"... mungkin mustahil itu ada, hanya saja aku yang tak mau percaya."
Matahari hangat, daun daun yang kering rapuh untuk memaksa kuat. Dengan hati yang susah payah ia tata semalam, Keysa melangkahkan kakinya dengan tegar. Dari depan gerbang sekolahpun dia tau beberapa orang memperhatikannya, mungkin rumor tentang penolakan itu sudah tersebar.
"Key." langkahnya terhenti saat dia berpas-pasan dengan seorang laki-laki berkacamata, yang berdiri di samping tangga ke arah kelasnya.
"Ada apa Bon?"
"Lo ..." ucapannya terhenti di kerongkongan, seolah ada hal yang tak ingin ia dengar tapi harus ditanyakan.
"Apapun yang lo denger soal gue, itu bener." sahut Keysa sebelum Boni melanjutkan ucapannya, seolah dia paham apa yang ingin diutarakan.
Raut wajahnya terlihat lega bercampur sendu, ada rasa diambang menyerah yang tersorot dari matanya.
"Keysa!!!" suara lantang Shinta membuat Boni dan Keysa menoleh barengan, dari anak tangga teratas, Shinta melambaikan tangannya memanggil.
"Gue duluan ya, Bon," disitu Boni mengangguk dengan senyuman kecilnya.
"Ikut gue sekarang!" Entah apa lagi yang terjadi, Shinta menarik lengannya cepat menuju arah perpustakaan. Sesampainya di lorong perpus, terlihat Ulfa yang sudah duduk di depan ruangan itu.
Keysa duduk dengan bingung, kenapa kedua sahabatnya itu membawanya ke sini.
"Lo tau? Rumor tentang lo udah nyebar Key."
"Gue udah bakal ngira itu, Shin. Apa yang perlu dikagetin lagi?" Keysa menjawab santai seolah paham akan situasinya.
"Ini diluar yang lo kira, Key!" kali ini Ulfa membuat tatapan bingung Keysa kembali.
"Semua orang ngiranya Ananta yang lo tolak, dan semua orang ngira Roy berantem sama Anant karena dia ga terima Ananta deketin lo," ujar Shinta yang membulatkan mata Keysa seketika.
"Dari mana orang-orang itu bisa mikir gitu, itu ga bener!!!" Keysa cukup kaget, ada kepanikan yang tersirat di wajahnya.
"Dan sekarang, hampir semua orang ngira lo yang nolak Anant," tambah Ulfa.
"Ha?" Keysa terdiam tak habis pikir, apalagi dia teringat ucapannya pada Boni tadi, itu sama saja dia memvalidasi rumor yang beredar itu.
☀️☀️☀️
"Lo ditolak Keysa?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Boni yang duduk tepat di depan bangku Ananta.
"Apa maksud lo?" Ananta mengernyitkan dahinya seakan bingung.
"Hufftttt," Tapi Boni malah bernapas lega.
"Sekarang gue lega karena ada yang senasib sama gue, tapi jangan lo pikir gue bakal nyerah gitu aja. Kita bersaing sehat!" Ucap Boni dengan percaya diri, dan ini membuat Ananta semakin terlihat bingung. Begitupun Laura yang nampak baru datang itu.
"Ha? Maksud lo apa Bon?" Cecarnya, tapi Boni malah berdiri dari duduknya.
"Lo tanya aja sama orangnya," celetuk Boni yang kemudian pergi meninggalkan kelas, seolah dia tak ingin berbicara dengan Laura.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANANTA
Teen FictionMungkin akan terbaca membosankan karena aku selalu mengatakan aku mencintainya, tapi memang tak pernah ada rencana di bab manapun untuk mengakhiri perasaan itu. Bab yang isinya penuh dengan dia, tentang bagaimana aku yang selalu menatap punggungnya...
