"Katanya, jangan salah paham."
"Nyett!!"
"Roy?"
"Mulai hari ini gue ga bisa anter lo pulang," ucap Roy yang datang-datang langsung mengeluh.
"Nyantai, bis banyak, ojol juga banyak."
"Tapi gue maunya anter lo pulanggggg," rengeknya.
"Yaudah si, gue bisa pulang sendiri. Kenapa emang?"
"Nanti gue ada latihan basket."
"Bukannya lo mau berhenti? Bulan depan udah ujian lohh."
"Terakhir, ini pertandingan terakhir gue."
"Kapan?"
"Mulai besok gue akan ke Bogor sama tim, pertandingan terakhir selama 4 hari di sana."
"Astaga cuma 4 hari," protes Keysa yang melihat ekspresi Roy yang berlebihan.
"Tetep aja itu lama buat gue ga ketemu lo."
"Yaudah gue mau ke kelas, balik sono lu."
"Key," Roy menahan lengan Keysa saat Keysa mau beranjak pergi, ada hal yang baru Roy sadari.
"Lo habis nangis?"
"Apaan si Roy, kagak."
"Bohong."
"Kos kaki lu tuh bohong."
"Ini mah bolong," tawa Roy terbahak, terlihat Keysa juga menahan tawanya.
"Udah ah gue mau ke kelas," ucap Keysa lagi karena Roy tidak melepas genggamannya.
"Dia nyakitin lo lagi?" bisik Roy sedikit mendekatkan wajahnya.
"Apa sih Royyy, enggak!"
"Selama gue pergi, lo harus selalu kabarin gue, lo wajib balas chat gue, lo fardhu angkat telepon dan vc gue."
Keysa sedikit tertawa, "Iyaaa Royyy."
"Janji?"
"Jambu."
"Jambi?"
"Jamban?"
Hahahaha, gelak tawa mereka pecah bersama. Roy menyebalkan, tapi dia juga menyenangkan.
...
Langit sore tampak tenang, burung-burung juga terlihat pulang. Keysa melirik sekilas jam tangannya, masih sempat untuk naik bis pikirnya. Setelah bertemu Roy d lapangan, Keysa langsung menuju halte untuk balik. Saat sampai di sana, ternyata bis sudah datang. Dengan berlari Kecil Keysa mendekatinya, tidak begitu ramai tapi cukup penuh.
Keysa ambil duduk di samping jendela, ada perempuan berambut sebahu dengan baju motif bunga. Parfumnya sangat menyengat, wangi tapi bukan type aroma yang Keysa suka. Aroma kayu manis yang kuat dgabungkan dengan cengkeh, mawar, dan cendana. Aroma yang cukup menarik tapi sedikit membuat Keysa pusing.
Saat tanpa sengaja menoleh ke arah samping kirinya, Keysa melihat Ananta. Dia bersandar dengan memejamkan matanya. Meletakkan tas ransel di kursi sampingnya, seolah memblokir siapapun untuk tidak duduk di sampingnya. Pasti dia lelah, biarkan dia tidur. Keysa sedikit tersenyum melihatnya, sangat tampan dan rasanya ingin sekali selalu ada untuknya, di dekatnya, tapi luka pelukan tadi pagi masih terasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANANTA
Fiksi RemajaMungkin akan terbaca membosankan karena aku selalu mengatakan aku mencintainya, tapi memang tak pernah ada rencana di bab manapun untuk mengakhiri perasaan itu. Bab yang isinya penuh dengan dia, tentang bagaimana aku yang selalu menatap punggungnya...
