Dua hari menjelang acara tahunan sekolah menjadi momok yang menegangkan bagi kami pengurus osis, mungkin di dua hari menjelang acara tidak terlalu membuat peluhku mengucur banyak.
Cklek...
Semuanya diam, bu kepsek sedang berada di ambang pintu memerhatikan gerak-gerik kami.
"Bagaimana perkembangan di dua hari menjelang acara?" Bu kepsek berjalan ke arahku sambil membolak-balikkan arsip di tangannya.
Aku meneguk salivaku yang menggenang di dalam mulut. "Ehm. Untuk acara pokoknya sendiri sudah diambil tema berdasarkan voting seluruh siswa yaitu tema monochrom. Dan untuk embel-embel lainnya sudah kami persiapkan, mungkin sekarang sedang tahap finishing bu."
"Bagus. Kalian akan saya beri dispensasi mengenai pembelajaran," bu kepsek pergi. Lalu semua anggota merapat, ingin tahu apa yang tadi kami bicarakan.
Aku menolak pertanyaan dari mereka dan membubarkan mereka karena sekarang waktunya gladiresik di lapangan. Sebagai sekertaris yang baik, Karin yang juga sahabatku menyuruhku agar beristirahat sejenak atau memulihkan pikiranku agar tidak terlalu mumet.
Pilihanku jatuh pada membaca buku tentang astronomi, aku suka sekali hal yang berbau antariksa, bintang, galaksi, planet, dan tata surya. Aku baru ingat kemarin setelah membawa baju olahragaku, aku menaruh buku itu di loker.
Kembali lagi membuka loker bernomor 27, nomor kesukaanku. Namun ada sesuatu di dalamnya, ada sebuah kotak. Kotak berwarna biru dengan pita senadan dengan warnanya.
Aku mengambil kotak itu lalu membuka tutupnya, isinya adalah buku. Buku kesukaanku, buku astronomi. Siapa yang menaruhnya disini? Aku kelewat senang, karena bisa menambah koleksi buku astronomiku.
Aku membuka hard cover buku ini, ada sebuah amplop yang terjatuh mengenai sepatuku. Disana tertanda untukku, entah siapa pengirimnya tak dicantumkan.
Kalian tahu apa isi amplop ini? Ada surat, yang aku tangkap disini ada kalimat. 'Thanks for being best friend' aku masih menelusuri isi kepalaku yang penuh pertanyaan.
°°°
"Wal. Gimana kalau nanti pas pulang sekolah kita ngumpul di gudang, sekalian juga ajak Cakra?" Karin mengagetkanku dari lamunan. Aku mengangguk kecil kemudian melamun lagi, entah apa yang aku lamunkan tapi aku suka kegiatan ini. Ini membuat otakku lebih fresh dan tidak terlalu mumet lagi.
Aku masih dengan kegiatan melamunku, mengosongkan isi kepalaku sambil menatap lurus lantai lapangan. Sepertinya kerumunan orang sedang berlari-larian, namun aku kelewat nyaman dengan kegiatan melamunku.
Aku tak perduli Karin mengguncangkanku beberapa kali, aku masih tetap diam. Tapi akhirnya ke-kepo an ku akhirnya muncul dengan sendirinya. Aku berkedip beberapa kali, lalu menyesuaikan dengan keadaan dunia nyata.
"Walananda, jangan bengong! Liat kesana yuk, rame banget gue kepo ada apa?" Karin menarik tanganku menuju sekerumunan siswa di kantin, kami berhasil menerobos sampai-sampai aku melihat salah seorang siswa terpojok disana.
Dan dia, Cakra. Sedang terpojok disana dengan beberapa luka lebam di sudut bibir dan pelipisnya, dia terduduk dan terlihat lesu. Disana ada segerombolan anak brandal, yang sudah bisa dipastikan penyebab kekacauan ini. Mereka terlihat puas melihat temannya terpojok lesu dan tak berdaya disana, seakan tak bersalah dan tak melakukan apapun mereka menertawakan Cakra.
"Hey guys, liat nih! Si bisu pemain basket yang sok ke gantengan ini mau nantangin gue!!!" Niki menertawakan Cakra dengan terbahak-bahak. Namun dia terlihat seperti dibawah pengaruh obat-obatan. Berdirinya sempoyongan pandangannya kabur, gaya bicaranya seperti orang gila. Karin segera mengambil gambar dan merekam kejadian ini.
Aku semakin tidak tega dengan Cakra yang tubuhnya baru saja disiram air es. Aku berlari, dan berusaha menghentikan aksi anak buah Niki.
"Stop!!!" tanganku direntangkan, berusaha menghalangi aksi mereka. Aku sengaja menundukkan kepalaku agar tak melihat mereka menyiramku.
Apa aku sudah gila?! Apa yang baru saja aku lakukan itu luar biasa dimataku, aku bisa membantu orang yang kesulitan dan terpojok tanpa bantuan orang lain. Aku sangat excited dengan semua ini.
"Hai wala! Kenapa sih kita harus ketemu disaat aku lagi kayak gini? Kan gak ada persiapan," Niki mendekatiku, memberi isyarat agar anak buahnya mundur. Ditangannya ada sebuah botol kaca, aku yakin itu salah satu bir ataupun alkohol yang membuatnya menjadi mabuk dan terlihat gila seperti sekarang ini.
Aku tidak habis fikir dengan kelakuan Niki, dia dan orang tuanya sangat jauh berbeda. Jika tante Amanda tahu kelakuan Niki seperti apa, aku yakin dia akan sangat sedih.
Aku tidak mau berlama-lama menghabiskan waktuku hanya untuk memikirkan segala hal tentang orang tidak waras dihadapanku ini, aku berbalik lalu membantu Cakra berdiri.
Karin membantuku membopong Cakra ke UKS, tak perlu diberi isyarat Karin sudah memanggil wakasek kesiswaan agar segera menindak lanjuti Niki dan kawan-kawan.
•••
Published on Thursday 20 April 2017

KAMU SEDANG MEMBACA
Intertwine Of Us [COMPLETED]
Romansa[Revisi setelah extra chapter] Awalnya dia adalah temanku, teman terbaikku. Tapi setelah status kami sebagai teman, kini dekat menjadi sahabat. Lalu kini status sahabat itu mengantarkanku pada perasaan yang sesungguhnya, aku memungkiri hal itu. Seti...