TIGA PULUH SEMBILAN : Akankah Terulang Kembali?

53.5K 6.1K 730
                                        

Setelah adegan Gisel memeluk Revano di dekat tenda sate, mereka berdua saling diam di dalam mobil milik Revano. Tidak ada yang berani membuka mulut, sebab keduanya sama-sama mencoba menetralkan rasa gugup di hati.

Mobil yang dikemudikan Revano membelah jalan raya yang cukup lengang, sedikit mengherankan karena biasanya pada jam-jam seperti ini lalu lintas macet dan kendaraan menjadi sulit bergerak.

Gisel menunduk, memainkan ujung jaketnya gusar. Ia kembali mengingat ucapan ayah dan ibunya tentang mereka yang akan bercerai, hatinya juga kembali merasa sakit. Jika mereka masih menikah saja Gisel seakan tidak dipedulikan, apalah jika mereka berpisah.

Gisel tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya selanjutnya, tapi satu-satunya kemungkinan yang ia pikirkan adalah tentang kesehatan dirinya sendiri.

Penyakitnya tentu saja tak bisa dianggap remeh, apalagi ia tidak pernah melakukan suatu usaha untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Entahlah, lagipula untuk apa Gisel hidup?

Revano melirik Gisel yang kini menatap apapun di luar jendela, ia dapat melihat sorot kesedihan di mata cewek itu.

"Wi," panggil Revano, membuat Gisel menoleh dan menaikkan kedua alisnya.

"Lo nggak mau cerita sama gue tentang masalah yang bikin lo nangis?"

Gisel tersenyum samar, tidak terlihat karena Revano tidak menyalakan lampu di mobil. "Emang lo siapa sampe gue harus cerita masalah gue sama lo?"

Pertanyaan Gisel seperti pisau yang menusuk-nusuk di dada Revano, membuat cowok itu meringis dan memilih fokus kembali menatap jalan di depan. Tidak mungkin kalau ia harus menjawab : gue kan mantan lo, Wi.

"It's ok, itu masalah lo dan lo berhak untuk ceritain itu ke orang lain atau nggak."

"Orang tua gue cerai," ungkap Gisel akhirnya. Namun, suaranya cenderung datar dan tanpa emosi, sehingga Gisel sendiripun terkejut.

Revano menoleh dengan kening mengkerut, tak percaya. "Serius?"

Gisel mengangguk perlahan, matanya kembali terasa memanas dan siap meneteskan air mata kalau saja Revano tidak melayangkan ucapan yang membuat Gisel tersenyum tipis.

"Orang tua lo kok goblok banget? Egois, kalo mereka sayang sama lo mereka nggak bakal ngelakuin hal ini."

Gisel bungkam, lebih memilih menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil yang kini sedikit basah karena rintik hujan mulai turun ke bumi. Revano yang melihat itu memperlambat laju mobilnya, dengan tangan kiri ia menarik kepala Gisel dan menyandarkannya di bahunya sendiri.

"Udah, bersandar aja di bahu gue."

Gisel tidak menolak, ia memandang kosong ke depan ketika tiba-tiba mereka saling memanggil nama masing-masing.

"Revano."

"Dewi."

"Lo duluan," ucap Gisel, tetapi Revano menggeleng pelan. "Lo duluan."

"Van, lo duluan mau ngomong apa. Bisa ngalah ke cewek yang lagi patah hati karena orang tuanya cerai nggak?"

Revano mendesah, membelokan mobil dengan hati-hati di persimpangan jalan karena ia mengemudi dengan satu tangan. "Oke. Gue mau nanya, orang tua lo belum tau kondisi lo sama sekali?"

"Nggak, gue nggak ngasih sesuatu sama siapapun kecuali kalian bertiga."

Beberapa saat lamanya mereka saling bungkam, hingga Revano membuka mulutnya kembali. "Oke, giliran lo."

Sebelum mengajukan pertanyaannya, Gisel lebih dulu menarik dan mengembuskan napas berulangkali. "Van, nggak ada siapapun yang tau hubungan kita dulu, kan?"

StraightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang