PART 18

1.3K 120 10
                                    

"Kau baik?"

Saat ini mereka telah sampai di Queenstown Airport. Ya, saat ini mereka berada di Selandia Baru, negara yang katanya paling aman di dunia. Dengan tindak kriminal yang kecil dan masyarakat yang ramah, namun tak menutup kemungkinan tindakan kriminal yang berat untuk tandang kemari. Dan kehadiran mereka nampak pula menodai kesucian negeri ini.

Detik ini, mereka berjalan bak rombongan pengantin dalam balutan jas hitam. Sang pengantin wanita di apit oleh 2 orang lelaki rupawan di kanan kirinya, sedang sang mempelai pria memimpin barisan di paling depan. Dirinya-Haesoo- bagai setangkai bunga di selubungi semak duri.

Melihat wajah gadis itu memucat, Luhan pun bertanya. "Soo, apa kau sakit?" Tanyanya dengan mimik serius.

Gadis itu menggeleng, "Tidak, Lu. Hanya jet lag." Sahutnya sembari memberi sentuhan pengertian.

Luhan menarik tangannya kembali walau nampak wajahnya khawatir, "Jika kau lelah atau pusing, katakan saja. Kita istirahat,"

Hwang Zi yang berada di samping gadis itu hanya melirik sekilas dari balik kacamata hitamnya. Penampilannya bak seorang model kelas atas dengan gaya ala-ala putra ningrat, ia berjalan penuh percaya diri. "Jika kau butuh apa-apa, katakan saja. Jangan jadi beban." Sarkas lelaki itu santai. Luhan membelak matanya dan menyubit pinggangnya.

Haesoo terkekeh getir, "I-iya."

Entah aura apa yang mereka pancarkan, namun setiap orang yang lewat pasti menunduk dan menepi--memberi mereka jalan. Sedang bagi mereka yang menghalangi jalannya, bersiaplah untuk didorong dan dimaki oleh komplotan pria berbaju formal tersebut.

Di ruang penjemputan, tak kalah banyak orang-orang yang berdiri menunggu kedatangan mereka. Jangan dipikir kekuatan mafia Dragon hanya ada di Asia, mereka telah menyebar hingga ke seluruh dunia. Dan jangan pikir kekuatan mereka akan selemah itu, mereka bahkan mampu bersaing dengan mafia-mafia besar lain di seluruh negara.

Saat mereka selesai mengambil koper dan lain-lain, mereka pun melenggang keluar. "Wu..." Sapa seorang lelaki asing dengan senyum hangat dan bungkukkan, namun hanya di balas tatapan dingin oleh Kris.

"Perjalananmu melelahkan? Apa kau ingin minum atau makan dahulu?" Lanjutnya.

Kris memutar bola matanya malas, "Tak usah basa-basi Hanbin-ssi, dimana mobil penjemputannya?" Ujarnya tanpa basa-basi lagi.

Lelaki tampan itu pun tersenyum, "Tanang saja tuan, mereka sudah menunggumu di depan."

Mendengar itu, Kris beserta rombongannya segera bergegas memasuki mobil penjemputan itu. Mereka melewati Vinth yang masih tersenyum lebar, namun seketika senyumannya berubah saat melihat sosok asing yang berada di tengah-tengah rombongan. Matanya terkunci pada sosok cantik yang jua menatapnya bingung hingga Tao menariknya agar berjalan lebih cepat.

"Bukankah dia..."

*

Kepulan asap membumbung tinggi, bak kabut yang menyelimuti pagi. Tak perduli sudah berapa batang ganja yang ia hisap, masih belum jua ia puas. Beberapa botol beer yang ia tenggak, masih kuat juga kesadarannya. Musik-musik yang di putarkan membuat gendang telinganya terasa pecah. Kepalanya mulai terasa berputar-putar.

Sang ajudan yang melihatnya begitu berantakan mulai prihatin. "Yeol, sudahlah, ini sudah 5 botol yang kau habiskan. Ini sudah pagi, besok kau ada pertemuan dengan kelompok Mafia Hellston di Amerika." Suho menarik botol bir yang langsung Chanyeol tenggak dari mulut botolnya.

Merasa emosi, Chanyeol mengambil kembali botol bening tersebut dan membantingnya asal hingga terdengar suara pecahan kaca yang dhasyat. Ditariknya kerah baju Suho dengan kuat sembari mebesarkan diameter bola matanya.

POSSESSIVE I : Mine [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang