Twenty Three

5.6K 372 24
                                        

Happy reading!💕

***

Kedua mata Trey menatap Dokter lurus-lurus. Ia begitu terkejut saat Dokter mengatakan kalau Anna sedang hamil. Trey hanya tak menyangka, di umurnya yang masih 29 tahun ini ia sudah siap mempunyai dua anak. "Fucking hell." Gerutunya dalam hati. "Apakah Anna sudah tahu sebelumnya jika ia hamil?" tanya Trey.

"Sepertinya dia belum tahu, Mr Alexander. Mengingat, usia kandungannya saja masih sangat muda, sekitar baru satu atau dua minggu." Papar Dokter.

"Tetapi, dalam kondisi Anna yang seperti ini, rasanya seperti sangat mustahil jika Anna bisa mempertahankan kandungannya."

"Apa maksudnya semua itu?!"

"Maksud saya, sepertinya kondisi Anna sekarang ini sangat lemah untuk mengandung seorang bayi. Maka, ada kemungkinan besar jika Anna akan keguguran."

Rahang Trey mengatup keras, "Lalu mengapa kau memberitahuku Anna sedang hamil kalau kau sendiri berasumsi ia tak akan bisa mempertahankan bayinya?!"

"Mr Alexander, kau harus tenang." Sang Dokter menjawab dengan getir merasa ketakutan.

"Don't fucking tell me what to do!" Sentak Trey marah. "Fuck this shit! Aku akan keluar dari sini!"

Trey kemudian keluar ruangan Anna dengan amarah yang begitu memuncak. Ia kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir disana. Sam yang tadinya menyetir, membawa Trey ke rumah sakit sudah terlebih dulu pergi ke warehouse. Jadi sekarang, lelaki yang sedang marah besar itu terpaksa harus menyetir mobilnya sendiri. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia berencana untuk pergi ke warehouse, melihat Darren yang sekarang terkunci di ruang bawah tanah.

Mengingat Darren, yang selalu mencari gara-gara dengannya langsung membuatnya geram. Rahangnya menegang. Kedua tangannya mencengkram stir kuat-kuat. Ingin sekali rasanya Trey membunuh orang itu sekarang jika saja ia sudah bisa mendapatkan beberapa informasi tentang Darius darinya. Tapi, sayangnya, Darren sekarang ini sedang bungkam. Ia tak mau bicara walaupun beberapa anggota The Dragons sudah mengancamnya.

Beberapa saat kemudian, Trey telah sampai di warehouse. Kedua kakinya ia langkahkan cepat-cepat menuju ruang bawah tanah, dan langsung saja mendapatkan beberapa anak buahnya disana sedang menjaga pintu dimana Darren sedang dikurung.

"Boss? Sedang apa kau disini?" tanya Dylan.

"Dimana dia, Dylan?!" tanya Trey dengan menekankan kata 'dia'. "Where the fuck is he?!"

Dylan yang mengerti siapa yang Trey maksud langsung menjawab, "Dia masih belum mau bicara, Boss."

"We will see about that!" Trey kemudian berjalan memasuki ruangan itu. Ruangan yang hanya berukuran kecil itu menjadi ruang dimana Darren sedang di kurung. Ketika Trey memunculkan wajahnya di depan Darren dengan marah, Darren hanya bisa menyempitkan matanya seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia tak merasa takut dengan Trey sejak pertama ia bertemu dengannya.

"Aku tidak takut padamu, Tuan Alexander." Ucap Darren.

Trey tertawa renyah, "Oh really?" Lalu, dengan kasar Trey pun memukul wajah Darren berkali-kali, ia juga menendang bagian perut Darren hingga lelaki itu tak berdaya lagi. "Apa kau sudah siap untuk bicara sekarang?!"

"Fuck— you, Alexander!" Seru Darren dengan napas yang terengah-engah sambil meringis kesakitan.

Trey kemudian kembali memukul wajah Darren hingga tak sadarkan diri. Merasa amarahnya telah terluapkan, ia lalu menghampiri dua anak buahnya yang berdiri di belakangnya, "Urus dia, jika dia tetap tak mau bicara, mulailah dengan menghilangkan satu persatu jarinya, karena aku ingin jawaban darinya secepat mungkin!" Perintah Trey, dua anak buahnya, Dylan dan Caleb lalu mengangguk.

MR. GANG LEADERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang