Tak Sampai

2.6K 167 15
                                        

"... rasa yang tak pernah sampai tujuan, masih kugenggam dengan nyaman sendirian."

Cuaca sedikit mendung, angin ikut hadir seolah langit sedang merayunya menyingkirkan bagian gelapnya hari ini. Karena langit ingin memberi kesempatan senja mengucapkan selamat tinggal, sebelum gelap benar-benar nyata. Suasa sekolah juga sedikit lenggang, mulai sepi karena bel pulang sudah berbunyi 35 menit yang lalu.

"Roy!" 

Ditengah mendung dan sunyi yang tertemani angin sore itu, seorang laki-laki berkacamata dengan rambut sedikit ikal berlari mendekati Roy yang sedang duduk diam di tribun taman sekolah.

"Anak-anak udah nungguin tuh," lanjut Boni saat berdiri di depan Roy.

"Gue gak ikut latihan hari ini, ntar gue nyusul kesana pamitan sama yang laen." Jawab Roy membuat Boni memilih duduk di sampingnya.

"Kenapa? Badan lo masih sakit?" tanyanya yang mengingat kejadian berantem kemarin, tapi Roy menggeleng untuk mentidakkannya.

"Nyokap gue sakit, mau tebus obatnya di apotek," jelasnya, Boni mengangguk mengerti. Tapi dia sempat terdiam sejenak, tak kunjung beranjak seakan ada hal yang ingin dia ucapkan.

"Kenapa lo semarah itu sama Anant?" tiba-tiba Boni mengeluarkan pembicaraan itu.

Roy tersenyum miring, "ga ada alasan." ucapnya.

"Ga masuk akal, lagian Keysa juga udah nolak. Apa yang perlu diributin lagi? Emangnya dia ganggu Keysa?"

"Ha?" Roy cukup terkejut dengan pernyataan Boni.

"Kenapa respond lo kayak baru tau aja sih," Boni malah ikutan bingung.

"Anant ditolak Keeysa?" Tanya Roy meyakinkan lagi apa maksud dari ucapan Boni.

"Lo baru tau?"

"Dari mana lo bisa berpikir kayak gitu?"

"Emang kenyataannya gitu kan, waktu gue tanya ke Keysa dia juga ga ngelak."

Roy diam, pikirannya sedikit bingung. Jelas itu salah, tapi apa iya Keysa menyetujui kesalah pahaman itu.

"Roy? Lo baru tau? Terus ngapain lo berantem, apa lo salah paham?" Boni terlihat terus ingin tau karena respond Roy yang kebingungan.

"Roy?" Sekali lagi Boni menggertak Roy yang terdiam itu.

"Gue males bahas itu, lo ikut balik ke lapangan gak?" dibanding menjawab, Roy berdiri dari duduknya dan mulai mengalihkan pembicaraan.

Jelas ada yang tidak benar dari apa yang terjadi sekarang, tapi sebelum memikirkan itu semua Roy ingin menghampiri duu teman-temannya. Setelah berpamitan dengan tim basketnya itu, dan menyapa beberapa anggota baru dari kelas 2. Roypun balik, dia juga sudah mengirim pesan ke Keysa untuk menunggunya di rumah. Seperti janjinya semalam, dia akan mengantar Roy.

Pean itu terkirim tapi hanya terbaca, tidak ada balasan yang dia dapat dari Keysa. Secepatnya dia bergegas untuk pulang, tapi TAPPP! Satu langkahnya terhenti tepat di bawah anak tangga saat dia berpas-pasan dengan seorang laki-laki yang turun dari tangga lantai 2, langkah mereka saling bertemu dan terdiam dalam tatapan dalam yang tajam.

Ananta, cowok tinggi beraura dingin itu tak ingin lama diam, dia lalu melengos melanjutkan langkahnya dengan cuek ketika menyadari keberadaan Roy. Tapi Roy tak ikut diam, dia mengikuti langkah jenjangnya itu.

"Gue rasa ada kesalah pahaman." Ucap Roy cukup untuk terdengar Ananta yang berjalan 2 meter di depannya, tapi Ananta tak menyahut dia berjalan dengan sikap dinginnya.

"Lo tau soal hal ini?" ucap Roy lagi yang bergema di sepanjang koridor.

"Ya," kali ini Ananta menyahut.

ANANTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang