CHAPTER 14

5.1K 453 122
                                        

Baca note ya please, ada something important.

Jangan baper terlalu lama. Kalimat itu terus Kanya rapalkan dalam dirinya. Tapi masih saja hatinya terasa sakit jika mengingat-ingat kalimat —tuduhan— yang diucapkan oleh budhe dari suaminya.

Terhitung tepat hari ke-3 Kanya mengalami guncangan jiwa. Batinnya berdebat hebat di dalam sana. Percaya tak percaya, tuduhan budhe bisa juga menjadi benar. Hatinya mengelak, namun nyatanya fakta belum bertindak. Kanya tak bisa memberi pembelaan apapun atas dirinya sendiri.

Sebagai dampak dari ucapan tak bertanggung jawab tempo hari, Fath menjadi sasaran empuk bagi Kanya untuk melampiaskan rasa kesalnya. Sudah tiga hari ini Kanya mendiamkan Fath.

Entah ada apa dengan dirinya. Kanya sendiri pun tak paham, ia merasa emosinya akhir-akhir ini jadi tak terkontrol. Tak biasanya Kanya menjadi sosok perempuan yang terlalu naif. Dirinya yang memang sudah moody, menjadi lebih moody.

Siang ini, setelah menjalani rutinitasnya, yaitu melaksanakan homeschooling, ia duduk menyender pada sofa di rumah bunda. Matanya terpejam, mencoba mengenyahkan segala masalah yang membuat kepalanya pening.

Merasa ada seseorang yang duduk di sebelahnya, Kanya membuka kelopak mata tertutupnya.

"Kamu kenapa?"

Sembari menaikkan kedua alisnya, sok tak paham, Kanya menjawab pertanyaan bunda. "Kanya gapapa, cuma sedikit pusing aja, Bun."

Jari telunjuk kanan dan kiri miliknya, ia tekankan di kedua sisi pelipisnya. "Kenapa pusing? Ada masalah?"

Bunda menarik tubuh Kanya agar menyender di bahunya. "Cerita sama bunda. Anak perempuan bunda sudah besar, anggap bunda sebagai sahabat tempatmu bercerita, Nak."

Manik mata berwarna hitam pekat itu saling memandang, seakan menyampaikan segala rasa dalam asa. "Kenapa?"

"Kanya sama Fath marahan."

Bunda mengeruskan keningnya, "Kalian marahan, atau kamu yang ngambek?"

Seolah mengetahui tabiat anaknya, bunda menanyakan sebuah pertanyaan telak yang membuat Kanya tak berkutik.

"Kan diem? Berarti kamu yang ngambek."

Menjauhkan tubuh dari bunda, Kanya berdecak kesal. "Bunda. Kok bela Fath?"

Bunda heran melihat tingkah laku anaknya. "Ada apa dengan anak ini, sensitif sekali," batin bunda.

Dengan sabar, bunda menangkup tangan kanan Kanya. Anaknya pun menoleh, menatap tajam mata sang bunda, masih dengan tatapan yang menyiratkan sebuah ketidaksukaan.

"Dengarkan bunda ya sayang. Bukan bermaksud ingin ikut campur rumah tangga kalian. Bunda sebagai orang tua hanya ingin memberi sedikit wejangan. Gapapa kan bunda ngomong?" izin bunda, takut-takut menyinggung hati putrinya.

"Iya Bunda gapapa."

"Apapun masalah kalian, bunda hanya ingin mengatakan, kamu sebagai istri jangan men-dzolimi kebaikan suami. Jangan hanya karena sebuah kesalahan kecil, lantas kamu membesar-besarkan masalah seolah-olah suamimu melakukan kesalahan fatal. Terlebih lagi, kamu mengabaikan kebaikan suami selama ini, hanya karena sebuah masalah," tandas bunda.

Kanya menimang-nimang nasehat bunda sembari memandangi langit langit ruangan ini. Memang benar yang diucapkan bunda. Namun, keluar dari hal tersebut, bukankah wanita juga manusia yang bisa melakukan kesalahan? Apakah mereka tak boleh mengekspresikan rasa?

"Udah ah. Ikut bunda beli sayur ke pasar yuk," ajak bunda menarik-narik tangan Kanya.

"Iya."

Dengan sedikit malas, Kanya bangkit dari posisi nyamannya dan mengikuti langkah bunda keluar rumah, lantas segera meluncur ke pasar terdekat.

BIMITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang