"Dari sekian banyaknya bintang yang bia menghilang kapan saja, kamu seperti venus yang berbeda."
Malam ini sedikit tenang, sedirian dan masih dengan ingatan yang selalu menjadi momok di kala malam. Setiap dia baringkan badannya, dia mulai tarik selimut yang seharusnya melelapkannya. Yang ada malah memory itu, ayangan ingatan di mana dia tinggal.
Dulu, mungkin dia akan menangis, merengek, bahkan mogok makan untuk sekedar meminta mamanya di sisinya. Pertengkaran sudah menjadi tontonannya sejak kecil, papa yang jarang pulang, mama yang sibuk dengan pekerjaannya, semua menjadi hal biasa yang tanpa sadar membawa trauma.
Serapah, makian, kebisingan, teriakan, semua masih terekam dalam sisi gelap ingatannya. Ditinggalkan bukanlah hal baru baginya, belajar hancur sejak kecil menjadikannya lebih kuat dari semestinya.
Meski semua itu, tak jarang meremukkannya perlahan.
Ditengah ingatan yang tak akan bisa terhapus itu, Ananta teringat pada tumblr hitam yang tadi dia masukkan ke dalam kulkas. Ananta mengambilnya, dia membawa tumblr itu ke dalam kamarnya.
Pikirannya teralihkan, terbayang wajah Keysa. Ananta teringat pada surat kecil di dalam paperbag tadi, dia meletakkan tumblr itu di meja belajarnya dan mengambil secarik kertas warna nila. Setelah membacanya ulang, ada senyuman kecil di ujung bibirnya. Ananta meletakkan kertas kecil itu di sebuah kotak acrilik, di atas tumpukan beberapa kertas kecil dengan berbagai macam warna. Dan semua kertas kecil itu, adalah dari Keysa. Tulisan Keysa, yang Ananta simpan dari sekian cupcake yang dia dapat di loker miliknya. Dan baru akhir-akhir ini dia tau Keysa orangnya, dan selama ini kalimat dari surat itulah yang menjadi salah satu alasan Ananta untuk tetap bertahan di dalam kondisinya.
Ananta menatap dalam ke arah surat-surat itu, dia juga teringat kejadian sore tadi. Padahal dia jauh lebih melukainya, tapi bagaimana bisa dia jauh lebih marah ketika ada orang lain yang melukainya juga.
Saat di rumah Keysa, satu hal yang Ananta rasa ada yang sama. Rumah besar itu gelap, dingin dan sepi. Dia merasa melihat dirinya di diri Keysa, pasti selama ini dia juga tidak jarang kesepian. Bagaimana bisa dia sembunyikan rasa sepi itu di balik keceriaan dan tingkah cerobohnya selama ini, bagaimana bisa di dalam rumah yang sunyi itu senyumannya mash hangat.
"Baka," lirihnya pelan saat terbayang wajah kesakitan Keysa saat dia mengobatinya tadi, ada sedikit senyuman seolah menunjukan apa yang terbayang olehnya sekarang itu terbayang menggemaskan.
...
"Ananta yang bantuin lo?" Shinta dan Ulfa mendengarkan cerita seru Keysa yang begitu dengan exited dia ceritakan.
"Ya, dia yang obatin luka gue," lanjutnya dengan ekspresi sumringah di pagi yang cerah ini.
"Mimpi apa dia? Lo ga halu kan, Key? Yang luka kaki lo doang kan, kepala lo aman?" mendengar cerita Keysa, justru Shinta merasa tak percaya.
"Gue ga haluu!" rengekannya.
"Mungkin dia kasihan," celetuk Ulfa yang menciutkan senyuman Keysa, itu terdengar masuk akal.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANANTA
Teen FictionMungkin akan terbaca membosankan karena aku selalu mengatakan aku mencintainya, tapi memang tak pernah ada rencana di bab manapun untuk mengakhiri perasaan itu. Bab yang isinya penuh dengan dia, tentang bagaimana aku yang selalu menatap punggungnya...
