PART 30

885 92 8
                                    

"Soo, kau sudah boleh pulang. Kita kembali ke Korea ya?"

Saat ini Kayona tengah merapikan pakaian Haesoo, sedang sang pemilik hanya diam duduk di depan jendela. Ia tengah memperhatikan seorang gadis cilik yang duduk sendiri di bangku taman. Gadis itu hanya duduk sambil memperhatikan keadaan sekitar. Kepala dan kakinya berbalut perban dengan luka goresan di wajahnya.

Tak lama datang seorang pria dewasa membawa balon untuknya. Lelaki itu duduk di sampingnya dan tersenyum, "Soo, ini balon untukmu." Ia memberikan balon itu pada gadis yang malang itu.

Nampaknya ia tengah mengenang masa lalunya dengan sang ayah. Dan gadis mungil yang malang itu mengingatkannya pada masa lalu yang menyedihkan. Ia begitu kecil saat kecelakaan itu terjadi. Bahkan ia tak ingat kapan pertama kali ia bertemu dengan lelaki tua itu. Semua kenangannya seakan sirna bersama dengan kepergiannya.

"Soo sudah merasa sehat, kan? Kita akan pulang hari ini. Apa kau senang?"

Tapi gadis kecil itu hanya melamun dengan wajah murung.

"Iya ayah, Soo mau." Haesoo dewasa menjawab dengan setitik airmata.

"Soo? Kau menangis?" Kayona berlutut di depannya. "Kenapa? Apa yang kau pikirkan?"

Bibirnya bergetar, "Ayah. Hiks!"

"Ah, kau rindu ayahmu ya? Saat kita pulang nanti, ayo, kita temui ayahmu. Dia pasti merindukanmu juga." Kayona menyelipkan anak rambut gadis itu yang menjuntai bebas dan menutupi wajah cantiknya.

Haesoo menggeleng dan menangis lebih keras, "Hiks! Hiks! Nana..." Ia memeluk tubuh Kayona erat.

"Sudah, sudah. Ini bukan salahmu, tenangkan dirimu." Ditepuknya punggung gadis itu lembut.

Ciet...

"Yon, semua sudah..." Perkataanmya terpotong saat melihat gadis itu menangis dalam pelukannya. "Dia kenapa? Apa yang terjadi?" Didekatinya kedua sosok itu.

"Ini, dia rindu ayahnya."

Sehun membuang napas lega, dipikir apa. "Soo, sudah jangan menangis. Kita akan kembali ke Korea, kau bisa menemuinya saat kembali kesana. Sudah, berhentilah menangis." Bujuknya.

Haesoo melepaskan pelukannya, namun beralih memeluk Sehun. "Shihun... Hiks!" Ia nampak seperti bocah yang menangis kepada ayahnya.

Sehun terkekeh gemas, "Aih, manjanya gadis ini." Diusapnya surai panjang gadis itu. "Sudah ya? Teman-teman sudah menunggu diluar."

Tak lama mereka keluar dengan barang-barang yang mereka bawa. Luhan dan lainnya sudah menunggu di depan dengan mobil menuju bandara. Sehun mendorong kursi rodanya sementara Kayona membawa kopernya.

"Soo, ayo kita pulang!" Seru Luhan dengan semangatnya sambil meninju langit.

Haesoo diam memperhatikannya lalu tersenyum samar saat melihat tingkah konyol temannya itu.

Sehun memukul kepala Luhan pelan, "Bodohnya dirimu. Dia jijik melihatmu." Ujarnya sambil berlalu.

"Apa-apaan kau?!" Sunggutnya tak terima, "Memangnya dia tidak menjijikan dengan mencari muka di depan Haesoo? Cih!" Gumamnya dan berjalan masuk ke mobil.

*

"Sedang perjalanan kemari? Oh, syukurlah. Semoga sampai kemari dengan selamat. Iya. Kututup ya teleponnya? Iya." Mina menutup telepon rumah dan berjalan mendekati Baekhyun di ruang tengah.

"Tuan," Sapanya dengan semangat.

Baekhyun menatapnya bingung, "Apa?" Sahutnya dan kembali menonton tv.

POSSESSIVE I : Mine [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang