Luka yang Tau Diri

3.3K 225 22
                                        

".... berharap seperti seni yang tak tau diri;"



"Key? Laura ngomong apa?"

Keysa masih diam, raut sedih di wajahnya jelas ketara. Banyak hal yang sedang dicerna oleh isi kepalanya, rasanya seperti otak spongebob yang pernah konslet.

"Keysa!" Saat Shinta dan Ulfa menunggu jawaban Keysa, seorang laki-laki berteriak memanggilnya di ambang pintu kelasnya.

"Busyettt siapa lagi ini, sibuk banget idup lo Keyy hari ini."

"Keyyy! Roy berantem," ucap laki-laki ber classtag IPS, mendengar itu Keysa langsung berdiri.

 Dia keluar kelas lagi ke arah gudang yang di bilang laki-laki tadi. Tapi sesampainya di gudang belakang, tidak ada siapapun di sana. Dan saat itu juga bel masuk terdengar, Keysa terlihat kalut sekarang.

"Udah bel masuk, kalian ke kelas aja ya, nanti gue susul," ucap Keysa pada Ulfa dan Shinta yang ikut mengikutinya, tatapannya sayu.

"Lo mau kemana?" Shinta menggenggam tangannya.

"Gue liat ke ruang BP dulu, kalau nanti ada guru tolong bilang kalo gue masih di toilet," pinta Keysa membalas genggaman Shina sebentar.

"Gue temenin?" Shinta masih sedikit kawatir, karena banyak hal yang terjadi hari ini pada Keysa.

"Ga usah Shin, lo balik. Roypun ga bakal banyak cerita kalo ada kalian berdua. Gue temuin dia dulu ya, nanti di kelas gue ceritain apa yang terjadi."

"Semua?"

"Iya, semuanya."

Shinta dan Ulfapun akhirnya kembali ke kelas mereka. Keysa berlari menuju ruang BP yang bersebelahan dengan perpustakaan, pintunya tertutup dengan suara lantang dari dalam yang jelas suara guru BP.

Keysapun duduk, dia mengetuk-ketukkan kakinya di lantai. Ada kecemasan dan sedikit trauma yang tertriger di benaknya. Karena dulu waktu SMP, hal ini pernah terjadi. Roy terseret perkelahian yang membuatnya koma hampir 4 hari, dan itu hal yang menakutkan baginya jika harus terulang lagi.

Kreeekk, tak lama tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Keysa segera berdiri dan menghadap ke arah pintu.

"Roy!" Ctakkkkk!

"Akhhh, gue babak belur gini malah lo jitak Nyet!" keluh Roy saat Keysa tiba-tiba sudah berdiri di depannya.

"Habis ngapain lo!" Geram Keysa sambil sedikit menarik lengan baju seragam Roy yang sudah berantakan, kancing bajunya beberapa hilang, ada bekas darah keluar dari hidungnya dengan memar sedikit di bawah matanya. Walaupun pukulan Keysa cukup keras, teriakannya cukup melengking, tapi Roy bisa melihat mata penuh kawatir yang mulai berkaca-kaca seolah sekuat tenaga ia tahan itu.

"Habis nguli tadi sama Pak Rahmat," jawab Roy sambil tertawa menunjuk pak Rahmat Tukang di sekolahan yang sedang memperbaiki pagar belakang.

Satu pukulan lagi melayang di lengan atas Roy, "gue aduin lo ke tante!"

Roy tertawa dengan luka diujung bibir kirinya itu, dia sedikit mengacak rambut Keysa pelan. Roy juga sedikit membungkukkan badannya menyamakan tingginya dengan Keysa, dengan tatapan dalam itu Roy tersenyum.

"Lo balik ke kelas, gue mau ke UKS bentar. Gue takut soalnya."

"Takut apa? Idung lo patah, tulang lo ada yang copot?" Tanya Keysa dengan terlihat polos.

"Gue takut kalo ga gue bersihin, cakep gue ilang."

"Apaan si lo anj-"

"Lo ngomong kasar gue aduin ke mama lo." potong Roy cepat sambil membungkam mulut Keysa.

ANANTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang