"...seberapa sering luka mengajariku kata benci, cinta itu akan tetap ada dengan perasaan jujurnya."
"Boleh aku tanya Roy?"
"Apa?" suara Roy akhirnya terdengar, entah apa yang merisaukan kepalanya hingga sedari tadi dia hanya terdiam.
"Kenapa lo berantem sama dia?" Keysa membuka pembahasan lama lagi, tersirat sedikit kemuakkan di wajah Roy mendengar hal itu lagi.
"Lebih baik lo ga tau." awabnya dengan nada datar seolah ingin obrolan itu cukup sampai di situ.
Tapi Keysa masih ingin tau, dia menatap Roy dengan serius. "Kenapa?"
"Kalau lo tau lo bakal benci sama dia."
"Bagaiamana lo tau, gue bakal benci kalau tau?" Tambah Keysa mengulik lagi tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua.
Roy diam.
"Bukannya lo yang nyuruh gue buat jauh dari dia, bukankah harusnya lo kasih tau gue biar gue punya alasan benci dan ngejauh dari dia?" Keysa terus mendesak, dia menelaah setiap inci ekspresi Roy.
"Setelah gue pikir, gue rasa itu ga akan cukup buat bikin lo benci sama dia."
"Kenapa?"
Roy melipirkan mobilnya, dan berhenti. Dia menatap dalam ke mata Keysa, "karena gue ngelihat cinta lo lebih besar dari apapun."
Keysa tertegun, Roy menarik pandangannya dan menatap ke depan seakan kesal dengan kenyataan yang baru saja dia akui barusan. Dengan helaan napas lembutnya, dia terbayang kejadian tadi di mana Keysa dan Ananta saling tersenyum. Dia tidak tau obrolan apa di antara mereka, tapi senyuman itu, Roy melihat ketulusan di sana.
"Kejar kalo itu emang kebahagiaan lo," ucapnya dengan kembali menatap ke arah Keysa.
"Lo akan selalu gagal membencinya, karena perasaan lo jauh lebih gede dari itu." lanjutnya.
"Dan gue, gue akan selalu gagal membencinya ataupun ngebenci keadaan ini. Karena gue kalah dengan apa yang bisa bikin lo bahaga, Key."-r
...
Siang ini semua siswa pulang lebih cepat karena hari ujian, ujian berlangsung dua sesi, sesi pertama 2 jam dan di sela istirahat 30 menit. Sesi ke dua berjalan 2 setengah jam. Setelah itu, semua siswa diperbolehkan untuk pulang.
"Anant!"
Seorang perempuan berabut anang hitam yang cantik, menghampirinya di ambang pintu kelas.
"Soal papa kamu," dia memulai pembicaraan tapi Ananta langsung memotongnya.
"Aku udah ga peduli sama laki-laki itu, gausah bahas dia."
Ananta beranjak pergi tapi Laura lagi-lagi mengatakan hal yang etah itu perlu atau tidak ia dengar.
"Aku liat papa kamu di hotel mamaku, sama perempuan lain."
Ananta sempat berhenti, tapi dia sedang tidak mau membahas ini. Dia melanjutkan langkahnya dan tak menggubris panggilan Laura, mungkin niat Laura baik memberitahunya. Tapi entah rasanya, Ananta tidak mau mendengar itu. Rasa kecewa langsung menyeruak dalam di benaknya, rasa benci mulai mengakar dan mengiangkan ke stabilan detak jantungnya.
Ananta ke ruang lokernya, dia rasa dia perlu meminum beberapa obat dari dokter psikolog itu sebelum perasaan ga enak itu menguasai dirinya.
Saat ia buka sisi loker tanpa kunci untuk mengambil air minumnya, Ananta melihat paperbag warna hitam di dalam sana. Dia ambil paprbag itu, dan melihat isinya. Ada secari kertas di sana, yang setelah ia baca tulisan itu membawa senyuman di dirinya.
Ada bunga chamomile kering di sana, sekana lupa dengan kepanikan yang sempat menyerang dirinya. Ananta sekarang malah diam menatap tulisan itu dengan dalam, mujarab seakan itu penenang alami didirinya.
Ananta keluar dari ruang loker, dia membawa paperbag itu pulang bersamanya. Bahkan dia lupa dengan obat yang tadinya menjadi tujuannya ke ruangan itu, di area yang taj jauh dari parkiran, Ananta melihat Keysa.
Gadis cupcake itu pulang bersama Roy, di terlihat sudah tidak memakai tongkat jalannya dan itu melegakan bagi Ananta. Entah muncul dari mana perasaan itu, rasanya seolah melihatnya baik-baik saja menjadi hal yang perlu untuk dia pastikan.
Dan Ananta baru sadar, dia belum meminum obat penenang yang biasa ia minum kalau panic attack itu datang. Dia baru sadar, Keysa mengalihkan semuanya, Dan rasanya aneh, menyadari hal yang pernah ia sangka itu sedikt membingungkan.
"Maaf aku mengingkari janjiku, aku menyentuh lokermu lagi. Aku juga minta maaf karena sepertinya aku gagal menepati janjiku untuk menjauhimu, abaikan saja aku jika itu mengganngumu tapi jangan minta aku untuk berhenti dengan peasaanku. Aku sudah cukup tidak tau diri dengan perasaan itu, jadi biarkan saja aku dan perasaanku terus ada dengan tak tau malu. Aku cuma mau kamu tau, aku akan selalu ada. Cukup itu."
-Keysa
...
KAMU SEDANG MEMBACA
ANANTA
Novela JuvenilMungkin akan terbaca membosankan karena aku selalu mengatakan aku mencintainya, tapi memang tak pernah ada rencana di bab manapun untuk mengakhiri perasaan itu. Bab yang isinya penuh dengan dia, tentang bagaimana aku yang selalu menatap punggungnya...
