21. Soldier on Cry

2.6K 134 1
                                        

#####

Pagi-pagi sekali Gama sudah terbangun dari tidur nyenyaknya. Laki-laki itu seringkali bangun siang dan susah untuk dibangunkan. Namun entah kesambet apa, tiba-tiba saja Gama sudah memarkirkan mobilnya didepan rumah Sara persis.

Gama sendiri tidak tahu kenapa berbuat seperti ini. Rasanya ini bukan sosok dirinya yang dingin dan masa bodo. Ini terlihat seperti Gama yang lain. Sosok Gama yang dulu sangat dikenal baik oleh Sara. Dan setelah bertahun-tahun ia mengganti kepribadiannya, tetap saja sosok ini memang terwujud untuk Sara.

Laki-laki itu tampak sedikit merapikan penampilan seragamnya. Mulai dari rambut sampai seragam pun sengaja dirapikan walaupun secara asal. Setelah itu Gama memberanikan diri untuk memencet bel rumah Sara sambil bersiap diri menebak siapa yang akan membukakan pintu didepannya.

"Permisi..." Gama menunduk sopan ketika mengetahui sosok wanita cantik yang membukakan pintu rumah Sara. Memasang senyum kakunya sambil berpikir keras siapa gerangan wanita ini.

"Kamu... Siapa? Cari siapa?" Tanya Arina selaku Mamah dari Egar dan Sara. Ia cukup terkejut karena tidak menyangka akan kehadiran tamu sepagi ini.

Gama tersadar, "Gama tante, temannya Sara. Mau cari Sara buat berangkat bareng." Ujarnya sangat lugu. Padahal jauh didalam hatinya ia sedang memaki dirinya sendiri saat ini.

Arina ber'oh' ria sambil manggut-manggut. Diam-diam wanita itu tersenyum geli atas tingkah Gama. Dari sikap laki-laki itu, sudah tertebak jika dia salah satu teman spesial Sara, putrinya. "Ayo, masuk dulu. Sara lagi siap-siap dikamarnya, jadi tunggu sebentar nggak apa-apa kan, Nak Gama?"

Gama terkekeh, "Nggak apa-apa kok, Tante. Yang lama juga Gama siap nungguin."

"Bisa aja kamu ini." Arina tertawa kecil sambil mempersilahkan Gama duduk disofa ruang tamu. "Tante panggilin Sara sebentar ya, tunggu sini."

Gama melepas napas panjangnya begitu Arina sudah menghilang dari hadapannya. Diam termenung, menerka jika wanita yang sangat bersikap lembut tadi sudah pasti Ibu dari Sara. Tapi, ada yang aneh. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya. Dimana dulu, sewaktu ia masih bermain bersama dengan Sara dan juga Egar, tak pernah sekalipun ia melihat wanita tadi. Jangankan melihat, mendengar cerita dari mulut Sara saja rasanya tidak pernah.

"Gam,"

Gama terkesiap begitu melihat Sara sudah berdiri di hadapannya sambil menenteng ranselnya. Wajah gadis itu terlihat berbeda dari kemarin. Lingkaran hitam dibawah mata, dan ekspresi sendu yang amat dibenci Gama. Hati Gama menduga sesuatu telah terjadi pada Sara saat ini.

"Kamu nggak sarapan dulu, Ra? Nanti laper, loh." Tawar Arina tersenyum ketika sudah berdiri disamping Sara, putrinya.

Sara bergerak menghindar ketika tangan Arina hendak menyentuh pundaknya, "Nggak, nanti juga bisa makan disekolah." Sara kemudian mengkode Gama melalui lirikan matanya, "Sara berangkat dulu."

Tanpa bersalaman atau apapun, Sara langsung melengos keluar dari rumahnya. Meninggalkan Gama yang harus berpamitan terlebih dahulu kepada Arina sebelum ikut pergi menyusul Sara. Membuat Gama yakin, Sara sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang ini.

Gama lekas masuk ke dalam mobilnya. Sejenak memperhatikan Sara yang kini sedang melamun dengan tatapan kosong ke arah luar jendela mobil. Ada yang tidak beres disini, dan Gama tahu itu.

"Mau sarapan apa?" Tanya Gama membuka topik pembicaraan. Berharap memecah suasana canggung diantara keduanya. Tapi karena tak kunjung mendapat respon Sara, Gama kembali buka suara.

"Lo marah soal kemaren? Gue, gue minta maaf."

Dan selesai mendengar kalimat yang diucapkan Gama, Sara merespon dengan menoleh ke arah Gama. "Lo nggak salah ngapain minta maaf."

Round and Round [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang