Tok! Tok! Tok!
Tidur nyenyak Haesoo terganggu oleh ketukan pohon di luar jendela yang cukup mengganggunya. Sedikit menggeliat sebelum membuka mata penuh. Dilihat sekelilingnya nampak begitu asing.
Haesoo baru ingat jika ia tak berada di kamarnya, melainkan kamar lelaki tinggi itu. Haesoo melirik ke arah jam yang berada tepat di meja nakas. Jam 3.09 AM, masih terlalu pagi untuk bangun, tapi suasana kamar yang berbeda membuatnya tidak nyaman dan lain.
Ia rasa, ia harus lari dari sini, ia tidak ingin selalu berada di neraka ini, bisa-bisa ia mati gila karena si Park Tower itu. Ya Tuhan! Apalagi setelah kejadian sebelum ia jatuh tak sadarkan diri, saat... Akh! Sudahlah! Haesoo malas mengingatnya. Ia mencoba melupakan pikiran-pikiran itu dari otaknya.
Kaki mungilnya berjalan perlahan menuju pintu, takut-takut si Park Tower itu menangkap basahnya. Perlahan ia melangkah menuju gagang pintu dan... Dikunci?!
"Apa? Dia pikir aku ini binatang apa?! Hei!! Buka pintunya! Hei!!" Tak ada sautan. "Astaga! Aku bisa gila disini!" Teriaknya.
Haesoo duduk di dinding tepat samping pintu. Ia mengerucutkan bibirnya memikirkan bagaimana cara jitu agar ia bisa keluar dengan bebas dari rumah dan lelaki gila bernama Chanyeol. Matanya bergulir mencari jalan keluar, tapi tak ada jalan lain. Hingga ia menatap lamat jendela besar itu. Tunggu! Jendela! Ya, dia bisa lewat sana!
Haesoo melangkah mendekat ke jendela dengan perasaan suka cita. Tapi naas, jarak kamar dengan lantai begitu jauh. Wanita cantik itu rasa dia berada di lantai tertinggi di manssion si Park Tower itu. Dan, oh astaga! Ia bawah sana bahkan disediakan batu-batu kecil yang nampak cukup lancip dan keras.
Dia tidak ingin mati, tapi dia tidak ingin bertemu dengan manusia yang paling di bencinya. Tak ada pilihan lain selain mati, pikirnya.
Segera Haesoo membuka kait jendela dan membukanya lebar-lebar. Haesoo bersumpah ini sangat tinggi dan jauh! Ya Tuhan, ia tidak ingin mati konyol. Tapi...
Brak!
Gadis itu masih sibuk dengan pemikirannya hingga tak menyadari kunci pintu kamar yang di buka kasar hingga terdengar gemerincing yang cukup kencang. Chanyeol terkejut saat dilihatnya sebagian telapak kaki mungil Haesoo berada di ujung plat jendela. Napasnya tak beraturan dan berat.
Jika kalian bingung kenapa Chanyeol tau Haesoo ingin bunuh diri, jawabannya adalah kamar ini sudah di settingnya hingga terdapat banyak cctv tersembunyi dan beberapa penjaga yang mengawas. Ia rela tak tidur hanya untuk memantau keadaan gadisnya itu.
"Haesoo Kim!" Sentak lelaki tampan tersebut yang membuat gadis itu menegang ditempatnya. "Aku peringatkan kau untuk turun!"
Haesoo berbalik dan turun. Chanyeol bernapas lega, gadis yang penurut. Napas perlahan mulai normal. "Mendekatlah," Titahnya.
Haesoo terdiam sejenak sebelum bergerak, "Tidak." Langkahnya kembali mundur dan naik ke plat jendela yang membuat Chanyeol membelak.
"HAESOO KIM! KUPERINGATKAN KAU UNTUK TURUN DARI JENDELA SIALAN ITU!" Bentak Chanyeol dengan suara baritonnya hingga membuat Haesoo kembali menegang.
"Ti-tidak! Aku bukan bonekamu yang bisa kau perintah seenakmu!" Balasnya tak kalah keras. Air mata luruh dari pelupuk matanya.
Ya, dia buka manusia bodoh yang bisa si Park kejam itu suruh-suruh dan bentak. Ayahnya sendiri tidak pernah membentaknya.

KAMU SEDANG MEMBACA
POSSESSIVE I : Mine [COMPLETED]
Fanfiction[Series Phix-Lõv : I] ___________________ "Karena keposesifanmu itu membunuhku" Cast: -Park Chanyeol -Haesoo Kim (OC) -Byun Baekhyun -Oh Sehun -Kris Wu -Kim Jong In -others cast . . . Di cerita yang satu ini kalian akan merasakan perjuangan Chanyeo...