Part 27 - pengungkapan jati diri

52 7 0
                                        

----
Mempunyai kekasih memang bukan hal buruk tapi mungkin akan menyita waktu tapi mempunyai sahabat adalah suatu kewajiban yang setiap orang pasti memilikinya
----

Sekarang Tia dan yang lainnya telah sampai di bandara Frankfrut. Bandara terbesar di negara ini. Mereka hanya menunggu panggilan keberangkatan mereka dan untuk satu tahun ke depan Tia tidak akan menginjaknya dulu. Dia akan bersenang-senang di negara kelahirannya. Soal mengganti kewarganegaraannya semuanya sudah akan di urus oleh Albert.

für die Passagiere mit deutschen Zielen - ist Indonesien bald eintreten zu erwarten, weil das Flugzeug aus nehmen
(Kepada penumpang dengan tujuan Jerman-Indonesia di harapkan segera masuk kerena pesawat akan segera lepas landas)

Sampai jumpa lagi German! Tia dan yang lain pun segera masuk dan menunggu pesawat lepas landas.

Tia mendapatkan kursi penumpangnya. Dia duduk dan di apit oleh dua pria tampan. Yah, siapa lagi kalau bukan mereka berdua. Reyhan dan Farhan.

Selama perjalanan menuju Indonesia mereka bertiga tertidur. Reyhan yang berada di ujung meletakkan kepalanya di bahu mungil Tia sedangkan Tia meletakkan kepalanya di bahu Farhan dan Farhan sendiri meletakkan kepalanya tepat di atas kepala Tia. Sungguh siapapun yang melihat mereka pasti akan iri.

"Nia, kakak lo beruntung banget kayaknya."

Nia mengeryit heran, apa yang di katakan sama sahabatnya ini. Semua orang punya keberuntungannya sendiri.

Sinta terus saja menatap tiga orang yang tertidur pulas di bangku sebelah mereka. Karena merasa di abaikan Nia melihat arah pandang dari sahabatnya Sinta.

"Lo kenapa?"

Sinta tersadar dari lamunanya, seandainya dia yang berada di posisi Tia pasti dia akan sangat bahagia. Tapi takdir berkata lain. Semua yang diinginkannya tidak akan pernah terjadi.

"Gue ngak apa-apa."

"Ngak, lo bohongin gue. Ada apa Sinta? Pasti ada rahasia yang lo sembunyiin dari gue."

Nia terkadang bisa tau mana orang yang jujur dan mana orang yang berbohong. Dia selalu melihat tanda itu dari sorot matanya. Apalagi orang yang berbohong itu adalah Sahabatnya. Orang yang selalu ada bersamanya saat keluarganya punya kesibukan. Nia bukannya kesal karena keluarganya kadang-kadang memiliki pekerjaannya sendiri dia tidak keberatan bahkan dia memiliki keluarga yang sangat sempurna.

"Hmm!!!"

"Apa? Lo tuh kenapa sih. Lo kenal sama gue udah berapa lama emang. Kenapa lo segitu ngak percaya sama gue."

Sinta menggigit bibir nya, sejujurnya dia memiliki banyak rahasia. Dia hanya tidak pernah menceritakannya karena dia belum menemukan seseorang yang akan di percayainya dengan sangat penuh.

"Jujur, gue emang lagi bohong tadi sama lo. Tapi gue ngak bisa cerita apapun sama lo. Dari dulu gue selalu nutupin semuanya sama lo dan gue rasa ini saatnya. Tapi gue mohon jangan pernah memberitahu siapapun!"

Nia mengangguk, dia sangat penasaran karena memang selama ini Nia belum tau apapun tentang sahabatnya itu.

"Sebenarnya, gue itu sepupu sekaligus mantannya my Cousin Rey."

Mata Nia membulat sempurna, sungguh dia sangat terkejut. Apa karena itu mereka berdua terlihat sangat akrab.

"Yah, karena itulah gue dan kak Rey seakrab ini. Jujur gue belum bisa ngelepasin dia. Gue masih sayang banget sama dia. Tapi gue rasa sekarang dia udah jatuh ke hati yang lain. Prioritasnya sekarang bukan gue lagi. Tapi kakak lo."

Nia diam mematung, tidak ada satu katapun yang bisa lolos dari tenggorokannya.

"Lo tau, saat di Villa! Gue dengar kakak lo teriak dan tentu saja itu membuatku penasaran. Gue menghampirinya dan saat itu juga hati gue telah hancur berkeping-keping. Gue tau tentang perasaan kakak lo di saat gue masih sangat sayang dan cinta sama kak Rey. Lo bisa bayangin apa yang gue rasakan. Di saat gue bisa ngendaliin perasaan gue untuk tidak mengeluarkan sebutir air mata, gue di kejutkan lagi sama perempuan yang di bawa oleh kak Rey. Bahkan namanya hampir sama dengan nama gue. Sintya! Lo tau, waktu itu gue langsung pergi dan semalaman gue nangis tanpa ada seorangpun di samping gue. Gue rasa kak Tia juga kondisinya sama kayak gue."

"Kenapa lo ngak pernah cerita? Apa lo ngak mau berbagi sama siapapun?"

Sinta tersenyum kecut, dia tau betul apa yang bakal terjadi jika dia membeberkan semuanya pada orang yang belum bisa dia percaya.

"Maafin gue, gu-gue cuman belum bisa percaya sepenuhnya sama lo."

Sinta sudah berurai air mata, tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak dan bulir itu pun meluncur dengan bebas.

"Maafin gue, sebenarnya waktu itu gue belum rela kak Rey di miliki siapapun. Kak Rey hanya milik gue dan akan selalu milik gue. Soal kejadian di Villa! Sebenarnya gue tau betul apa yang terjadi. Gue ada saat kak Tia dan Sintya bertengkar hanya saja pikiran gue sedang kacau. Maafkan gue karena ngak ngasih tau apapun sama lo. Tapi sampai saat ini gue ngak bakal mampu buat ngiklasin kak Rey ke kak Tia. Gue ngak akan biarin itu terjadi. Gue akan ngelakuin apapun untuk ngembaliin Kak Rey ke gue. Gue ngak bakal biarin kakak lo itu ngerebut apa yang harusnya gue milikin."

Sinta menyeringai walaupun masih mengeluarkan air matanya. Nia yang baru saja mendengar kebenaran entah harus bagaimana. Di sisi lain Sinta adalah sahabatnya tapi sahabatnya memiliki hati yang lembut bukan seperti ini. Yang memiliki obsesi hinga ingin melakukan apapun.

"Sinta, gue ngak tau mau bilang apa sama lo. Tapi sahabat yang gue kenal selama ini bukan yang kek gini. Bukan seperti Sinta yang terobsesi sama sepupunya sendiri."

"Gue capek Nia! Gue capek pura-pura baik padahal ngak sama sekali. Gue capek!"

"Sinta, dengerin gue! Jangan sampai obsesi lo itu ngebuat lo jadi monster."

"Gue ngak peduli! Gue mau jadi monster atau apalah. Yang jelas hak gue ngak di ambil oleh orang lain. Gue akan ngelakuin apapun meskipun itu akan berbahaya buat orang lain dan diri gue sendiri. Gue akan ngebahayain siapapun itu termasuk kakak lo."

Selamat datang di Bandar Udara International Soekarno Hatta Jakarta.

"Ingat apa yang gue katakan tadi, gue ngak tau setelah ini lo masih nganggep gue sahabat atau tidak gue ngak perduli."

Sinta beranjak dari duduknya meninggalkan Nia yang masih tidak percaya dengan sikap yang baru saja di lihatnya.

Sebagian penumpang telah turun dan hendak mencari keluarganya. Apa yang akan Nia lakukan sekarang? Bahkan dia merasa pusing sekarang.

Sekitar satu menit yang lalu Tia, Farhan, dan Reyhan telah bangun dan mengumpulkan nyawa masing-masing.

***

DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang