PART 17

1.5K 132 11
                                    

"Hahh... Hah... Hah.... Shhhtt!"

"Oppa... Tangkap aku! "

Entah bagaimana, ia bisa berada di padang rumput yang rindang dengan suara gemercik air di sungai yang tenang nan jernih. Ratusan jangkrik yang bersaut-saut riang di atas dahan pohon. Kumbang-kumbang yang bergemilang diantara gelapnya malam, menitipkan kesan indah nan cantik di langit luas.

Suara tawa seorang gadis kecil yang terdengar begitu bahagia seakan bergaung di udara. "Oppaaaa!" Serunya yang seakan menggema, "Ahahaaaaa..... "

"Jihan?" Ia pun berlari, iya mencari keberadaan sosok sang adik.

"Hah... Hah... Jihan!"

"Oppa! Aku disini!" Gadis itu bersembunyi dibalik pohon besar dan berlari untuk bersembunyi lagi di pohon lain.

"Jihan! Tunggu!" Teriaknya memanggil gadis kecil itu. Nampak hati mulai gelap, bulan kian memancarkan cahayanya, bintang berpendar dilangit hitam.

Suara tawa riang si gadis kecil terus menggema, namun ia tidak menemukan sosoknya dimana pun. "Jihaaaaaan! Kau dimana?!"

Di rematnya rambut hitamnya kuat, ia begitu frustrasi dibuatnya.

Namun, tiba-tiba saja suasana berubah. Tak ada suara serangga malam, tak terdengar lagi tawa, tak ada lagi suara gemericik air. Yang ada hanya suara angin yang bersiul menyapu rambutnya lembut.

"OPPAAAAAA!" Tiba-tiba saja, terdengar suara gadis kecil yang berteriak.

"JIHAAAAAAAN!!!" Teriaknya.

Dan ia pun terbangun.

Mimpi buruk itu lagi. Ia menyisir rambut panjangnya ke belakang dengan wajah yang masih tegang. Tatapannya kosong sembari mengingat-ngingat kejadian buruk dalam mimpinya. Oh, itu sangat buruk.

Di raihnya segelas air mineral di atas meja nakas dan meminumnya hingga tandas. Ia pun melempar gelas kaca tersebut dengan kasar pada dinding dihadapannya hingga hancur berkeping-keping. "Aaaarrggghh!" Aumnya bak singa kelaparan.

"Brengsek kau Park Chanyeol! Kau menghancurkan keluargaku! Dasar kau brengsek!" Lanjutnya. Ia pun menendang-nendang selimut tebalnya dengan kuat.

Ini bukan pertama kalinya ia bermimpi buruk. Selama hidupnya, tidurnya tak pernah tenang. Trauma berat yang dialaminya sejak kecil, menumbuhkan jiwa lain dalam dirinya. Jiwa yang selalu menuntut balas dendam dan nyawa. Namun bak pepatah memeluk gunung tapi tangan tak sampai, dendamnya hingga saat ini belum tersampaikan jua.

Dulu, ia pernah hampir membunuh Chanyeol dengan membubuhkan racun paling ampuh untuk membunuh di dalam makanannya. Namun sayang, rencana kali ini gagal karena tiba-tiba saja ia pergi dan penjaganya lah yang menerima ganjarannya. Kemudian, ia juga pernah mencoba menembak lelaki tinggi itu, namun naas, usahanya kali itu dipergoki oleh penjaga tapi ia berhasil lari.

Bahkan kini, saat ia sudah menjadi seorang yang sama sepertinya, dirinya tetap tidak bisa membunuh si Phoenix brengsek itu.

Dan kini, hidupnya dia abdikan untuk membalaskan dendamnya kepada Park Chanyeol.

"Tunggu pembalasanku, Park Chanyeol!"

*

Haesoo memainkan kancing bajunya sembari bernyanyi. Sebuah perban kecil bertengger di keningnya, sementara tangan lembutnya di tutupi beberapa plester luka. Namun, ia masih bisa tersenyum dan menyanyi riang seakan semua ini tiada beban untuknya saat ini.

POSSESSIVE I : Mine [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang