17

26.3K 5.2K 638
                                        

Miu sangat mudah disukai orang. Hal itu terbukti oleh Nyonya Oh yang langsung menyukainya. Sejak tadi, ia terus menerus memanjakan Miu dan mengabaikan Sehun. Miu kelihatan senang dimanjakan oleh Nyonya Oh. Ia sama sekali tidak menolak ketika Nyonya Oh membawanya menjauh dari Sehun.

"Ibu mau apa padanya?" gerutu Sehun frustasi membuat Yeon Seok dan Tuan Oh tertawa.

"Karena kekasihmu bilang kau memakannya, aku yakin Ibu sedang memeriksanya," ujar Yeon Seok santai.

"Paling tidak Ibumu akan berhenti mengomel tentangmu." Tuan Oh bersandar di sofa dengan nyaman. "Tapi kenapa nama kekasihmu terdengar seperti merk kontrasepsi?"

Sehun tak menjawab dan mendengus pelan. Sesekali, ia melirik ke arah Nyonya Oh membawa Miu pergi dengan khawatir.

"Kelihatannya, kau sangat menyukai gadis itu ya?" Tuan Oh melirik Sehun.

"Apa?"

"Kau kelihatan sangat mencemaskannya. Tenang saja, Ibumu tidak akan bicara macam-macam padanya."

Sehun hendak membalas ucapan Tuan Oh ketika Nyonya Oh membawa Miu kembali dengan senyum lebar merekah di wajahnya.

"Sebaiknya kalian segera bertunangan saja. Kalau menikah, kalian bisa pikirkan itu nanti," kata Nyonya Oh membuat Miu menatap Sehun kebingungan, tetapi tidak mengatakan apa-apa.

"Jangan seenaknya, Bu!" tegur Sehun seraya menarik Miu mendekat.

Ia menatap wanita itu dari atas ke bawah, memastikan jika ibunya tidak melakukan sesuatu pada wanita itu. Namun, kemudian matanya menangkap cincin berlian di jari manisnya.

Tentu saja Sehun tahu cincin itu. Itu adalah cincin warisan keluarganya yang turun temurun dan tidak diberikan kepada sembarangan orang. Bahkan kekasih Kakaknya pun belum pernah melihat cincin itu.

"Ibu memberinya cincin?" Sehun menatap Nyonya Oh terkejut.

"Ya," balas Nyonya Oh santai. "Hyungmu baru putus dengan kekasihnya, padahal Ibu baru mau memberikannya pada kekasihnya. Jadi cincin itu untuk kekasihmu."

Sehun kehabisan kata-kata. Tidak, ia tidak akan menikah dengan kucing. Sehun mengulang kalimat itu berkali-kali dalam benaknya.

"Kami harus segera pulang," kata Sehun sambil menggandeng Miu.

"Kenapa cepat sekali? Ibu masih mau mengobrol dengan kekasihmu."

"Miu sudah lelah, Bu." Sehun menarik Miu. "Ayo kita pulang. Miu, ucapkan selamat tinggal."

Miu membungkuk sopan.

"Selamat tinggal Paman, Bibi dan Kakak baik hati."

Sehun refleks merengkuh pinggang Miu ketika Yeon Seok menatap Miu dengan alis terangkat bingung. Namun, pria itu nampaknya tak ambil pusing dan tertawa ketika melihat keposesifan yang ditunjukan Sehun.

"Hati-hati di jalan. Ibu akan mengunjungimu kapan-kapan," kata Nyonya Oh sambil tersenyum.

"Lebih baik tidak usah," sambar Sehun kemudian mengucapkan selamat tinggal dan membawa Miu pulang.

🍑🍑🍑

Sehun menghela napas dengan perasaan tak karuan dan menatap Miu yang bermain dengan Vivi. Sehun tak mengerti kenapa wanita kucing itu terlihat semakin menggemaskan. Padahal, rasanya Miu tak melakukan sesuatu yang membuatnya nampak menggemaskan.

Bagaimana mungkin ibunya bisa menyukai Miu secepat itu? Bahkan ia memberikan cincin peninggalan neneknya begitu saja kepada wanita kucing ini. Apa wanita kucing ini punya semacam sihir yang dapat memikat orang-orang? Karena bukan hanya Nyonya Oh yang terpikat dengan wanita itu, tapi ia juga. Itu sebabnya Sehun mau memelihara wanita kucing itu.

Ngomong-ngomong, cincin yang melingkar di jari manis wanita kucing itu membuatnya merasa aneh. Perasaan aneh yang membuatnya merasa... senang? Sehun menggeleng. Apa-apaan itu? Ia sama sekali tak merasa senang. Tidak, tidak, tidak.

"Miu, sudah waktunya untuk tidur," kata Sehun membuat Miu menoleh padanya dan berhenti bermain dengan Vivi.

"Iya," ujar Miu. "Selamat malam Vivi." Miu mencium anjing itu dan berjalan menghampiri Sehun.

Vivi beruntung sekali. Bahkan Sehun sendiri pun belum pernah mendapat sekedar kecupan dari Miu.

Oh iya, ia kan sudah mencium wanita kucing itu tadi sore.

Sehun kembali merasa malu tiap ia mengingat kejadian tadi sore. Bagaimana ia bisa segila itu? Ia yakin jika Miu tak menghentikannya, mereka sudah berakhir lebih dari itu. Sehun menghela napas berat dan menatap Miu yang kini sudah berada di hadapannya. Ia menuntun wanita itu menuju kamarnya dan membaringkannya.

Selama hampir tujuh bulan ini, Miu tidur bersama dengan Sehun di ranjangnya dalam wujud manusia. Sehun berbaring di samping wanita itu, sementara Miu meringkuk dan mendekati Sehun. Sehun sudah berbulan-bulan tidur bersama dengan wanita itu, tetapi mengapa hari ini jantungnya berdetak seperti mau meledak?

"Sehun," panggil Miu membuat Sehun tersentak. "Bertunangan itu apa?"

"Itu sama seperti berpasangan."

"Apa Ibunya Sehun memintaku berpasangan dengan Sehun? Ibunya Sehun menyuruhku bertunangan dengan Sehun."

Sehun menghela napas.

"Aku tidak bertunangan dengan kucing. Tidak akan pernah. Memikirkannya juga tidak pernah," gumamnya tak jelas. "Tidurlah Miu."

Miu bergerak kecil, memperbaiki posisinya agar lebih nyaman dan mengerang pelan. Ia menatap Sehun dalam diam, membuat Sehun mendadak merasa tak enak. Mungkinkah ucapannya tadi membuat Miu tersinggung? Namun, wanita kucing itu tak melakukan apa-apa selain menatap Sehun dan mengukir senyum tipis di bibirnya.

"Selamat malam Sehun, aku sayang Sehun," kata Miu pelan.

Ah, entah mengapa suara wanita kucing itu mendadak terdengar begitu lembut. Miu memejamkan matanya sementara Sehun menoleh pada wanita itu. Jantungnya berdetak semakin kencang dan Sehun merasakan sebuah perasaan hangat merasuki dirinya. Ini gila.

Oh, sial. Ada apa dengannya? Selama ini, Miu juga sering mengatakan jika ia menyayanginya dan ia tak pernah merasa seperti ini. Kenapa ucapan Miu hari ini begitu membuatnya terpengaruh? Dadanya terasa begitu sesak karena perasaannya bercampur baur.

Ia mengerang pelan, menarik napas dalam-dalam. Ah, kenapa bisa jadi begini?

Apa benar ia sudah jatuh hati pada wanita kucing itu? Itu tidak mungkin kan?








🍑to be continued...🍑

kitten ; OSHTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang