21 :: Matter

1.2K 120 16
                                        

Cowok berambut coklat duduk pada kursi yang ada di kamarnya menghadap ke luar.

Menatap bulir-bulir air hujan yang perlahan turun melewati jendela kamar.

Ia sudah mengganti seragamnya yang basah kuyup karena kehujanan tadi.

Tepatnya, karena ia bermain hujan.

Cowok itu menekuk kedua lututnya ke atas, kedua tangannya sesekali mengarahkan secangkir coklat hangat ke mulut.

Vano menatap lurus ke luar jendela yang sampai sekarang hujan masih belum ingin berhenti.

Matanya seperti menerawang jauh.

Ia sangat yakin jika orang itu yang selama ini dicarinya.

Orang yang pernah pergi dari hidupnya dan sekarang Tuhan mempertemukan keduanya kembali.

Namun, Vano masih merasakan keraguan pada dirinya.

Ia takut jika gadis itu tidak mengingatnya dan melupakan semua kebahagiaan yang pernah mereka lakukan.

Seketika ingatan cowok itu kembali pada kejadian sembilan tahun yang lalu.

Saat itu Vano duduk pada sebuah ayunan yang ada di taman.

Di sampingnya seorang gadis dengan rambut yang dikucir ke belakang menundukkan kepala, menatap kakinya yang berayun.

Gadis itu mendongakkan kepalanya bersamaan dengan jatuhnya tetes hujan.

Wajahnya tampak tersenyum manis namun, senyum di wajahnya memudar saat Vano menarik lengan gadis itu, mengajaknya berteduh.

Gadis itu menyentak tangan Vano, "Lepasin."

Vano melepaskan genggaman tangannya, "Ayo, neduh jangan hujan-hujanan."

Gadis itu menggeleng cepat, "Gak mau, aku mau nikmatin hujan."

Tetesan hujan dengan sekejap berubah menjadi guyuran deras.

Vano hanya memperhatikan gadis yang kini sedang bermain hujan dari tempatnya berteduh.

Gadis itu tanpa sengaja memperhatikan Vano yang sedari tadi menatapnya, ia berjalan menghampiri cowok yang kini berteduh.

"Kamu kenapa? Gak suka hujan ya?" teriak gadis itu agar suaranya terdengar jelas.

"Hujan bikin sakit," Vano berteriak tak kalah keras.

"Hujan gak bikin sakit," gadis itu menarik tangan Vano, "ayo!"

Vano yang tidak menyangka gadis itu akan menariknya hanya menghela napas dan kini semua pakaian cowok itu sudah basah kuyup.

"Kamu pasti bakal suka hujan." Ucap gadis bermata abu itu.

"Aku emang suka hujan, tapi aku gak suka hujan-hujanan." Vano mengusap wajahnya yang terkena air hujan.

"Terus kenapa kamu suka hujan kalau gak suka hujan-hujanan?" tanya gadis itu heran.

"Karena kita gak butuh alasan buat suka sama sesuatu." ucap Vano dengan senyum tipis terukir di wajahnya.

Vano menghela napas pelan, bersamaan dengan seseorang yang menggetuk pintu kamar, membuyarkan lamunan cowok itu.

Ia meletakkan cangkir berwarna putih itu pada meja di dekatnya.

"Masuk," ucap Vano tetap menatap keluar.

Wanita paruh baya itu masih terlihat cantik, masuk ke dalam kamar Vano dengan lengkungan di bibirnya.

"Vano," panggil Renata yang berjalan ke arah cowok yang bergeming di tempatnya.

Vanolive [ NEW VERSION ] HIATUSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang