CHAPTER 26

4.3K 392 222
                                        

Persis seperti yang diucapkan Brian tadi, lima belas menit sebelum bunyi bel pulang sekolah berdering, diumumkan bagi perwakilan kelas yang akan mengikuti untuk berkumpul di ruang meeting.

“Apa gue bilang, bener kan,” sambar Brian membanggakan diri.

Fath menoleh sekilas kemudian menghela napas, “Iya, gue juga udah tahu kali.”

“Sekian pembelajaran dari saya, selamat siang semua!” suara dari guru yang berada di depan kelas menghentikan perdebatan mereka.

“Siang Mr, terimakasih.”

“Sono ke ruang meeting!” ucap Brian dengan sedikit mendorong tubuh Fath.

“Ya Allah, mau banget gue pergi?”
Hampir saja kalimat penolakan keluar dari bibir Brian, tapi segera ia mengendalikan dirinya lalu justru berkata, “Nggak gitu, siapa tahu aja di ruang meeting lu dapat kode-kode dari si gadis misterius, secara dia kan satu sekolah sama kita, pasti dia juga tahu kalau lu ikut jadi perwakilan kelas.”

Fath mengangguk setuju, tiba-tiba saja ia teringat dengan si gadis misterius yang akhir-akhir ini tak lagi menganggu harinya melalui surat-surat darinya. Aneh juga rasanya, seperti ada yang kosong setelah surat-surat itu tak lagi diterima.

“Bener juga ucapan lu Yan, ya udah deh gue cabut ya. Duluan!”
serunya kemudian segera melesat pergi.

Tak lama setelahnya, Fath sampai di ruangan yang ia tuju, meski baru beberapa bulan bersekolah di SMA ini, ia sudah bisa menghapal tempat-tempat penting secara keseluruhan, termasuk ruang yang biasa digunakan untuk meeting sekolah.

“Permisi,” ucap Fath sebelum melangkahkan kaki memasuki ruangan yang baru diisi oleh beberapa orang saja.

Ternyata sama aja kaya di SMA Bintang Bangsa, muridnya banyak yang nggak on time,” keluhnya dalam batin.

“Kamu dari kelas apa?” tanya seorang pria seusianya, yang Fath tebak sebagai salah satu panitia acara sekolahnya.

“12 Social 8.”

“Oh, tempat duduknya di sebelah sana,” tunjuk pria tersebut, dan dijawab anggukan tegas oleh Fath.

“Oke, thanks,” ujarnya basa-basi kemudian berlalu.

Ia duduk di tempat yang telah disediakan, kebetulan ia mendapat jatah tempat duduk di samping jendela, jadi ia bisa mengedarkan pandangan keluar guna membunuh bosan di sela-sela waktunya menunggu rapat dimulai.

Sekolahnya yang sekarang, meski merupakan sekolah internasional, namun berlokasi sedikit jauh dari keramaian Kota Bogor. Di samping sekolah masih banyak pemandangan hijau nan asri. Alhamdulillah bisa menjadi salah satu alasannya bertahan di sekolah ini, juga bisa menjadi penghilang kepenatan hidup di Ibu Kota Jakarta dengan segala polusi dan keramaiannya.

“Oke teman-teman, karena waktu yang kita miliki nggak banyak, jadi kita mulai saja rapat kali ini.”

Kalimat itu membuat lamunan Fath buyar, ia merubah arah pandang ke depan, dan menaruhkan seluruh perhatiannya. Sepertinya baru sebentar ia melamun dan menikmati pemandangan asri di luar sana, tapi ketika ia kembali fokus, sudah banyak siswa yang datang. Tak ada dominasi di sini, perwakilan setiap kelas rata antara perempuan dan laki-laki.
Ia menyimak apa saja yang panitia ucapkan dalam rapat. Ia menduga rapat kali ini akan menyita banyak waktunya, dan otomatis mengurangi quality time dirinya bersama sang istri.

“Oke teman-teman, kita akan tes perwakilan setiap kelas. Kalian cukup memberi contoh talenta apa yang akan kalian tampilkan, jangan sama persis yang akan kalian tampilkan di  acara Unlimited Night. Mengerti?!”

BIMITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang