"... aku terbiasa ditinggalkan, jadi kupilih untuk tidak menetap di hati manapun."
Suara gerimis kembali terdengar menembus jendela kaca kamar milik Ananta, menembus tirai navy itu hingga sampai di telinganya. Ananta membuka laci mejanya belajar, ada botol obat warna putih yang ia buka. Tapi sepertinya obat itu telah habis,dia mendecak kesal dan duduk sejenak terdiam.
Gerimis itu masih terdengar meski ritmenya mulai tersamar, menunggunya reda seperti menunggu pelangi yang tak tentu ada. Anantapun menyahut jaket di belakang pintu kamar dan memakainya sambil menuruni tangga rumahnya, suasana di bawah sepi, sepertinya mamanya belum pulang, atau mungkin sudah memutuskan untuk tidak pulang.
Sebelum keluar Ananta mencari payung birunya, tapi entah payung itu tidak ada di tempat terakhir kali dia meletakannya.
"Cari apa?" samar terdengar sauara wanita berusia sekitar 45 tahun yang baru masuk dari pintu samping rumahnya, dia mama Ananta yang baru datang dari officenya dengan baju dan rambut yang terlihat basah kehujanan.
"Payung," jawab Ananta datar.
Mamanya meletakkan tas kulit hitam di atas meja makan, perlahan melepas melepas alrojinya.
"Mau kemana? Baru bangun?" Tanya mamanya lagi, Ananta tidak menjawab dan masih sibuk mencari payung itu di rak kotak yang terdapat beberapa payung lipat.
"Anant, ada yang mama mau omongin." Mamanya kembali mengajaknya bicara, kali ini Ananta berdiri menghadapnya.
"Mama akan pulang ke Kyoto sabtu ini," ucap mamanya yang hanya diterima tatapan datar oleh Ananta, seakan hal itu sudah tertebak olehnya.
Dia akan pergi lagi, itu yang teresit di batin Ananta sekarang.
"Kabari Anant kalau nanti mama mau balik ke sini."
"Mama tidak akan kembali Anant."
Ananta diam, dia menunggu penjelasan apa yang dimaksud mamanya.
"Karena itu mama mau kamu ikut, setelah kelulusan nanti mama akan jemput kamu." Keputusan ini terdengr tidak adil baginya..
"Anant sudah pernah membahas ini dan jawaban Anant tidak akan pernah berubah, Ma."
"Nande?" lirih mamanya terdengar sedih.
"Mama mau berpisah sama papa, mama mau pulang kembali ke Kyoto, apapun keputusan mama Ananta selalu coba nerima itu. Dan aku minta mama juga pahami keputusanku."
"Bukan keinginan mama untuk pisah Ananta, papamu yang sudah bermain di belakang mama!"
"Karena mama tidak pernah ada waktu buat papa."
"Ananta!"
"Aku ga suka denger pembelaan dari sisi manapun, kalian semua sama salahnya dan jangan minta aku buat berpihak ke salah satunya," tukas Anant dengan raut wajah kalutnya.
Hening, keduanya kemudian hening sejenak. Wanita berdara Kyoto it duduk terdam di meja makan, Ananta kembali mencari payung birunya yang lagi-lagi mengambil erhatian mamanya.
"Kamu cari payung biru?"
Seketika Ananta menghadap mamanya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANANTA
Novela JuvenilMungkin akan terbaca membosankan karena aku selalu mengatakan aku mencintainya, tapi memang tak pernah ada rencana di bab manapun untuk mengakhiri perasaan itu. Bab yang isinya penuh dengan dia, tentang bagaimana aku yang selalu menatap punggungnya...
