Dziqa diam memandang Pak Zan yang datang ke rumahnya. Perasaannya capur aduk antara kesal dan senang Pak Zan datang ke rumahnya.
"Silahkan, Bapak mau ngomong apa?" Tanya Dziqa.
"Saya mau minta maaf atas kejadian kemarin." Jawab Pak Zan. "Saya.. Saya adalah seorang guru Biologi. Saya tidak bisa menikahi seorang murid walaupun saya sangat mencintainya."
Dziqa terdiam. Dia tahu itu. Dia juga tahu dia dan Pak Zan hanya murid dan guru. Tapi, hatinya terus memaksa untuk berkata bahwa dia sangat menyukai guru Biologi itu.
"Saya harus menikah karena Ayah saya." Kata Pak Zan.
Dziqa bisa melihat ada kesedihan terpancar di mata Pak Zan. Dziqa menahan air mata jatuh dan kemudian menangis sejadi jadinya.
"Saya minta maaf, Dziqa." Kata Pak Zan. "Keputusan ini sudah bulat. Saya harus menikahi Melissa bulan depan."
"Saya mengerti, Pak. Justru saya yang harus minta maaf. Saya yang terlalu egois. Saya membuat Bapak merasa tidak enak. Maaf, Pak." Kata Dziqa. Air matanya menetes.
Pak Zan mengelap air mata itu. Dan, itu malah membuat Dziqa mengeluarkan lebih banyak air mata.
"Saya tahu perasaan kamu dan saya merasa hal yang sama." Kata Pak Zan.Mereka berdua terdiam sesaat. Dziqa terdiam mencerna ini semua. Apakah ini hanya mimpi? Atau kenyataan? Perasaannya pun campur aduk. Haruskah dia bahagia karena cintanya berbalas? Atau malah sedih karena orang yang dia cintai harus menikahi seseorang yang lain?
"Bulan depan, saya akan menikah dengan Melissa. Maafkan saya. Ini keinginan orangtua saya. Saya melakukan ini bukan didasari oleh cinta saya pada Melissa. Tapi, saya melakukan ini karena saya sangat mencintai Ayah saya." Kata Pak Zan sambil memberikan undangan pernikahan. "Mungkin memang berat untukmu. Terserah kamu mau datang atau tidak, saya terima apapun keputusanmu."
Dziqa menerima surat undangan itu dengan tangan gemeteran. Dia melihat nama Pak Zan di undangan itu. Dan juga nama Melissa, bukan Dziqa.
"Entah ini membuat kamu senang atau tidak, ketahuilah, Dziq, seseorang yang mengisi hati saya bukanlah Melissa, tapi.."
"Hachooh!" Terdengar suara bersin dari luar. "Eh, sori , lanjutin aja."
"Tapi kamu." Kata Pak Zan.
Air mata Dziqa menetes. Ia sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi.Pak Zan pun keluar dari kamar Dziqa. Ia pun pamit kepada Mama Dziqa dan kemudian pergi dari rumah Dziqa. Aina yang masih di taman pun langsung masuk ke kamar Dziqa. Aina melihat Dziqa yang menangis sejadi jadinya di kamar.
"Dziq?" Panggil Aina lembut sambil mengelus tangan Dziqa.
Dengan sekuat tenaga, Dziqa memberikan undangan pernikahan yang tadi Pak Zan berikan kepada Aina.Aina langsung diam. Dia kaget saat melihat undangan itu. Dia tidak menyangka bahwa Pak Zan akan setega itu menikah dengan orang lain disaat Dziqa mulai menyukai guru Biologi itu.
"Gila ya tu orang." Kata Aina.
"Kamu mau dateng ke pernikahan dia?" Tanya Dziqa sambil sesenggukan.
"Aku harus dateng menyaksikan, yah walaupun aku kesel." Jawab Aina.
"Aku gak tahu dateng atau enggak. Pokoknya, titip salam aja, ya kalau misalnya aku gak bisa dateng." Kata Dziqa.Hari hari selanjutnya, Dziqa datang ke sekolah dengan keadaan biasa, seolah-olah tidak ada masalah apapun yang terjadi padanya. Ia dan Pak Zan juga sudah seperti guru-murid biasa. Tidak ada kecanggungan diantara mereka.
"Siapa yang bisa menjawab soal di papan tulis, akan saya kasih tambahan poin!" Kata Pak Zan.
Dziqa langsung ngacung. "Iya, Dziqa! Silahkan ke depan!" Kata Pak Zan.
Dziqa langsung menghampiri Pak Zan untuk meminta spidol dan kemudian menuliskan jawabannya di Papan tulis.
"Oke, jawaban kamu benar! Saya akan catat skornya. Siapa yang mau nomer selanjutnya?" Tanya Pak Zan.
Semua murid berlomba lomba mengisi jawaban di papan tulis supaya mendapat skor.
