"Bagaimanapun caramu membuangku, aku akan tetap mengusahakan untuk di sampingmu."
Di balkon rumahnya, Keysa berdiri terdiam. Melihat cahaya kota di kejuahan, di sela-sela dahan yang dedaunannya sibuk melepaskan CO2. Sama seperti halnya hatinya sekarang yang perlahan melepas semua keresahan, terlalu sesak, harus pelan-pelan dilepas untuk bisa menata lebih rapi apa yang sebenarnya terjadi.
Ananta sudah membuangnya, melepas mentah-mentah semua perasaannya. Tapi bodohnya, perasaan itu tak pernah benar-benar marah, tak pernah hilang bahkan terus mendorongnya untuk tetap berada di sana.
"Enggak, gue ga bakal nyerah gitu aja," ucap Keysa tiba-tiba merasa ada hembusan angin yang merubah mindsetnya cepat, seberapa keras otaknya itu menahan semua kata hatinya. Percuma! Dia tidak bisa menahannya lagi, dia tidak bisa lagi membohongi hatinya.
Keysa masuk, menutup pintunya dan menuju meja dapur. Dia didihkan air, dan membuka bunga kering yang dia simpan kemarin. Malam yang panjang, kali ini bukan cupcake tapi teh yang Keysa harap bisa sedikit membantunya tidur nyenyak.
Aku tau, aku cukup tidak tau diri dengan masih berusaha memilih hatimu. Aku tau, aku bukan orang yang kamu harapkan ada di sana, tapi sejauh apapun jarak itu aku tak bisa berhenti berlari mendekatimu. Tak ingin jauh, dan dengan ketidak tau dirian itu aku ingin di sampingmu. Terlihat ataupun tidak, teranggap ataupun terbuang, perasaanku tidak akan pernah berubah. Mungkin ada masanya, tapi tidak sekarang. Karena sejauh apapun, kamu adalah hal yang aku mau, perasaan itu tak pernah lengah untuk terus mengupayakan rasanya itu.
Jadi ijinkan aku, tolong kali ini biarkan aku jatuh sekali lagi. Jika memang harus terluka lagi, biarkan saja itu terjadi. Mungkin, di sana akan kutemui jalan yang membuatku pergi. Jadi tolong biarkan saja, biarkan rasa ini tetap ada sebentar saja.
...
Keysa berdiri di pinggir halte dengan memeluk tumbler warna hitam yang hangat, dia juga menenteng paperbag kecil bergambar beruang membawa daisy yang kelopaknnya tinggal 1.
Bis berwarna silver dengan sedikit corak berkarat di bagian belaknangnya itu berhenti tepat di depan Keysa, dengan hati yang sedikit gugup dia melangkah masuk ke sana.
Matanya langsung tertuju pada laki-laki di tempat duduk paling belakang, tak sering berubah dia selalu ada di sana. Dan kali ini tatapan mereka sempat saling bertemu, tapi Keysa cepat menariknya karena tatapan itu memancing kegugupannya semakin liar.
Ananta terlihat duduk dengan tenang, walau jelas dia terlihat kurang sehat. Tatapannya dingin, tapi masih melihat ke arah Keysa. Dia melihat punggung mungil itu sedang memeluk tumblr kecil dengan gugup, bahkan kegugupannya berhasil Ananta lihat. Enta apa yang membuat perempuan itu gugup, da entah apa yang membuat Anant masi memperhatikannya.
Sekitar 16 menit bispun berhenti di halte dekat sekolah, Kysa berdiri masih dengan diamnya. Dia sempat melirik ke arah Anant yang sedang memakai tasnya dan bergegas berdiri, Keysa segera turun dan berhenti di samping halte untuk menunggunya.
Tatapan Ananta langsung menemkan Keysa saat dirinya turun dari bis, dia masih bisa melihat kegugupan dalam wajah perempuan itu. Meskipun dia terlihat dingin, Ananta cukup peka sepertinya ada yang ingin perempuan itu sampaikan padanya.
"Anant," Yappp, suara kecil itu memanggilnya. Langkahnya yang baru saja melewatinya itupun terhenti, dia menoleh ke arah Keysa yang sudah berdiri luru di belakangnya.
Keysa semakin terlihat gugup tapi dia berani menatap mata dingin Ananta, dengan gekagat yakin dan tidak itu Keysa menyodorkan tumblr hitamnya. Ananta masih terdiam bingung, tapi dia menerima botol itu. MENERIMA.
"Itu Chamomile tea, bisa kamu minum sejam sebelum tidur. Dan ini, bisa kamu seduh sendiri dan udah aku kasih note cara bikinnya," ucap Keysa ganti memberikan paperbag kecilnya, dan Ananta menerimanya lagi.
"Buat apa?"
Keysa cukup tidak menyangka Ananta menerima pemberiannya, bahkan memberikan kesempatan untuk menjelaskannya.
"Aku tau kamu punya masalah susah tidur, jadi mungkin ini bisa membantu. Selain itu minuman ini juga bisa meredakan stress, dan kecemasan. Tolong jangan ditolak kali ini aja."
"Aku ga butuh," yaaa, Ananta tetaplah Ananta. Dia cukup dingin untuk menerima perhatian hangat seperti ini.
"Kamu butuh, tidak ada gunanya berbohong."
Anant diam, kali ini tatapan Keysa berbeda. Ada rasa peduli dan kasihan di sorot matanya, dan Ananta menyentuh kehangatan itu. Dia membuang sekilas pandangannya, tatapan Keysa terlalu hangat untuknya.
Sebelum Ananta menolaknya lagi, dan sebelum semakin banyak orang yang memperhatikannya. Keysa melangkah pergi, tanpa mengatakan apapun lagi, dia pergi.
Ananta menatap punggung itu, punggung yang sama saat di lapangan basket. Saat itu bahkan Ananta bisa melihat luka di tiap langkahnya pergi, tapi kali ini langkah itu terlihat...
Berarti.
Suasana sekolah belum terlalu ramai karena hari ini jam pelajaran diundur satu jam karena ada rapat sekolah, sebentar lagi ujian akhir semester satu dan setelah itu akan ada banyak ujian di akhir tahun ini. Ananta terlihat memasuki ruang loker, dia berdiri terdiam di depan pintu lokernya.
Ananta emperhatikan botol tumblr hitam yang isinya masih hangat itu, saat dia buka aromanya tenang dan ada sticker sticker sinchan yang lucu. Ananta meletakkannya di dalam loker, lalu ganti melihat isi yang ada di paperbag kecil itu. da beberapa bungkus bunga kering dan dua kertas noted bermotif kucing di ujung bawahnya.
Kertas pertama, Keya menuliskan cara seduh minuman itu. Rapi, jelas dan tertulis tangan yang khas. Ananta sudah sangat hapal dengan tulisannya, dan satu kertasnya lagi tertuliskan satu kalimat yang membuat Ananta cukup terdiam kali ini. Dia mengembuskan napasnya berat, seakan ada hal yang mengganggu pikirannya sekarang. Dia menutup lagi paperbag itu dan menyimpannya, kali ini dia simpan di loker dengan smartkey.
"Ananta?" suara perempuan menyebut namanya, saat dia menoleh perempuan itu mendekat. Laura.
"Mamamu berangkat ke Tokyo?"
Ananta diam sejenak, dia menutup semua pintu lokernya "Ya, dia pulang ke Kyoto."
"Apa mediasi gagal? Bagaimana sidangnya?"
"Mau bagaimanapun mereka ingin berpisah, jadi untuk apa memaksa." jawab Ananta santai.
Tapi tiba-tiba saja Laura memeluknya, dengan berjinjt perempuan itu melingkarkan tangannya di leher Anant. "Are you okay?" lirihnya di samping telnga Ananta.
"Lepas," gusar Anant terlihat tdak nyaman. Benar, Laura melepasnya. Tapi sayangnya, ada gadis kecil yang terlanjur melhat pelukan itu.
Keysa melihatnya, baru saja dia menginjakkan kaki di ruangan itu. Dan di sini tdak sepi, ada beberapa orang lainnya. Tapi Keysa telah melhat kejadan itu, walaupun sebentar dan tidak ada respond dari Ananta. Tetap saja, itu cukup untuk di bilang menyakitkan.
"Dia pergi, setelah melihatku dia pergi. Dia pasti terluka lagi, dan mungkin akan segera benar-benar pergi."
...
"Anant, maaf untuk kelancanganku kemarin dan kemarinnya lagi. Maaf untuk perasaan yang mungkin mengganggumu itu, maaf untuk semuanya. Aku terima perasaan sepihak ini, tapi bisakah kamu membiarkannya saja? Jangan minta aku untuk berhenti, tolong biarkan saja. Aku tidak akan lebih mengganggumu dari sebelumnya, hanya kali ini saja aku ingin sedikit membantu. Kuharap kamu bisa merasakan kalau aku ada, cukup itu. Apapun masalahmu, kuharap kamu selalu baik-baik saja. Trimakash sudah menerima ini."
-Keysa
KAMU SEDANG MEMBACA
ANANTA
Teen FictionMungkin akan terbaca membosankan karena aku selalu mengatakan aku mencintainya, tapi memang tak pernah ada rencana di bab manapun untuk mengakhiri perasaan itu. Bab yang isinya penuh dengan dia, tentang bagaimana aku yang selalu menatap punggungnya...
