End: 22 Desember 2018 [✓]
Awalnya, Seohyun selalu bertanya-tanya, alasan kenapa ayahnya menyuruhnya untuk hidup sebagai Seo Joohyun si gadis kuper yang tidak menarik perhatian; membiarkannya menjadi sasaran bagus seorang Dara untuk bisa menindasnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Netra kelam itu membuka beberapa kali sebelum akhirnya terpejam lagi, membiarkan asap keluar dari mulutnya setelah hisapan rokok berhenti disana. Kepalanya bersandar pada dinding yang dingin, cat nya kusam, juga retakan yang terlalu kentara.
Gedung itu mungkin sudah kosong hampir belasan tahun. Tidak terlalu penting bagi lelaki seukuran Jonghyun yang tengah berkepala penuh-penuh dengan pemikiran lama— cara mencari siapa pria itu.
Pria yang membuat ibu nya seperti ini. Jangan pikir Jonghyun lupa, bahkan sejak ia mengetahuinya pun, Jonghyun selalu menanamkan sebuah kebencian dan dendam disana. Bahkan terlalu dalam.
Jonghyun, ia selalu berpikir bahwa hidup memang serumit itu untuk di jalani, dimana orang baik dan orang jahat mungkin selalu berdampingan. Dan alasan terpentingnya adalah, tidak ada yang bisa menyalahkan orang jahat sekalipun.
Yang lelaki itu tak mengerti hanyalah satu, mengapa orang sebaik ibu nya lah yang menjadi korban dari ketidak seimbangan hidup dalam membagi peran nya sendiri. Tetapi tak ada yang bisa benar-benar di salahkan, jika memang semua ini adalah takdir yang seharusnya.
Satu atensi itu kini beralih pada hamparan biru langit yang terasa kosong, tak berarti apapun. Disana bulan menghilang, dan bintang memendam. Hampa terlalu menusuk malam itu untuk Jonghyun. Ia tak mengerti jalan pikirannya.
Yang ia tahu, ia seharusnya berada di rumah dan menghabiskan waktu penuh bersama adiknya yang baru saja mendapat masalah-dan menurutnya itu sudah lebih dari sekedar khawatir karena gadis itu sakit-tetapi nyatanya ia terdiam disini. Menyandarkan kepalanya dan menatap langit kosong, dengan sebatang lintingan rokok-mungkin juga lebih dari tembakau-yang berasap sunyi. Sejak kejadian Seohyun, rasanya hasrat untuk membunuh itu semakin besar, siap membuncah kapanpun juga.
"Kau seharusnya tidak perlu menjadi seperti ini, bu." netra kelam itu menyendu, memendam sebuah rindu dalam hitungan waktu. Jonghyun sudah terlalu lama memimpikan itu semua. Sudah terlalu lama ia kehilangan semuanya.
Tidak—mungkin ia memang tidak pernah mendapatkannya-sedikitpun. Jonghyun tidak ingat bahwa ia pernah melihat senyum ibunya barang sekali, ia juga tidak ingat pernah merasakan ibu nya memeluk hangat tanpa mau melepas. Jonghyun bahkan lupa, bahwa ia memang tidak pernah mendapatkan semua itu. Jelas sekali. Tapi Jonghyun menyayangi ibunya, lebih dari sekedar itu meskipun ia belum pernah meraskaan bagaimana indahnya kasih ibu. Setidaknya Jonghyun paham.
"Aku harap kita memiliki waktu untuk kebahagiaan yang tak pernah aku capai." Setelah mengucap itu, Jonghyun melempar asal lintingan rokok nya dan membiarkan rokok itu mati begitu saja, Jonghyun pergi. Ke tempat dimana ia mungkin bisa tersenyum tanpa beban—rumahnya dengan adik tercinta nya disana.