Beberapa kali matanya mengerjap -- menyesuaikan diri dengan intensitas cahaya -- sebelum akhirnya terbuka dengan sempurna. Hal pertama yang ia rasakan adalah bingung. Lalu kedua adalah genggaman tangan seseorang yang terus meremat jemarinya.
Saraf di otaknya membutuhkan waktu beberapa menit untuk mampu menyadari dimana dirinya saat ini. Rumah Sakit. Dua kata itu membuat sepasang manik Lisa membulat. Kemudian ia menoleh dan mendapati Jungkook yang tengah tertidur menggenggam tangannya.
Ada perasaan kesal yang masih tertinggal di dalam dirinya. Namun Lisa tak dapat memungkiri jika sebagian dari dirinya merasa senang.
Diusapnya perut buncitnya sebelum kepalanya menoleh pada jendela kamar yang ada di sebelah kiri ranjang rawatnya. Dilihat dari ruangan, Lisa yakin jika tempat rawat inapnya ini merupakan kamar fasilitas VIP.
Apa Jungkook yang memesannya?
Ia tersenyum tipis dan kembali tak ambil pusing. Lisa memilih untuk memperhatikan pohon-pohon diluar sana yang perlahan menguning -- menandakan musim gugur hampir tiba.
Tak lama ia merasakan pergerakan Jungkook. "Oh, kau sudah bangun?"
Lisa belum sempat menjawab sebelum Jungkook kembali bertanya. "Mau minum? Aku akan panggilkan dokter,"
Dengan sigap Jungkook menuangkan air putih dari container yang tersedia ke dalam gelas kaca milik Lisa setelah gadis itu mengangguk. Ia lalu membantu Lisa untuk meneguk airnya dengan hati-hati.
"Tunggu sebentar ya, aku akan panggilkan dokter terlebih dahulu." Setelah mengucapkan itu, Jungkook mengecup puncak kepala Lisa membuat gadis itu terpaku di posisinya.
Walau begitu nampaknya Jungkook tidak sadar akan hal itu karena detik berikutnya lelaki itu telah berjalan menuju pintu keluar masuk kamar dan menghilang dibalik tembok.
Lisa baru hendak jatuh tertidur lagi, jika suara derap langkah kaki diluar kamarnya tidak tertangkap oleh indera pendengarannya. Gadis itu menoleh saat melihat pintu kamarnya kembali terbuka. Dan tepat sesuai perkiraannya, yang masuk adalah seorang dokter dan dua perawat serta Jungkook yang mengikuti mereka.
"Pagi Nona Lisa," Sapa dokter itu. Lisa tersenyum tipis mendengar aksen korea lelaki paruh baya di depannya yang sedikit bercampur dengan aksen inggris.
"Pagi dokter," Balasnya lirih. Rupanya pita suaranya belum bekerja dengan baik.
"Apa yang kau rasakan saat ini?" Jungkook memilih berdiri di sisi ranjang Lisa yang lainnya -- bersebrangan dengan tim medis.
"Hm.. sedikit letih?" Ujar Lisa ragu-ragu. Namun Dokter Lee tetap tersenyum dan membisikkan sesuatu pada seorang suster yang kini sibuk mencatat.
"Apa kau tidur dengan teratur belakangan ini?"
"Ya.. kurasa tidak.."
Dokter Lee mengangguk. Lalu tangannya beralih untuk mengecek tensi darah si gadis dan juga detak jantungnya. "Baiklah, untuk beberapa hari ini aku mengharapkanmu untuk menghabiskan waktu dengan beristirahat dan juga aku harap kau tidak terlalu membebani dirimu dengan banyak pikiran."
Lisa mengangguk pelan, walau dalam hati ia ragu. Bagaimana ia bisa tenang jika anaknya nanti terancam tidak tumbuh dengan seorang ayah?
"Jungkook tolong dampingi dia dengan baik," Ujar dokter itu lagi sebelum selesai dengan pengecekannya.
Sesaat sebelum ketiganya keluar, seorang suster kembali mengecek selamg infus Lisa dan mengatur laju tetesnya. "Kalau tangan anda merasa sakit tolong hubungi kami segera," Ujarnya kemudian yang diangguki Lisa.
KAMU SEDANG MEMBACA
XXI (jjk.lmb) ✔
Fiksi PenggemarUlang tahun yang ke dua puluh satu menjadi moment paling berkesan dalam hidup seorang Lisa. Hari itu, ia dikhianati oleh sahabat dan pacarnya sendiri. Di hari yang sama pula, ia pertama kali bertemu dengan seorang idol Korea papan atas, Jeon Jungkoo...
