5

4.8K 223 2
                                        

Happy reading
.
.
.

[Author POV]

Satu bulan sudah pernikahan Adel dan Byan berlangsung. Tapi tak ada perubahan yang terlalu significan pada Byan. Ia masih tetap dingin, kasar, dan membenci Adel (?).

Seperti hari ini Adel bangun pagi-pagi untuk membuat sarapan. Padahal ia baru tidur jam 3 pagi karena harus kembali melayani Byan. Perlu di ingat, semakin hari permainan Byan semakin kasar. Tak jarang suami nya itu membuat tubuh Adel benar-benar remuk. Bagaimana tidak, Byan akan mengulangi kegiatan ranjang nya di pagi hari.

Karena itu lah, mau tak mau Adel harus menerima makian dari mama mertua nya lagi karena bangun kesiangan beberapa kali. Namun, itu bukan hal yang besar lagi bagi Adel. Ia sudah mulai kebal pada perlakuan Mama mertua nya. Adel pun tak pernah mengambil pusing lagi jika mertuan nya mengomel tak jelas.

"Loh, Bu? Biar saya saja yang bikin sarapan." Tini keluar dari pintu belakang dapur saat Adel sibuk menyiapkan sarapan dari tadi.

"Adel, Tini. Jangan Ibu. Tak apa, aku sedang ingin membuat makanan." Adel tersenyum dan kembali sibuk dengan beberapa makanan yang ia siap kan.

[Adel POV]

Pagi ini aku membuat roti bakar dengan telur dan irisan daging. Tak lupa nasi goreng, salad kesukaan mama mertua ku dan juga sup jagung kesukaan mas Byan.

Aku di bantu Tini menyiapkan semua ini. Meski pun kenyataannya, Tini hanya menata di meja makan saja.

Setelah selesai masak, aku menghampiri Tini yang sedang menata beberapa piring di meja makan.

"Tin, saya ada permintaan."

"Permintaan apa, Bu eh maksud saya Mba Adel?" Tini menambah embel 'Mba' untuk memanggil ku. Tak apalah, memang jika melihat umur kami, panggilan 'Mba' cukup pantas di sematkan oleh Tini pada ku.

"Jangan bilang pada Nyonya besar kalau masakan ini saya yang buat. Bilang saja, kamu memang sedang ingin menyiapkan semua ini, ya." Aku sedikit berbisik. Karena ku lihat salah satu pembantu lain mulai memasuki dapur.

"Tapi, mba, Saya..."

"Tak apa. Sayang kan kalau makanan nya di buang lagi." Aku memotong ucapan Tini cepat.

Benar, jika Mama tau aku yang memasak. Ia akan dengan tega membuang begitu saja makanan yang sudah ku siap kan. Awal nya kesal dan sakit melihat makanan yang sudah susah payah di buat malah di buang begitu saja tanpa di cicipi terlebih dahulu. Namun, itu dulu. Kini, aku akan memberani kan diri untuk membuat sarapan tiap pagi nya. Juga makanan lain untuk makan siang dan malam.

Ku lihat Tini mengangguk. Dan aku kembali sibuk menyiapkan sup jagung yang masih berada di panci.
.
.
.

Jam 7 para anggota keluarga ku mulai berkumpul di meja makan. Terlihat Papa, kak Rama dan mas Byan sudah siap dengan setelan jas mahalnya berjalan menuruni tangga. Begitu juga dengan Mama yang terlihat cantik dengan balutan dress di bawah lutut berwarna hijau tosca di padukan dengan blazer berwarna putih tulang.

"Besok aku akan pindah ke apartmen Pa." Kak Rama yang pertama kali membuka obrolan pagi kami saat semuanya sudah duduk di meja makan.

"Kenapa buru-buru, Ram. Temani saja dulu Mama dan adik ipar mu di rumah. Lagi pula Papa masih mengijinkan kamu libur untuk mengurus perusahaan." Papa mulai mengoleskan madu di atas roti bakar nya santai.

"Benar sayang. Perusahaan kan sudah ada yang mengurus. Nikmati saja liburan mu dulu di rumah. Mama masih kangen, Rama." Mama tersenyum lembut pada kak Rama.

Bittersweet MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang