Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.
Tut.
Sudah beberapa kali Dilon mencoba menghubungi Dilan, dan hasilnya sama saja. Nomornya tidak aktif, semua akun media sosialnya juga terasa seperti 'mati'
"Lon, lo coba cari Dilan deh. Gue agak khawatir sama dia," Agil melanjutkan, "Lagian dia nggak balik-balik."
Dilon mengangguk sejenak, tapi pandangan matanya kembali kelapangan. "Gue tau! Gue juga khawatir. Tapi, gue lebih khawatir sama keadaan Lian sekarang."
"Nomornya juga nggak aktif lagi!" Dengus Dilon, dengan wajahnya yang merah padam. Merasa kesal dengan Dilan yang bisa-bisanya membuat angka kekhawatirannya terbagi menjadi dua.
Agil yang melihat Dilon menjadi kumat seperti itu pun ikut menelpon Dilan, dan hasilnya juga sama. Tidak aktif.
Dilon mendengus kesal, "Liat aja tuh bocah, ketemu sama gue, gue jadiin perkedel udang!" Akhirnya Dilon pergi dari daerah bangku penonton. Mencoba menghilangkan berbagai macam dugaan yang terbelah-belah.
"Arghh Nyusahin banget sih!" Geram Dilon yang saat ini berada di koridor sekolahnya, dengan tangan kanan yang sedang memegang ponsel pintar miliknya itu.
Matanya melirik pertandingan Lian yang saat ini tengah kebingungan, pertandingannya yang sangat tidak fair itu membuat banyak kemungkinan bahwa Lian kalah.
"ASTAGA GUE BINGUNG ANJENG!" Jeritnya kesal, kalau ada samsak disini mungkin Dilon tengah memukulinya sekarang.
Dilon menyisir rambut depannya ke belakang, kemudian berpikir, "Tenang, Lon. Pikirin semua baik-baik," Dilon mengatur nafasnya, "Lian nggak bisa tanding sendiri, nggak mungkin dan nggak bisa tanpa temennya. Jadi....." Dilon berpikir sejenak.
"ASTAGA KENAPA GUE NGGAK KEPIKIRAN SIH!" Dengan gerakan Cepat, Dilon men-dial nomor seseorang.
"Hallo! Gue butuh lo disekolah sekarang juga! Nggak ada tapi-tapian, Urgent!"
Tut~
Panggilan itu langsung dimatikan saja oleh Dilon tanpa mendengar balasan atau suara dari pemilik ponsel. Bisa dibilang Dilon sudah hapal dengan orang itu, dia tidak akan pernah memberikan ponselnya kepada siapapun meski itu keadaan darurat sekalipun, well dia cinta kebersihan dan menurutnya hanya tangan miliknya lah yang paling bersih.
"Oke, Dilon. Masalah pertama selesai, tinggal masalah kedua." Dilon menggigiti ujung ponselnya, mencoba berpikir.
Dilon pun bergumam, "Sambungan telepon Dilan mati sendiri, pas dia lagi ngomong. Itu jelas-jelas bukan karena sinyal, dan bukan Dilan yang matiin," Dilon terlihat berpikir, "Apa mungkin ada orang yang matiin sambungan telepon Dilan? Tapi kenapa?"
"Halo Lon, Gue punya informasi tentang curangnya CLEMENTINE."
Dan suara gaduh yang sangat mencurigakan.
"Sambungan telepon dimatikan, Dilon punya informasi CLEMENTINE, dan suara ribut yang mencurigakan....," Setelah berkata seperti itu, Dilon menepuk jidatnya keras. "Astaga! Kenapa gue nggak kepikiran! Gue harus kesana sekarang!"
Akhirnya Dilon berlarian kesuatu tempat, dimana itu adalah satu-satunya tempat dimana Dilan berada, yaitu CLEMENTINE base camp.
-o-
Lian POV
Hahaha, Fuck you, man! Gue bisa bobol kalian. Inget ya! Sekali gue bisa, gue bakalan selalu bisa! Gue pun ngelirik di bangku penonton, tepatnya ke arah Abang Dilon yang entah kenapa mukanya kek nahan boker gitu, HAHAHAHA lucu banget sih Lian! Nggak-nggak gue nggak lucu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake nerd
Teen Fiction[REVISI SETELAH TAMAT] [Wattys2017] [ON GOING] Beliandra ariella vidison, seorang cewek cantik no 1 dan merupakan CEO dari perusahan vidison company yang merupakan perusahaan terbesar di asia menjadi seorang nerd hanya untuk senang senang, sudah di...
