PART 5

3.6K 246 10
                                    

"HIIIIAAAARRRRGGGHHH!!"

Kretek!

"WOOOOO! PHOENIX! PHOENIX! WOO!" Seru deru gerombolan si burung api.

"Siapa lagi yang berani melawan Phoenix?!" Chen dengan suara membahananya memprofokasi keadaan.

Mereka melihat takjub betapa ganasnya Phoenix menghancurkan mereka. Hancur yang hingga ke rusuk dan belikat mereka. Ini adalah balasan yang tepat untuk para bedebah yang berani memasuki kawasan suci Phoenix.

Sontak saja Chanyeol geram saat mata-mata musuh dengan kurang ajarnya memasuki teritorial kawasannya. Semua ini adalah tanda bukti bahwa ia tak akan tinggal diam saat musuh-musuh kurang ajar itu membobol masuk benteng pertahanannya.

Chanyeol mengusap kasar tetesan darah di wajah bak Dewa Yunani-nya. Lelaki raksasa itu terkekeh sinis, ia berjongkok tepat di depan jasad manusia yang bahkan tak pantas dikatakan sebagai manusia. Wajah tak lagi jelas rupanya, bentuk tubuh yang tak hancur, dan darah yang merembes dari segala sisi di tubuh tak berdayanya.

Ia menatapnya tanpa sedikitpun rasa jijik, "Kau tau? Kalian telah memilih tuan yang salah. Pemimpin bajinganmu itu, telah salah mengusik ketenanganku. Phoenix bukan lah lawan yang sebanding untuk kalian, dan kalian bukan tandinganku. Ingat itu, sampah!" Ujar Chanyeol penuh tekanan pada tiap bait kata-katanya.

Chanyeol bangkit, mata bulatnya memancarkan emosi yang menggebu-gebu berlalu lalang menghunus tiap pengikutnya. "Semuanya! Dengarkan aku baik-baik! Ini adalah peringatanku kepada mereka yang berkhianat, pendusta, penyusup, dan pemberontak. Aku tidak akan main-main dengan perkataan. Aku, Phoenix tak pernah ingkar janjinya. Bagi kalian yang berani melakukannya, kan kubunuh dia dengan tangan kakiku sendiri! Ingat itu!" Suara bassnya menggelegar hingga ke segala penjuru.

Chanyeol berlalu begitu saja setelah seluruh anak buahnya membungkuk hormat padanya.

Chanyeol keluar dari ruangan itu untuk melepas pakaiannya-jas, kemeja, dasi, dan sepatu-yang terciprat noda darah di ruang lain yang lebih tertutup. Otot-otot bisep berurat yang tak kalah menggoda dengan otot perut dan dada dengan keringat yang mengkilap. Tak lupa tato burung api besar di punggung lebarnya yang menjadi kebanggaan seluruh pasukan Phoenix. Jikalau ada kaum hawa di tempat ini, pasti Chanyeol telah diterkam oleh mereka.

Tapi jangan kira tubuh tegap itu mulus-mulus saja, nampak begitu jelas dengan mata telanjang betapa mengerikannya bekas-bekas luka tersebut. Ada luka sayatan pisau, sobekan pedang, luka tembak, dan banyak lagi. Tapi bagi Chanyeol bekas luka tersebut adalah kebanggaan dan bukti kejantanannya sebagai seorang pemimpin kelompok mafia  yang ditakuti se-Asia.

Chanyeol telah selesai berpakaian dengan setelan jas yang rapih dan bersih. Pakaian yang telah ternodai darah dihempaskannya begitu saja ke tanah, karena haram baginya memakai kembali pakaian-pakaian menjijikan itu.

Pemuda Korea-Rusia itu berjalan cepat menuju mobilnya untuk segera pulang. Entah kenapa ia ingin cepat-cepat pulang, padahal hari masih baru menjelang sore.  Tetapi ia merasakan ada perasaan yang membuatnya rindu rumah. Rindu rumah dengan kehangatan yang sempat hilang dulu.

Ia akui kini.

Ia rindu Haesoo.

*

"Wow! Kalian lihat tadi saat Phoenix memukuli tulang-tulang para bajingan itu hingga hancur sehancur-hancurnya mereka! Woah! Phoenix memang hebat!" Rancau Rapmon begitu exited dan bangga.

POSSESSIVE I : Mine [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang