"Bagaimana kalau kita bekerja sama?" Sasuke mencondongkan tubuhnya sedikit, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan.
"Kerja sama?" Naruto mengulang, bingung sekaligus waspada.
"Ya." Senyum Sasuke semakin melebar. "Kau membantuku mendapatkan kakakmu, dan aku akan membantumu mendapatkan hati kakakku." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada penuh keyakinan, "Aku yakin, dengan bantuanku, kau dan kakakku bisa menjadi pasangan."
Seringai itu membuat bulu kuduk Naruto meremang.
Naruto mengumpulkan seluruh tenaga yang dimilikinya dan mendorong Sasuke dengan sekuat tenaga. Tubuhnya mungkin kecil, tapi dorongannya cukup membuat Sasuke mundur sedikit.
"Aku tidak butuh kerjasamamu!" teriak Naruto, matanya menatap Sasuke penuh sinisme, menantang.
Sasuke menatapnya beberapa detik, alisnya sedikit terangkat, lalu suaranya terdengar dingin namun tenang. "Kenapa? Bukankah dengan begitu akan lebih mudah bagimu untuk mendapatkan hati kakakku, hm?"
"Iya, lebih mudah!" Naruto membentak, suaranya meningkat seiring amarah yang memuncak. "Tapi itu hanya cara pengecut untuk mendapatkan hati seseorang! Dan seingatku, aku bukan pengecut!"
Sasuke menatapnya dalam-dalam, diam sesaat, lalu menarik napas panjang. "Terserah jika kau tidak ingin aku bantu. Tapi aku ingin kau membantu aku!" Suaranya tegas, to the point, tanpa ada sedikit pun keraguan.
"Tidak mau!" tegas Naruto, nada suaranya mutlak, menutup pintu negosiasi sama sekali.
"Tidak mau? Yakin?" Sasuke mencondongkan tubuh sedikit, tatapannya menyipit, sinis, hampir seperti menantang.
"Iya!" Naruto menjawab mantap, menegaskan keputusan yang tak bisa digoyahkan, jantungnya berdebar kencang tapi tekadnya lebih kuat daripada rasa takut atau cemas.
"Terserah jika kau merasa terlalu suci untuk dibantu," ujar Sasuke dingin, tanpa sedikit pun basa-basi. Suaranya tenang, tapi setiap kata seperti ditaburi racun. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu; aku tetap ingin kau membantuku mendapatkan kakakmu."
"Nggak mau!" potong Naruto dengan tegas, suaranya bergetar sedikit karena marah dan keberanian. "Aku tidak akan menjual Nii-chan demi ambisi anehmu!"
Sasuke tidak meledak. Ia menipiskan bibirnya menjadi senyum sinis—sebuah senyum yang begitu mengintimidasi hingga membuat udara di sekitar mereka seolah menebal. Ia melangkah selangkah lebih dekat, bayangannya menjulur, menutupi tubuh Naruto yang kecil itu.
"Tidak mau? Kau yakin?" Suaranya rendah, lembut tapi sarat ancaman tersembunyi. Mata hitamnya menyipit, meneliti setiap inci keraguan yang mungkin muncul di wajah Naruto.
Naruto menatap balik, menahan napas sebentar sebelum menegakkan dagu, menantang tatapan gelap itu dengan mata birunya yang berkilat mantap. "Iya! Seribu kali kau tanya, jawabanku tetap tidak!"
Sasuke mengerutkan alisnya, menunduk sedikit seolah menilai tekad itu. "Yakin tidak mau?" ulangnya, lebih dalam, lebih menekan.
Naruto hanya mengangguk kencang, tak bergeming sedikit pun.
"Baiklah, terserah!" Sasuke mundur selangkah, tapi senyum sinis itu tetap menempel di wajahnya. "Tapi jangan salahkan aku kalau setelah ini, saat kau bertemu Itachi, ia akan memandangmu dengan jijik." Ucapan itu seperti pisau, dikirim dengan seringai penuh ancaman.
Naruto memiringkan kepala, alisnya berkerut. Matanya berkilat menahan kemarahan sekaligus kebingungan. Apa maksud ayam ini? pikirnya.
"Jangan pura-pura lupa!" Sasuke menyeringai, wajahnya berubah menjadi licik seperti ular yang mengintai mangsanya. "Bukankah baru kemarin kau... mengendus-endus bantal Itachi dengan... sangat, sangat... saaaangaaatt bernafsu? Hm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dwarf in Love (SasuNaru)
FanficWARNING ! SasuNaru. Yaoi. Alternative Story. Rate : Teen s/d Mature Character belong to © Masashi Kishimoto Story Suatu hari hiduplah seorang kurcaci kecil yang tersesat di dalam hutan, dia sendirian di dalam hutan gelap ini, ia berharap ada seorang...
