Vote yaa,, itu moodboster untukku :)
------------------------------------------
"Allahuakbar Allahukbar!!"
Suara adzan mengudara di antara dua insan manusia yang masih hanyut dalam alam mimpi.
Salah seorang dari keduanya, berusaha membuka matanya yang begitu sukar untuk terjaga. Ia melihat jam dinding tepat di hadapannya.
Seketika ia terlonjak, mulutnya menganga kaget. Dengan segera ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
"Astaghfirullah. Ya Allah udah Subuh. Gue ketinggalan shalat Tahajud!" pekiknya, kemudian ia bangkit.
"Al bangun! Udah Subuh!" ucapnya dengan nada naik satu oktaf tepat di telinga sang suami.
Ia menggoncang hebat tubuh lelaki yang masih asik memeluk guling. "Bangun Al!" lanjutnya, masih dengan tangannya yang menggoncang tubuh Fath.
Ranjang yang bergerak, menandakan sang empu telah bangun dari tidurnya.
"Eengg, kenapa sih?" tanya Fath dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Kenapa kenapa. Bangun sekarang." Perintah Kanya namun tak diindahkan olehnya.
"Ini udah Subuh. Fix kita kelewatan shalat Tahajud," cerca Kanya sebab ucapannya sama sekali tak digubris oleh Fath.
Nyawa yang sempat tercecer, kini sudah kembali terkumpul. Fath dengan muka bantalnya perlahan menunjukkan raut wajah kaget.
Ia membesarkan bola matanya, tubuhnya pun seketika berubah posisi dari tiduran menjadi duduk.
"Apa! Udah subuh?" tanya Fath dan diangguki Kanya.
"Astaghfirullah Ya Allah. Kok bisa?"
Masih saja Fath bertanya tentang hal itu, ia seolah lupa akan apa yang telah terjadi di antara mereka.
Dengan wajah yang disabar-sabarkan, Kanya menjawab tanpa ada emosi sedikitpun. "Kamu sok lupa apa beneran lupa?"
Pangkal alisnya, Fath satukan seolah bertanya. "Kenapa emangnya sih? Aku lupa beneran."
"Udah ah, aku mau mandi dulu. Btw, kamu udah telat ke Masjid," ucap Kanya sebelum melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Fath masih mematung di atas ranjang. Masih dengan pikiran yang sama. Memang apa yang telah terjadi di antara mereka?
***
Fath berjalan perlahan menuju dapur untuk menemui Kanya. Di wajahnya terukir cengiran khas miliknya.
Hahaha, betapa bodohnya dirinya, melupakan apa yang telah terjadi. Ya Allah, ampunkan dirinya.
Ia terus berjalan, hingga pada langkah ini, tubuhnya telah berada di dapur, persis di belakang Kanya.
Senyumannya semakin mengembang. Jantungnya memompa terlalu cepat, hingga rasanya degub jantungnya terdengar oleh siapapun yang berada di dekatnya.
"Ya Allah, ini gue udah macem cowok yang mau nembak cewek," dewa batin Fath berbicara.
Untuk kesekian detik, Fath hanya memandangi Kanya yang tengah sibuk di dapur. Bahkan ia tidak tahu, sejak kapan istrinya itu bisa memasak. Bukan bisa memasak sih, lebih tepatnya mulai belajar memasak.
Tapi, Fath sangat menghargai apapun yang dilakukan Kanya. Terlebih lagi, Kanya dengan senang hati berubah menjadi baik, untuk dirinya.
Sekedar informasi untuk para perempuan di luar sana yang sedang menunggu jodoh bertamu. Laki-laki itu suka istri yang bisa masak, percaya deh, seenak apapun masakan restoran berbintang bakal kalah sama masakan istrinya, walaupun rasanya tak seenak kelihatannya. Really, itu beneran.
KAMU SEDANG MEMBACA
BIMI
Spiritual#SEQUEL ALKA# (Private) Layaknya sebuah hijrah yang harus diuji agar dapat dikatakan beriman dan bertawa. Cinta juga begitu, ada ribuan barisan ujian di balik pintu rumah tangga setelah terucap kata cinta. Laki-laki, masih dengan harta, tahta, wanit...
