Insomniac

2.9K 192 38
                                        

"Aku selalu gagal dalam perkara membencimu, jadi tolong sekali ini saja beri aku pintu untuk berbagi tentang rasa yang terus menggagalkan itu."





Malam ini Keysa sendirian, mamanya akan pulang besok pagi karena mencari jam aman. Kalau memaksakan pulang jam 2 dini hari, orang yang pertama kali akan marah besar adalah Keysa. Karena di awal tahun ini, Keysa hampir kehilangan untuk kedua kalinya di kejadian yang mirip. Dia melarang keras, bahkan tidak akan mengizinkan mamanya untuk pulang dini hari dalam keadaan belum tidur sama sekali.

Suara sendok yang bersetuhan dengan dinding gelas kaca itu mengisi area dapur yang beriringan samar dengan suara percakapan drama korea di HPnya, Keysa mengaduk dengan hati-hati minuman yang baru saja selesai dia seduh itu.

Keysa belajar dari mamanya yang sering membuatkannya berbagai macam teh yang berkhasiat untuk kesehatan, salah satunya teh chamomile yang dibicarakan pak Alloy satpam rumah sakit tadi sore.

Kali ini Keysa membuat Teh hisbicus untuk mamanya Roy, dia juga menyisihkan beberapa bunga hisbicus kering agar mama Roy bisa membuatnya sendiri di rumah. Teh hibiscus ini merupakan teh herbl yang terbuat dari bunga kembang sepatu (Hibiscus Sabdariffa) yang dikeringkan. Rasanya asam manis, mirip cranberry. Minuman ini bisa membantu menurunkan tekanan darah, melawan radikal bebas, dan berpotensi membantu menurunkan berat badan. Semua itu Keysa pelajari dari mamanya, ada satu buku yang mamanya sendiri tulis tentang beberapa minuman teh kesehatan.

Selah teh itu jadi, dia menyimpannya di lemari es. Menyisihkan bunga hibiscus kering yang mau dia berikan ke mamanya Roy, dan menyisihkan beberapa bunga camomile kering untuk Pak Alloy. Sisanya dia simpan sendiri untuk jaga-jaga, ada bunga telang, ada rosella bahkan lavender.

Sebelum tidur, Keysa menatap langit-langit kamarnya. dia masih teringat Ananta dan Ruang psikologi itu. Pikrannya juga tertarik mundur oleh ucapan Laura saat itu, Ananta hidupnya sudah banyak masalah. Masalah apa itu sampai ruang psikolog menajdi arah langkahnya. ada rasa khawatir yang tertumbuk oleh perasaan insecure yang lagi-lagi mencoba membunuh perasaannya.

Dia peduli, tapi apa itu berarti. Dia kawatir, tapi perasaan itu dipaksa berakhir. Perasaannya tak berubah sedikitpun, tapi apa itu perlu. 



🌼🌼🌼





"Nyet!!" Roy mencegatnya persis di pintu bis, Keysa berhenti di ambang pintu dengan sedikit malas.

"Tadi lo ke rumah?"

"Enggak."

"Pembohong, teh di meja it dari lo kan?"

"Ya, buat Tante."

"Kenapa ga nunggu gue aja sih, kan bisa berangkat bareng?"

"Minggir,"tiba-tiba suara berat itu memotong obrolan mereka. Keysa langsung turun dan sedikit bergeser tana tau pemilik suara itu, tapi terdengar tak asing. Roy menatapnya, laki-laki yang masih memiliki bekas lebam di pelipisnya itu melewati mereka dengan dingin.

"Jadi dia beruang yang lo maksud selama ini?" lirih Roy mengalihkan pandangannya ke Keysa yang sekarang sedang mengamati punggung bidang itu.

Tak menjawab apapun, Keysa ikut beranjak. Roy yang masih diam itu melihat Keysa berjalan tak jauh di belakang Ananta, tak ia sangka pemandangan ini akan terjadi padanya.

Keysa bertemu dengan Shinta di koridor, dengan sedikit berlari kecil dia mengejar langkah Shinta untuk ke kelas bareng.

"Shin."

"Key?"

"Lo tau nggak, kemaren gue ketemu Anant."

"Di mana?"

ANANTATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang