Aina menunduk karena merasa bersalah. Dziqa melihat kearah sahabatnya dan kemudian tersenyum sambil mmengelusnya.
"Sebenarnya, bukan kamu yang menghancurkan hari itu." Kata Dziqa.
"Lah, terus siapa? Temen temen aku?" Tanya Aina.
"Bukan."
"Terus?"
Handphone Pak Zan berada di saku pun berbunyi. Seseorang menelponnya saat moment bahagia itu terjadi.
"Saya angkat telpon dulu. Tolong buatkan tehnya, ya. Kamu bisa, kan? Terimakasih." Kata Pak Zan.
"Oh, iya gak apa apa. Saya bisa, kok." Kata Dziqa.
Pak Zan pergi meninggalkan Dziqa dan mengangkat telponnya.Ternyata, Ibunyalah yang menelpon.
"Zan, anakku sayang, jangan dulu panik, ya." Kata Ibunya Pak Zan.
"Ada apa, Ibu?" Tanya Pak Zan khawatir.
"Bapakmu sedang sakit sekarang. Dia dirawat di rumah sakit. Sakitnya sudah keras sekali. Bapakmu merasa hidupnya tidak lama lagi..." Kata Ibu Pak Zan.
Pak Zan hanya terdiam tidak mengatakan apa apa. Ia sangat kaget. Ia belum siap kehilangan sang panutannya selama ini.
"Zan, kamu masih dengar Ibu?" Tanya Ibu Pak Zan.
"Iya, Bu. Zan masih dengar." Jawab Pak Zan. Air matanya sudah menetes karena kesedihan yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
"Satu hal yang Bapak inginkan, Zan." Kata Ibu Pak Zan.
"Apa itu, Bu?" Tanya Pak Zan.
"Berjanjilah kamu akan berusaha sebisa mungkin untuk menepati keinginan Bapak." Kata Ibu Pak Zan.
"Iya, Zan akan berusaha sebisa Zan. Apa keinginan Bapak?" Tanya Pak Zan.
"Bapak ingin kamu segera menikah dan mempunyai anak, Zan." Jawab Ibunya lembut.
Zan terdiam. Ia tentu saja belum siap untuk menikah sekarang. Ia masih mengumpulkan uang. Cita citanya adalah menikah ketika sudah sukses.
"Menikah dengan siapa, Bu?" Tanya Pak Zan.
"Siapapun pilihanmu, asalkan dia bisa membimbingmu, Ibu dan Bapak terima." Jawab Ibu Pak Zan.Dziqa secara tidak sengaja melewati Pak Zan yang sedang menelpon dan mendengar sedikit percakapan antara Pak Zan dan penelpon. Dziqa -yang tentunya sudah menyimpan rasa- sedih dan segera pergi ke kamar mandi. Ia langsung menangis disana sambil menyalakan keran air agar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa ia sedang menangis. Ia tidak bisa melihat Pak Zan menikah. Walaupun, ia tahu ia hanya murid bagi Pak Zan.
***
Aina kaget dan mengelus punggung Dziqa lagi. Ia tidak menyangka atas apa yang baru Dziqa ceritakan.
"Serius? Masa secepat itu? Kenapa pake sakit segala, coba. Haduh, ngerusak hubungan orang aja, ih. Kesel." Tanya Aina.
"Ya, mau gimana lagi. Lagian, aku bisa apa, coba? Siapa tahu aja, dia udah dapet perempuan yang terbaik bagi dia. Siapa tahu nanti aku bisa bahagia sama yang lain." Jawab Dziqa.
"Hmmm.. Nanti, pulang sekolah jalan, yuk! Aku yang traktir, deh! Buat ngilangin rasa sedih." Ajak Aina.
"Boleh, boleh."Dziqa dan Aina langsung pergi ke Mall untuk melepas sedih yang baru Dziqa rasakan. Mereka langsung ke kedai makanan dan membeli makanan sebanyak banyaknya -semampunya uang Aina- semau mereka.
"Kita udah beli dua makanan dua minuman. Harusnya, itu bisa melepas sedih. Biasanya, sih kalau udah makan banyak aku langsung seneng." Kata Aina.
"Makasih, ya udah ngajak aku makan di sini." Kata Dziqa.
"Iya, gak apa apa. Yang penting kamu bahagia. Oiya, aku denger ada promo di toko baju langganan kita, loh! Beli dua harganya sama dengan satu baju! Tapi hari ini doang. Mau kesana, gak?" Tanya Aina.
"Boleh boleh..."Mereka pun selesai menyantap makanan yang mereka pesan. Dziqa sudah merasa lebih baik sekarang. Mereka pun melanjutkan 'jalan jalan hiburan' mereka ke toko baju langganan mereka. Baju yang Aina sebut langsung terpampang di depan toko. Mereka langsung setuju untuk membeli baju itu dan kemudian mencoba bajunya di Fitting Room.
Saat mereka keluar dari Fitting Room, mereka melihat orang yang sudah tidak asing lagi. Orang itu melihat kearah mereka dan melambaikan tangan. Aina melambaikan tangan balik kepada orang itu. Orang itu pun menghampiri Aina dan Dziqa. Ternyata itu Pak Zan dan seorang wanita yang berjalan di sebelahnya.
"Hai, kalian lagi apa di sini?" Tanya Pak Zan. Raut wajahnya tidak terlihat bahagia sama sekali.
"Aku lagi nemenin Dziqa makan. Buat ngilangin rasa sedih." Jawab Aina.
"Kamu sedih, kenapa?" Tanya Pak Zan.
"Gak.. Gausah ada yang tahu kenapa aku sedih sekarang." Jawab Dziqa ketus.
"Oiya, Bapak kesini sama siapa? Sendiri?" Tanya Aina.
"Engg.. Kenalin, ini calon Bapak. Namanya Melissa." Jawab Pak Zan dengan raut muka cemas.
"Assalamualaikum." Kata perempuan yang bernama Melissa itu.
