo dari tadi ngelamun jadi gue pikir gue kesini aja temenin lo. Gue liat lo lagi ada masalah yah?"

Tia mengeryit kenapa ada orang yang menyapanya dan berbicara sepanjang itu tanpa canggung sedikitpun dan tanpa saling mengenal.

Gadis itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

"Gue Tasya, Tasya Saputra."

Tia menerima uluran tangan itu dan tersenyum.

"Gue Tia, Tia Alexandra."

"Gue udah tau kok."

Tasya tersenyum melihat wajah cantik Tia yang kebingungan.

"Saputra."

Tia masih bingung, kenapa dia menyebutkan nama Saputra.

Tasya gemas melihat tingkah orang di depannya ini sehingga dia mencubit pipinya dengan gemas.

"Tasya, ini sakit lepasin ngak."

Tasya melepaskan tangannya dan terkikik geli. Ternyata apa yang di katakan kakaknya benar. Orang ini sangat menggemaskan.

"Gue adeknya Farhan, lo pikun amat sih. Masa nama belakang Farhan aja lo lupa."

Tia tidak bisa menahan rasa kagetnya. Dia berteriak tidak percaya namun dia langsung menutup mulutnya dan benar saja dia sekarang jadi pusat perhatian.

"Lo beneran? Astaga kita belum pernah ketemu. Tapi.." Tia menggantungkan kalimatnya itu membuat Tasya menaikkan salah satu alisnya.

Tia nyengir dan mencubit balik pipi Tasya.

"Lo cantik bett keknya, oh iya kita kan belum pernah ketemu terus kenapa lo bisa ngenalin gue."

Tasya merogoh tasnya dan mengembil handphone. Setelah mendapatkan apa yang dia mau dia pun membuaka salah satu aplikasi dan memperlihatkan gambar yang ada di sana kepada Tia.

 Setelah mendapatkan apa yang dia mau dia pun membuaka salah satu aplikasi dan memperlihatkan gambar yang ada di sana kepada Tia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Anggap aja ini Tia sama Farhan yang ada di sungai yang biasa mereka kunjungi

Tia terkekeh saat melihat foto itu, tidak bisa ia pungkiri bahwa dia merundukan sosok Farhan.

"Farhannya dimana Tasya?"

"Kenapa? Lo kengen sama dia?" Tasya mengangkat alisnya pertanda dia sedang menggoda gadis di depannya.

"Sangat, gue kangen banget sama tu cowok bawel." Tia terkikik geli saat mengatakan itu.

"Dia masih di mansion di puncak, katanya dia masih ada urusan di sana."

Tia manggut-manggut, dan merekapun membicarakan banyak hal.

----

"Barang kamu udah siap semua sayang, udah ngak ada yang ketinggalan kan?"

"Udah ma, semuanya udah beres. Ehmmm, ma Tia boleh minta tolong sesuatu ngak?"

Tia ragu untuk ini, dia rasa tindakannya kali ini sudah cukup. Dia tidak ingin memperpanjang masalahnya lagi.

"Boleh sayang, emang mau minta tolong apa?"

"Tunggu bentar ma, Tia ambilin barangnya dlu.

Tia berjalan ke arah laci yang ada di kamarnya dan mengambil 3 buah surat yang sudah iya tulis tangan.

"Ini ma, tolong mama kasih ke Nia, Sinta, sama Reyhan."

"Loh kenapa ngak ngasih sendiri?"

"Ngak apa-apa ma, Tia masih ada banyak urusan takutnya kelupaan aja."

Alasan yang cukup rasional, Tia ngak mungkin ngasih surat itu langsung karena dia yakin surat itu bakal di buang tepat di wajahnya.

Mama Tia memang tidak tau menahu tentang masalah yang di hadapi oleh anak-anaknya tapi dia bisa mengetahui itu dari sikap keduanya yang saling menjauh.

***

DestinyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang