EMPAT PULUH TIGA : Hukuman

48.2K 5.8K 192
                                        

Yakin hanya cinta remaja yang membuat masa SMA-mu berwarna? Coba lihat teman-temanmu, apa mereka tidak berarti bagi memori remajamu?

***

"Mario, saya tidak mengerti mengapa kamu sampai memukuli Raja di kelas seperti tadi. Apa yang kamu pikirkan? Sekolah itu tempat untuk belajar, bukan untuk berbuat kriminal!"

Mario malah memutar bola matanya malas saat mendengar celotehan Bu Rum, salah satu guru BK mereka yang tahun depan akan pensiun. Bukannya dia tidak sopan, tetapi bagaimana pun juga ini bukan salah Mario sepenuhnya.

Salahkan saja cowok kurang ajar yang​ otaknya cuma sedengkul kayak Raja, begitulah kira-kira isi pikiran Mario sekarang ini.

"Mario, jawab kalo saya tanya!"

Mario melirik Raja yang sedang menyentuh sudut bibirnya yang luka dengan sinis, ia kemudian membuka mulut untuk bersuara. "Memang saya yang mukul dia duluan, Bu. Tapi itu juga ada sebabnya, nggak mungkin siswa imut-imut kayak saya tiba-tiba mukul orang, kan?

"Jadi begini, Raja deketin sahabat saya, Luna. Awalnya saya baik-baik aja, nggak ada masalah, malah sen-"

"Maksudnya kamu kejebak prenjon begitu?" potong Bu Rum, dahinya mengernyit, mencoba menerka-nerka apa alasan Mario.

"Friendzone? Bukan, Bu. Saya setuju karena Raja kelihatannya serius dan beneran suka sama Luna, tapi nyatanya dia cuma jadiin Luna bahan taruhan. Dia pikir Luna kesebelas klub bola? Coba ibu bayangin, sahabat yang ibu sayang dipermainkan? Ibu mau terima? Ibu mau nganggep itu bercanda?

"Ya jelas saya langsung emosi, apalagi pas liat muka nyebelin dia. Ya sudah saya tonjok aja sampe babak belur, nanggung kalau satu kali doang," jelas Mario panjang dan mengembuskan napas lega setelahnya.

Bu Rum mengangguk-angguk, baru paham dengan akar masalah ini. Ia baru mengetahui kejadian perkelahian setelah seorang siswi memberitahunya, yang lantas membuatnya pergi ke tempat kejadian.

Saat ia mencapai kelas X IPA 3, Bu Rum segera melihat Mario yang terlihat kesetanan sedang menghajar seseorang. Kebanyakan siswa hanya menonton, sebab mereka takut jika Mario sudah dalam emosi seperti itu.

Terlalu rawan, terlalu tidak stabil.

"Saya mengerti, Mario. Tapi kamu tidak perlu sampai melakukan kekerasan fisik seperti itu, kamu ini anak sekolahan. Seharusnya, kamu bisa paham kalau masalah itu diselesaikan pakai musyawarah."

"Dia pantesnya dapet bogem mentah, Bu," celetuk Mario.

"Lagipula, mengapa kamu begitu heboh sendiri padahal Luna juga tidak apa-apa. Bukan​ begitu?"

"Saya keberatan, Bu. Tapi nggak mungkin juga saya ngeluarin jurus taekwondo saya, yang ada dia udah masuk rumah sakit," jawab Luna yang sejak tadi diam.

Bu Rum menghela napas gusar, ia tidak habis pikir dengan pemikiran anak-anak milenial ini. Mengapa di pikiran mereka kekerasan itu sebuah cara yang efektif dan mudah ditempuh?

Padahal, ada banyak keuntungan jika suatu masalah bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan baik-baik. Tidak membuat kedua belah pihak bermusuhan, misalnya.

"Raja, apa benar apa yang diucapkan Mario tadi?" tanya Bu Rum.

Raja melirik Mario yang malah membuang muka, lalu Luna yang menunduk memainkan kukunya. "Benar, Bu."

Sebelum Bu Rum berucap, Raja sudah keburu memotongnya. "Ini memang salah saya, Bu. Tapi, saya benar-benar nggak ada niatan mempermainkan, malah saya udah suka beneran."

"Halah bullshit," komentar Mario sinis.

"Saya sudah berkali-kali meminta maaf kepada Luna, tapi dia tidak merespon. Nggak apa-apa, itu wajar, dia pasti kecewa dan marah.

"Kemudian, Mario tiba-tiba datang dan mukulin saya. Lagi-lagi, saya nganggep itu wajar. Setidaknya dia lebih pemberani dari saya yang pengecut," ucap Raja getir.

Bu Rum memijat pelipisnya, benar-benar pusing dengan apa yang terjadi. "Sekarang, mau kalian itu apa?"

"Permintaan maaf dari Raja ke Luna," jawab Mario cepat.

Namun, Luna menggeleng. "Nggak usah. Lebih baik menjauh dan kembali ke keadaan sebelum kenal, itu sudah lebih dari cukup."

Raja mendesah pelan, meringis saat sudut bibirnya kembali berkedut nyeri. "Gue minta maaf, Na. Sorry banget kalo gue bikin lo ngerasa dipermainkan, gue nggak bermaksud begitu."

Dan Luna hanya mengangguk acuh tak acuh.

"Mar, gue juga minta maaf karena udah bikin sahabat lo sakit hati."

Bu Rum mengangguk-angguk. "Sekarang, Mario, kamu harus minta maaf ke Raja."

"Kenapa harus? Saya nggak salah kok."

"Lihat luka di wajah dia, itu kamu yang bikin loh."

Mario berdecak, masih menatap Raja dengan sinis. "Maaf," ketusnya.

"Saya nggak tahu harus gimana di kejadian seperti ini. Intinya, kalian saling memaafkan, kan? Jadi, saya tidak akan membuat kalian diskors seperti yang seharusnya. Tetapi, kalian harus membersihkan toilet lantai satu sekolah selama seminggu. Paham?"

Mereka bertiga mengangguk. Bersamaan dengan itu, hati mereka sudah hancur berkeping-keping.

Luna yang kembali kehilangan rasa percaya kepada kaum adam, Mario yang merasa gagal tidak bisa melindungi sahabatnya, dan Raja yang berkubang dalam jurang sesal.

Sebab tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, maka ambillah keputusan yang tepat dan berpikir matang-matang sebelumnya.

***

Beberapa chapter menuju ending Bagian I cerita Straight hehe.

See you.

StraightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang