BAB 18

8.8K 746 3
                                        

Beta Starlette: Gamma, hari ini Beta les, jadi gabelajar masak dulu yaak

Gamma meletakkan ponselnya di atas meja begitu selesai membaca pesan Beta yang sampai tiga puluh detik yang lalu. Dia meremas rambutnya saat kepalanya diserang rasa pusing tiba-tiba. “Argh!”

Teriakan Gamma itu membuat seisi kelas yang tadinya ramai menjadi hening. Semua mata memandang ke arahnya secara serempak. Agung yang sedang makan siang bersama anak-anak cowok yang lain di barisan belakang mendengus keras-keras. “Napa lo?” tanyanya.

Gamma menoleh, sadar kalau semua mata memandang ke arahnya, dia terkekeh awkward. “Sori,” ujarnya kemudian.

Aksa dan Kenneth baru kembali dari kantin. Keduanya langsung bergabung dengan Gamma dan Degan yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Gamma sedang sibuk meremas rambutnya, sementara Degan sibuk mencatat pekerjaan rumah yang akan diperiksa setelah bel jam kedelapan berbunyi.

“Woy,” Kenneth memukul bahu Gamma keras.

Gamma yang baru mendapat serangan tiba-tiba terlebih menyakitkan itu lantas mendongak. Matanya langsung bersitatap dengan mata Kenneth yang menampakkan binar menyebalkan, menurutnya. “Paan, sih,” katanya ketus.

“Lo pasti nggak percaya ini,” Aksa duduk di samping Degan yang sepertinya belum menyadari kehadiran teman-temannya. Terlalu fokus pada PR hingga melupakan lingkungan sekitar. Coba bayangkan, kalau Aksa sedang iseng, tiba-tiba dia menyenggol tangan Degan yang sedang menulis. Itu pasti akan menimbulkan garis panjang di kertas yang sudah ditulis Degan hampir satu halaman itu. Pasti temannya itu akan mengamuk.

“Nggak. Kalo ‘percaya’ itu pasti udah masuk rukun iman,” kata Gamma setengah malas.

“Ih, apaan, sih?” Kenneth berujar malas.

Aksa memaksa kepala Gamma mendongak. Cowok itu menangkup kedua pipi temannya, menyebabkan bibir Gamma terbuka lalu maju sedikit. Ditatapnya Aksa dengan garang. “Paan, sih?” ucapnya tidak jelas.

“Ih, lo jelek banget, Gam,” Aksa menjauhkan kedua tangannya dari pipi Gamma. Cowok itu gagal fokus.

Gamma mendengus. “Paan, sih,” katanya lagi.

“Lo sekali lagi ngomong ‘paan, sih’ gue cium,” ancam Kenneth kesal. Bahkan, tubuhnya sudah maju lebih dekat dengan Gamma.

“Ih, pa-“ ucapannya berhenti begitu wajah Kenneth benar-benar maju. Sumpah, ini Gamma bisa pingsan. Cowok itu menoyor kepala Kenneth hingga punggungnya menghempas pada sandaran kursi. “Jangan gitu lah, jijik.”

“Sakit, bodoh.”

Gamma tidak menghiraukan Kenneth yang masih mengusap punggungnya karena menabrak sandaran kursi sambil meringis.

“Alhamdulillah ya Allah,” Degan merentangkan kedua tangannya hingga mendorong kepala Aksa, menyebabkan punggung Aksa menabrak ujung meja. “Hah! Pegel tangan gue. Pijitin dong,” katanya kemudian.

Aksa memukul tangan Degan yang tadi mendorong kepalanya. “Idiot banget, sih.”

“Ih,” Degan melengos. “Gamma napa tuh?”

Ketiganya sama-sama memerhatikan Gamma yang sedang menenggelamkan kepalanya di antara tumpukan tangannya sendiri. Cowok itu selalu terlihat bersemangat atau biasa saja, tidak pernah se-putus asa ini.

“Kan baru aja putus. Biasalah, namanya juga anak muda,” ujar Kenneth.

“Oh, iya.”

Setelah itu, ketiganya sibuk membicarakan hal lain. Mereka membiarkan Gamma sibuk dengan kisahnya sendiri. Kalau sudah waktunya, Gamma pasti cerita. Mungkin, saat ini, Gamma memang butuh waktu untuk dirinya sendiri. Karena bagi mereka, Gamma masih dalam fase galau setelah patah hati. Tapi, semoga saja cowok itu tidak patah hati berkepanjangan.

---

“Hai teman-teman, gue punya produk baru,” Susan mengumpulkan anak-anak cewek di kelasnya begitu bel pulang berbunyi, lalu membuat pengumuman. Sementara anak-anak cowok di kelas ini sudah ngacir ke tempat nongkrong mereka bersama satu angkatan sepulang sekolah. Di sekolah ini, memang baru angkatan anak-anak kelas XI yang sekarang yang paling kompak, solid, dan tidak macam-macam.

Awalnya Beta pikir, kelompok anak-anak cowok kelas XI yang suka menghabiskan waktu di warung dan di bengkel setiap pulang sekolah tidak ada manfaatnya. Ternyata, mereka itu memang punya jiwa sosial yang tinggi. Selain itu, kekompakkan mereka dapat diacungi jempol. Meski berbeda jurusan, agama dan ras, semuanya membaur menjadi satu. Terkadang, anak ceweknya juga ikut kumpul.

“Apaan?” Tania yang memang biasanya suka shopping memang paling antusias.

Tony moly. Itu loh, yang suka dipake cewek-cewek Korea. Mau, nggak?”

“Berapaan?” tanya anak cewek yang lain.

“Empat puluh tujuh ribu, belom termasuk ongkir.”

“Yah, mahal,” Tania mendesah. “Dua puluh ribu, gue bayar.”

Susan langsung menoyor kepala Tania yang otaknya terlalu cerdas itu. “Nanti, gue kasih tony moly bekas, abis itu gue tambahin air.”

“Woy,” Ari menyela pembicaraan mereka. “Ada yang mau beli sepatu adidas putih, nggak? Ukuran 39. Bekas, tapi baru sekali pake. Kondisinya masih mulus. KW super. Harganya dua ratus delapan puluh ribu, bisa nego. Asal negonya kira-kira aja.”

Memang, di kelas ini segala barang bisa dijual. Pulpen yang sudah pernah digunakan saja ada yang ingin membeli. Segala barang bekas, pasti lebih berguna jika dijajakan di sini. Kalah OLX mah.

“Tiga puluh ribu,” Tania mengangkat tangannya.

“Si tolol. Beli sono di pasar malem, dapetnya yang abis nginjek tai kucing. Bego banget si Tania,” Ari mendengus. “Ayo dong, gue butuh duit nih. Gue lagi miskin.”

“Emang lo pernah kaya?” tanya Tania sarkastik.

“Dih, kalo gue nggak punya duit, mana mau gue daftar STPI. Denger ya, kalo gue sampe diterima di STPI, selera gue bukan lo lagi.”

Ini kenapa jadi Tania sama Ari yang berantem, deh.

“Ri, kok lo jadi ikut promosi, sih. Ini kan yang mau jualan gue,” kesal Susan. “Sono lo pulang.”

“Ini juga mau pulang. Inget ya, kalo minat langsung LINE gue aja. AriGinandjar, Kay?” Setelahnya, Ari melangkah keluar kelas, menyusul teman-temannya yang sudah menunggu di bawah.

Sementara Susan kembali melanjutkan promosinya.

BETA & GAMMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang